Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juli 2017

Benteng Astral bagian satu

Benteng Astral bagian satu
"Sadarkah kalian bahwa belum ada manusia lain yang pernah melakukan apa yang akan kita laksanakan ini?" Tom Swift, berpaling dari papan pengontrol ruang angkasanya, Exedra, kepada teman-temannya. 

  Para awak memandangi dia dengan tegang. Masing-masing tahu, bahwa mereka akan menghadapi suatu bahaya yang belum mereka ketahui, walau mereka menaruh kepercayaan besar kepada
ahli penemu muda itu. 


  "Aku tahu, kita telah berhasil menggunakan alat stardrive untuk meloncat dari tatasurya Bumi ke susunan Alpha Centauri melalui ruang angkasa luar," Tom menjelaskan. "Tetapi untuk kembali ke bumi, mungkin akan berbeda!" 


  "Aku tak melihat perbedaannya," kata Kate Reiko One Star. Gadis Indian cantik jangkung, dengan mata agak sipit sebagai warisan ibunya yang berbangsa Jepang, membetulkan letak duduknya. "Memang, aku bukan ilmuwan seperti kalian. Tetapi bukankah meloncat menembus batas ruang itu, hanyalah menembus batas ruang?" 


  "Tidak persis begitu," kata sepupunya, Benyamin Franklin Walking Eagle. "Harap kauketahui, kita telah menguji alat stardrive dengan awalan kondisi tatasurya kita sendiri. Tetapi kondisi tatasurya di Skree berbeda. Sesuatu yang berhasil di tempat tertentu, belum tentu akan berhasil di tempat lain." 


  "Tetapi di lain pihak, kita memperoleh saran-saran ahli dari bangsa yang pertama kali menemukan alat stardrive itu, yaitu bangsa Skree sendiri," sambung Tom. 


  Semua menoleh ke makhluk asing, yang akan merupakan makhluk luar Bumi pertama yang mendarat di Bumi. Itu semua, kalau loncatan menembus batas ruang angkasa luar itu berhasil!   Mok N'Ghai, seorang perwira ketentaraan Skree, yang juga teman pribadi keluarga Kerajaan, bentuk tubuhnya seperti serangga raksasa setinggi dua meter lebih. Tetapi semua yang ada di pesawat itu mengagumi kecerdasan dan keanggunannya. Bertempur bersama pasukan Skree melawan musuh bangsa Chutan, telah meyakinkan mereka bahwa bentuk tubuh tidaklah terlalu penting. Makhluk asing yang sedang membetulkan letak duduknya itu hanya mengangguk. 


  "Tom! Perhitungan terakhir telah diperiksa tiga kali. Semua sistem beres." Aristotle, robot buatan dan kesayangan Tom memutar kepalanya seratus delapanpuluh derajat. Mata kameranya berkilat di wajah Tom. "Biarpun aku secara teknis tak punya suara dalam hal ini, aku harus mengatakan: setuju atas pendapat umum. Aku ingin sekali kembali ke tempat aku dilahirkan….eh…dibuat!" 


  Semuanya tertawa, dan Ben meletakkan tangannya pada terminal komputer. "Kita telah melaksanakan persiapan awal," katanya. "Belum pernah kita melakukan persiapan seperti sekarang ini!" 


  Tom berpaling kepada salah seorang awak yang sampai kini belum ikut berbicara. "Anita! Apakah engkau setuju?" ia bertanya. 


  Mata indah dari si rambut merah bersinar penuh gairah. "Sudah tentu! Tunggu apa lagi?" 


  "Oke, Ben," kata Tom kepada co-pilotnya. "Mulailah hitungan untuk pelaksanaan star drive!” 


  Ahli teknik komputer muda itu melepaskan sebuah handel hitam kecil. Semua orang bersandar pada kursi berlapis masing-masing sambil menahan napas. 


  "Tigapuluh detik menjelang loncatan menembus batas angkasa luar," terdengar dari sistem peringatan otomatis. 


"Duapuluhsembilan… duapuluhdelapan…duapuluhtujuh…" 


  Tom tersenyum kepada Ben sambil mengacungkan ibu jarinya ke atas. 


  Ben membalas senyuman itu, tetapi tak kuasa menahan timbulnya keringat di atas bibir atasnya. 


  "Limabelas detik ... empatbelas tigabelas….duabelas…" Suara itu mendengung terus dengan nada datar. 


  Seribu satu pikiran muncul di benak Tom. Sebagai kapten dari Exedra, ia bukan saja harus bertanggungjawab atas kapal ruang angkasa itu, tetapi juga atas mati-hidup para awaknya! Bagaimana kalau perhitungan mereka salah? Kesalahan yang terkecil pun dapat berarti, bahwa mereka tak akan sampai di tatasurya Bumi! Bisa saja itu berarti, bahwa mereka akan tiba di salah satu bagian ruang angkasa luar yang sedemikian jauhnya dari bumi, hingga tak mungkin lagi menentukan arah pulang ke Bumi. Mereka akan hilang untuk selama-lamanya; tak dapat berhubungan dengan saudara dan teman-teman. 


"Sudahlah!" ia berpikir tegas. "Berkonsentrasi! Siaplah menghadapi gaya gravitasi yang akan menghimpit dan memeras segala napas dari tubuh!" 


  "Lima detik..empat…tiga..dua…satu. Masuk stardrive! " 


  Tiba-tiba Tom merasakan tekanan yang makin tak tertahankan di belakang matanya yang tertutup rapat. Bagaikan hendak gila rasanya! Ia memaksakan diri untuk membuka matanya, dan mengamati angka-angka di layar papan pengontrol. Tak ada gunanya mempelajari indikator-indikator yang berubah demikian cepatnya! Demikian memasuki ruang angkasa bergravitasi nol, Instrumen-instrumen kapal ruang angkasa itu seperti sudah menjadi gila! Tom menghitung detik-detik yang berlalu itu dengan diam-diam, dan berusaha keras untuk tetap sadar. Meloncat menembus batas ruang angkasa luar adalah seperti gambaran pada film negatif. Semuanya serba terbalik. Hitam menjadi putih, atas menjadi bawah, dan segala-galanya bergerak, meloncat sedemikian cepatnya, hingga tak mungkin melakukan pengukuran-pengukuran. Semuanya seperti diputarbalikkan. 


  Tubuh Tom terasa sakit-sakit, telinganya mendenging. Ia berjuang keras untuk tidak menjadi mabok. 


Tepat pada saat ia hendak jatuh pingsan tiba-tiba segalanya telah berlalu! Rasa sakit dan mual lenyap seketika. Apa-apa yang ada di sekelilingnya mulai dikenalinya kembali. 


  "Sudah sampai!" seru Ben. Ia segera mulai mengerjakan kunci-kunci komputernya. "Aku hendak memeriksa, untuk mengetahui di mana kita sekarang." 


  "Wow! Kukira aku tak mungkin dapat membiasakan diri pada pengalaman ini!" kata Kate. 


  "Aku juga tidak," Anita mengiakan. Ia mengibaskan rambutnya yang merah panjang. Tetapi tentu saja aku gembira telah berhasil!" 


  Tom memeriksa apa yang nampak pada layar di depannya. 

"Kita masih ada di luar gugusan asteroid." Ia tertawa. "Kubilang, kita belum sampai tujuan!" 

  "Tetapi alat-alat navigasi telah terpadu pada Matahari," kata Ben. "Kalau semuanya normal, kita akan sampai di rumah sebelum kita menyadarinya." 


  "Engkau mengatakan Matahari?" tanya Anita. "Apakah engkau tak dapat membiasakan diri untuk mengatakan Matahari Kita atau Sol? Kata Matahari seolah-olah menunjukkan hanya ada satu Matahari di ruang angkasa. Kita kan baru saja kembali dari rasi bintang lain yang juga mempunyai Matahari-matahari sendiri? Di mana ada makhluk-makhluk cerdas lain yang juga mengitari Matahari-matahari tersebut? Kita harus mulai menyebut segalanya secara lebih terperinci menurut sebutannya yang tepat!" 


Si rambut merah melepaskan topi pilotnya, lalu menggeliat meregangkan tubuhnya. Pesawat Exedra terlalu kecil untuk dilengkapi alat gravitasi buatan. Karena itu, gerakan-gerakan tersebut menyebabkan si rambut merah mental melayang ke luar dari kursi berlapisnya. Karena Anita memang ahli terjun bebas, ia tak suka memakai scpatu pemberat atau sepatu magnetik di dalam pesawat. Sebaliknya, kini ia melingkarkan tubuhnya meringkuk seperti bola untuk dapat mengendalikan dirinya. Kemudian ia meluruskan tubuhnya sambil meraih batang pegangan pada dinding pesawat. 


  Ben mengamati sambil tersenyum. "Engkau memang tidak sederhana dan rumit seperti kemauanmu! Aku hanya seorang anak kota kecil. Hampir tak sabar lagi untuk bertemu keluarga, duduk di meja makan menikmati masakan ibu!" Ia memandang ke arah Mok N'Ghai dan wajahnya menjadi merah. "Itu bukan berarti, bahwa makanan di planetmu Kosanth tidak enak masakannya, lho!" ia cepat-cepat menyambung. 


  Tom melirik ke prajurit bangsa Skree itu. Makhluk Skree yang cerdas itu bentuk tubuhnya seperti seekor belalang sembah setinggi dua meter lebih, adalah sesuatu yang pada akhirnya harus mereka biasakan. Setidak-tidaknya, hampir terbiasa! Mungkin tak ada manusia yang benar-benar terbiasa pada makhluk setengah serangga yang jangkung dan cerdas serta menarik. Rasa xenophobia yang mula-mula menghinggapi diri sewaktu Tom bertemu makhluk Skree tersebut, semakin berkurang setelah mengalami petualangan-petualangan bersama Mok N'Ghai. 


  "Aku dapat memaklumi perasaanmu, Ben," kata prajurit Skree itu. Ia menggerak-gerakkan rahangnya yang menandakan rasa senang. "Aku pernah terdampar beberapa jam pada sebuah planet kecil tak terkenal, sewaktu pesawat shuttleku mengalami kerusakan. Makanan yang tersedia pada waktu itu ternyata makanan kegemaran di planet tersebut. Penduduk asli menyebutnya "lapchis" kukira. Sayang sekali, bagiku rasanya seperti tanah liat dicampur minyak pelumas! Betul,
makanan itu memang tak berbahaya, dan aku juga makan sedikit demi kesopanan. Tetapi bagaimana pun aku senang sekali ketika tiba kembali di pesawat induk!" 


  Semua tertawa, dan Mok N'Ghai meneruskan eeritanya. "Aku segera memesan seporsi sayur-sayuran kegemaranku, dan makan seperti orang yang kelaparan setelah beberapa hari tidak makan!"


Makhluk asing itu menggunakan alat TTU (eTcacher-Translator Unit)

yang langsung menterjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Skree. Yang menemukan alat tersebut adalah Tom, dan telah memecahkan masalah bahasa yang mereka hadapi dalam penjelajahan mereka di ruang angkasa luar. Mcreka menggunakan alat tersebut untuk berkomunikasi dengan makhluk Skree itu, dan hasilnya sangat memuaskan. 


  Keistimewaan dari alat itu ialah kegunaannya yang ganda. Dalam proses penterjemahan sekaligus menafsirkan apa saja yang dikatakan ke dalam alat tersebut ke bahasa si pemakai. Tetapi alat itu
juga memberi cara belajar, untuk mengajar pemakainya tentang lafal yang belum dikenalnya dengan cara yang cepat. Mok N'Ghai memang mengerti bahasa Inggris meskipun lafal aslinya sangat jelas.


  Makhluk asing itu berkata perlahan-lahan agar dapat mengucapkannya dengan benar. Tom memuji kemajuannya yang pesat. Struktur dari wajah dan rahang bangsa Skree memang dimaksudkan untuk mengucapkan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa-bahasa yang ada di Bumi. 


  Tom sendiri harus berusaha keras untuk dapat berbahasa Skree. Ia dapat berbicara dengan kalimat-kalimat sederhana, dan berusaha keras untuk menambah perbendaharaan kata-katanya. Hal itu tidak
sesulit belajar bahasa Inggris. Tetapi Tom juga menghadapi kesulitan seperti yang juga dihadapi oleh Mok N'Ghai. Ia pernah mengatakan kepada Ben: "Seperti harus berbicara sambil minum, atau menirukan tekur burung dara!" 


Perhatian Tom terarah pada Mok N'Ghai, yang sedang sibuk dengan kaitan tali helmnya. Helm itu memang dibuat untuk tangan manusia yang lebih cekatan daripada jari-jari makhluk Skree yang besar-besar. 

  Kate One Star menjangkaunya, dan dengan trampil membantunya. Melihat semuanya itu,membuat Tom berpikir: "Kalau tamu-tamu luar Bumi mulai berdatangan, banyak barang-barang sehari-hari di Bumi harus dirubah atau disesuaikan lagi!" "Maksudmu, seperti yang dilakukan oleh Amerika pada abad keduapuluh dulu? Ketika mereka mulai membangun jalur landai dan memasang telepon yang lebih rendah bagi para penderita cacad yang berkursi roda?" tanya Anita. 


  "Rupa-rupanya Swift Enterprises sudah mulai merencanakan segala perubahan-perubahan teknis ilu!" sambung Ben menggoda.   "Kita juga harus lebih toleran dan menyesuaikan diri, bila ingin mengunjungi mereka!" Tom menangkis. 


  "Kukira istilah yang paling tepat ialah pan-gallactic," kata Aristotle. 


  Sementara Tom mengamati alat-alat pengendali di depannya, ia juga memikirkan hari-hari mendatang. Manusia adalah salah satu bentuk dari makhluk cerdas yang selalu ada di semua tatasurya. Mungkin ada beberapa yang lebih cerdas, tetapi ada pula beberapa yang kurang. Namun mereka itu adalah bentuk "masyarakat", biar bagaimana pun bentuknya aneh bila dibanding dengan bentuk tubuh manusia Bumi. Kecerdasan adalah suatu ikatan umum antara bangsa-bangsa dan ruang. Buktinya adalah Mok N'Ghai dan makhluk-makhluk lain yang menjadi teman selama mereka menjelajahi ruang angkasa. 


  Tiba-tiba Aristotle memutar tubuhnya dan berkata kepada Tom. "Maaf, aku telah menerima isyarat-isyarat yang sangat mengganggu di layar navigasi. Lebih baik engkau melihatnya sendiri." 


  "Asteroid-asteroid?" 


  "Bukan. Mereka terlalu cepat bergerak dan terlalu…" Robot itu berhenti sejenak untuk menemukan kata-kata yang lebih tepat. "Dan terlalu sengaja menuju ke arah kita." 


  "Sengaja?" tanya Ben. 


  "Ya," jawab Aristotle tegas. "Tetapi komputer utama Exedra tak pernah membuat kesalahan, tidak seperti aku." 


  Tom menaikkan alisnya, tetapi tak berkata apa-apa. Rasa rendah diri Aristotle berakar entah di mana di dalam sirkuit-sirkuitnya yang rumit. Ahli penemu muda itu telah berusaha keras untuk menemukan kekurangan-kekurangan di dalam tubuh robot kesayangannya, tetapi tanpa hasil. 


  "Tangkap pada layar utama! Filter matahari maksimum!" Tom memerintah. 


  Pembicaraan-pembicaraan di anjungan terhenti, sementara semua pandangan mau pun alat-alat sensor terpaku pada sepuluh buah noktah-noktah berpijar yang nampak bergerak pada layar utama.   "Itu adalah kapal-kapal angkasa dalam formasi tempur!" seru Kate One Star. 


  "Dan mereka menuju tepat ke arah kita! Bergerak dengan kecepatan luar biasa!" kata Ben dengan geram.

Senin, 03 Juli 2017

Kota Luar Angkasa (Bagian Tujuh)

http://www.bookcyrcle.com
Layar di tembok berbunyi.
Tom meletakkan alat pembaca videotape yang mempertunjukkan suatu halaman dari: Stress Analysis Factors in Metallic Substances  Formed in Gravitationless Environments (= Faktor-faktor Analisis Tegangan pada Unsur-unsur Logam Yang Terbentuk dalam Lingkungan Tanpa Gravitasi). Ia lalu memungut remote control video-radionya. Layar yang besar segera berkedip-kedip, menampakkan gambar wajah Benyamin Franklin Walking Eagle yang sangat besar. "Halo, Ben!" sambut Tom. 

Pemuda berambut hitam itu tertawa. "Haa! Suaramu terdengar bergairah!"
Tom tersenyum kecut dan mengangguk. 

"Aku kira, engkau telah terlalu mengurung diri di sana karena menjadi
detektif ilmu!" 

"Aku hanya hendak mengetahui apanya yang salah," jawab Tom. 

"Gremlins

" kata Ben berwibawa, "mereka bermigrasi ke ruang angkasa kira-kira bersamaan dengan kami." Senyumannya memudar. 

"He, dengar! Kau harus keluar. Paling tidak untuk sejenak. Pernah kau main bola tangan dalam gravitasi nol?"

Layar di tembok berbunyi.
Tom meletakkan alat pembaca videotape yang mempertunjukkan suatu halaman dari: Stress Analysis Factors in Metallic Substances Formed in Gravitationless Environments (= Faktor-faktor Analisis Tegangan pada Unsur-unsur Logam Yang Terbentuk dalam Lingkungan Tanpa Gravitasi). Ia lalu memungut remote control video-radionya. Layar yang besar segera berkedip-kedip, menampakkan gambar wajah Benyamin Franklin Walking Eagle yang sangat besar. 

"Halo, Ben!" sambut Tom. 

Pemuda berambut hitam itu tertawa. "Haa! Suaramu terdengar bergairah!"
Tom tersenyum kecut dan mengangguk. 

"Aku kira, engkau telah terlalu mengurung diri di sana karena menjadi
detektif ilmu!" 

"Aku hanya hendak mengetahui apanya yang salah," jawab Tom.
"Gremlins

" kata Ben berwibawa, "mereka bermigrasi ke ruang angkasa kira-kira bersamaan dengan kami." Senyumannya memudar. 

"He, dengar! Kau harus keluar. Paling tidak untuk sejenak. Pernah kau
main bola tangan dalam gravitasi nol?"
                                                          

 Sosok monster pengacau dalam sebuah film horror amerika berjudul: Gremlins
"Belum!" 

Tiba-tiba saja timbul gagasan untuk melakukan sedikit olahraga.
Meskipun ia bukan seorang olahragawan yang fanatik, tetapi ia
menggemarinya. 

"Engkau mengajakku?" tanya Tom. 

"Ya, tentu. Kita bertemu di terminal sepeda udara. Itu di ujung
selatan!" 

"Duapuluh menit lagi?"
"Oke!" 

Ben melambaikan tangannya. Layar memudar menjadi coklat kehijauan. Tom melintas kamar tamu sambil membuka baju. Ia masuk ke dalam kamar mandi elektronik dan menekan tombol. Enambelas buah kerucut-kerucut kecil membersihkan tubuhnya yang atletis itu dengan gelombang-gelombang yang tidak terdengar. Semua unsur-unsur asing yang menempel pada tubuhnya diberi muatan negatif, dan seketika itu pula berlompatan ditarik oleh jalur-jalur bermuatan positif yang terdapat pada dinding-dinding kamar mandi. Segera iamerasakan badannya bersih dan segar. 

"Memang bukan seperti mandi air panas," pikir Tom, "tetapi yang
jelas sangat menghemat air dan tenaga." 

Ia mematikan alat tersebut. Lalu ia keluar dan masuk ke kamar ganti pakaian mengenakan jumpsuit warna putih. Ia memakai sepatu yang telah usang, tetapi enak dipakainya. Segera ia meninggalkan kamar tidurnya. 

Gedung-gedung yang seperti barak terletak tidak jauh dari tempat trem, yang dengan teratur berjalan mengelilingi bagian sisi dalam koloni. Ini segera melompat naik. Tangannya berpegangan ketika kendaraan itu mendengung di sepanjang "jalan besar" dari ujung yang satu ke ujung yang lain koloni tersebut. 

Seseorang yang duduk di dekatnya sedang membaca koran. Tom dapat melihat beberapa gambar foto Queen Victoria, yaitu sebuah istana terapung, pabrik dan penangkap ikan di Samodra Indonesia. Dengan ukuran keliling yang dua per tiga kilometer, bangunan itu
mengangguk-angguk anggun di lautan hampir kebal terhadap ombak. 

Layar memperlihatkan di bawah kapal itu ada kapal-kapal yang berbentuk seperti kapal ruang angkasa yang menggiring ikan-ikan dengan alat-alat sonik. Dan lebih dalam lagi terdapat robot-robot yang menambang bijih logam dari dasar laut. Sementara robot-robot lain sedang membangun sebuah "kepompong plastik" di sekeliling sebuah kapal dari abad tujuhbelas, yang kemudian akan diangkat ke atas. 

Kemudian pembaca berita itu berpindah ke sebuah laporan tentang munculnya kembali balapan mobil berkecepatan tinggi, dan juga tentang efisiensi mesin-mesin turbin. Perhatian Tom jadi buyar. Ia memandangi pemandangan koloni yang sedang dilewati.
"Di sinilah terletak hari kemudian," pikir Tom. "Di sini dan di Sunflower dan di atas kapal Daniel Boone." 

Ruang angkasa merupakan daerah perbatasan akhir, dan ia ingin menjadi bagian dari perbatasan tersebut. Tetapi awalannya. ternyata buruk. Itu akan menjadi semakin buruk apabila ia tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang telah terjadi, untuk kemudian memperbaikinya. 

Tom melompat turun dari trem. Ia lalu menaiki tangga dengan cepat,keadaan gravitasi makin turun setiap naik satu anak tangga. Sangat menggembirakan untuk dia karena belum terbiasa  dengan hal itu. 

Ketikaa kakinya sudah tidak menginjak lantai dengan sebenarnya, ia mendorong tubuhnya meluncur dengan menggunakan tiang-tiang tangga sebagai awalan. 

Ia berhenti sejenak, mengambil napas dan memandangi lagi bagian New America yang ada di atasnya. Di sini bukan Bumi, dan sangat mengharukan, bahwa mereka dengan nyata-nyata menirunya. Bukit-bukit kasar di setiap ujung, sungai-sungai, danau-danau, taman-taman dan jalan-jalan raya. Sebuah Bumi tiruan, diberi pola dan dirawat. 

Tidak ada ular yang harus dilempar keluar dari taman firdaus, dan tak seekor pun dibiarkan masuk. Demikian juga serangga yang mengganggu atau merugikan. Lebah? Ya, demi untuk penyerbukan bunga-bunga. Cacing tanah dan beberapa jenis bakteri yang membuat batuan Bulan yang steril itu menjadi subur. Burung-burung dan musuhnya, kucing. Kucing memang banyak, tetapi anjing hanya satu-dua ekor. Beberapa kura-kura peliharaan, beberapa jenis keong dan seekor kera berlengan panjang, dan kacoa! 

Tom menyeringai. Kacoa di ruang angkasa. Gagasan itu sebenarnya tidak dapat diterima. Tetapi kenyataannya ada kacoa di New America. 

Serangga itu memang selalu bersama manusia sejak zaman purba. 

Serangga itu ditemukan di Kutub Selatan, di Gurun Gobi, di hutan belantara dan di gunung-gunung yang tertinggi. Bahkan ke ruang angkasa yang beku dan di kehampaan yang mematikan, kacoa telah pula mengikuti manusia. Ke mana pun perginya….. 

Tidak ada satu pun cara pembasmian yang mampu menghilangkan hewan pengganggu itu. Bahkan untuk menangkap hewan itu dilombakan dengan disediakan "hadiah". (Serangga itu ditangkap untuk memberi makan laba-laba di dalam laboratorium percobaan, atau diawetkan ke dalam gumpalan plastik dan dijual sebagai souvenir). 

Tom mengangkat bahu. Ia mulai lagi mendaki dan mendorong tubuhnya maju. Hal itu kini dirasakannya sebagai pekerjaan yang biasa. Ia telah tiba di geladak tempat sepeda udara, dan saat itu pula melihat Ben Eagle berdiri dan bercakap-cakap dengan dua orang.
Tetapi ketika Tom sudah lebih dekat lagi, ia mengetahui bahwa Ben sedang berdebat. Lawan berdebatnya itu ternyata si rambut merah Anita Thorwald yang tak tetap pendiriannya. Mereka berhenti ketika Tom mendekat dengan lompatan-lompatannya yang lebar. Tom salah memperhitungkan kecepatannya, dan Ben harus menangkapnya sebelum Tom menabrak tempat sandaran sepeda udara. 

"Waduh!" seru Ben tertawa, dan Tom meminta maaf. 

"Maaf. 'Berenang' dalam gravitasi nol ini belum juga terbiasa bagiku."
Anita mendengus, berpegangan sedikit pada sebatang tiang. "Ha,
engkau menyelonong seperti kebiasaanmu, ya? Menabrak-nabrak
seenaknya ya Swift?" 

Tom menahan diri, tidak mempedulikan. "Aku Tom Swift," ia memperkenalkan diri kepada teman Anita. 

"Mark Scott," balas pemuda itu. Tubuhnya sedikit kegemukan dengan dada yang bulat. Tetapi ia tersenyum ramah. 

"Kukira engkau telah kenal Anita Thorwald," kata Ben tersenyum tipis. "Salah seorang penganjur yang banyak membicarakan ruang angkasa bagi para Ruang-angkasawan." 

Si rambut merah menatap Ben dengan matanya yang lebar. Pemuda Indian itu membawa Tom ke tiang yang akan membawa mereka dari geladak ke sebuah kubah geodesik pada titik tengah sumbu membujur, di mana gravitasi adalah paling rendah. 

"Aku sudah pesan tempat bagi kita untuk satu jam," kata Ben. "Tetapi kita harus menunggu beberapa menit dulu. Sambil memberi kesempatan bagimu untuk melihat bagaimana harus melakukannya." 

"Ha, maksudmu Swift tidak langsung masuk dan mulai pertandingan bola tangan?" Anita menggerutu. 

Ben membawa Tom pada sebuah jendela dari jembatan tangga yang mengelilingi ruangan yang bulat itu. Jembatan-jembatan tangga itu terbuat dari batang-batang logam yang ringan, yang dipasang silang menyilang di seluruh permukaan luar ruangan berbentuk bola itu. Jendela-jendela berbentuk segitiga terpasang ke dalam pola, dengan cara saling menutup batang-batang penguat. 

Di dalam, Tom melihat sebuah regu empat orang yang sedang bermain dengan giat. Seluruh permukaan bagian dalam bulatan itu licin rata, hanya diseling-seling oleh jendela-jendela segitiga tersebut. 

Seluruhnya dibagi menjadi blok-blok yang dicat dengan warna hijau, biru, kuning dan hitam. Sebuah garis tebal membagi dua ruangan bulat  itu menjadi dua buah setengah bulatan. Para pemain yang mengenakan jumper ketat melompat-lompat dan berlari-lari melintasi garis tersebut. 

Olahraga itu sangat menarik, memungkinkan para pemainnya melakukan gerak-gerak yang rumit-rumit, yang tak tertandingi oleh para pemain yang paling top profesional yang masih terikat oleh gravitasi Bumi. 

"Ben menunjuk: "Blok yang hitam itu adalah batas luar. Di bagian bawah setiap blok itu terdapat permadani sensor elektronik, hingga tak ada masalah lagi untuk menyebutkan setiap tembakan. Blok kuning memberikan hukuman dua angka. Hijau dan biru tergantung dari regu mana kita berada. Satu angka hukuman bila mengenai warna lawan.
Bola harus memantul dinding lengkung yang berlawanan dari mana dimulai."
"Bolanya juga ada sensornya?" 

Ben mengangguk. "Bola dapat mengenai daerah blok hitam, dan di tengah-tengah merah terdapat garis halus sensor. Jadi tak memerlukan wasit yang rnenyebutkannya." Ia tersenyum kepada Tom. "Tidak seperti permainan squash atau bola tangan di Bumi, ya?" 

Tom berkata: "Tidak sama persis." Ia tersenyum. "Apa yang engkau perdebatkan dengan si rambut merah tadi?" 

"Engkau," kata Ben biasa-biasa saja. "Kukira ia menganggap kepalamu ada di ujung jarum. Ia tak dapat dimasukkan ke dalam kelompok pencintamu."
"Aku bahkan tidak ada di antara pencintaku sendiri," jawab Tom.
"Setidak-tidaknya hari-hari belakangan ini." 

"Ah, Tom, mengapa kamu tidak….." 

"He, teman-teman," seru Mark. Regu yang bermain telah selesai, dan orang yang terakhir sedang meloncat memantul dari dinding, melayang indah ke arah pintu katup yang berbentuk segitiga. Ia lalu membukanya. 

"Mari! Ini tentu akan menyenangkan," kata Ben. 

Mereka melayang masuk ke dalam ruangan berkubah bulat itu, dan Tom melihat teman-temannya melakukan jungkir-balik di udara, dan jatuh pada kedua kaki di dinding yang berlawanan. Kemudian memantul ke tengah-tengah dengan gerakan yang terkontrol baik.
Mereka melayang-layang, menunggu Tom. 

Tom mengambil awalan dan mencoba berjung-kir-balik seperti   mereka. Tetapi ia telah mengambil awalan yang terlalu kuat, dan mendekati tembok yang ada di depannya dengan lebih cepat daripada yang diperkirakan. Ia membentur dinding dengan keras, menimbulkan rasa sakit kembali pada pahanya yang terkena pukulan. Ia memantul
buruk di dalam ruangan. Anita tertawa dan tidak berusaha untuk menyembunyikan rasa senangnya. 

"Tutup pintu," kata Ben, dan alat-alat otomatisnya segera mematuhinya. "Siap, Tom?" tanya Ben. "Engkau dan aku adalah alpha, Anita dan Mark Omega. Jangan menyentuh blok biru. Siap?" "Ya, aku akan berusaha sebaik mungkin," kata Tom, dan Anita
tertawa terkekeh-kekeh. 

"Bola mulai," kata Ben. 

Sebuah tingkap bulat kecil terbuka, tepat pada garis merah, dan sebuah bola hitam memantul ke luar. Sebuah tape dengan nomor serampangan mengatur suatu ketidakseimbangan, yang melemparkan bola itu ke kiri atau ke kanan garis merah. 

"Bola kita," kata Mark. Bola memantul kembali dan Anita berjungkir-balik di udara dan tepat pada waktunya memukul bola, hingga dengan sempurna melintas setengah bulatan ruangan. Tenaga balik yang sama besarnya terhadap gerak dan pukulannya mendorong dia kembali. 

Dengan salto ke belakang ia mendarat, kedua kakinya mengangkang menginjak dua titik sudut sebuah segitiga hitam, kemudian mundur dengan gerakan yang halus. 

Bola itu melaju mengarah Tom demikian tiba-tiba. Untunglah ia telah biasa bermain bola tangan yang cepat di Bumi. Sedang yang belum biasa ialah tidak adanya gravitasi untuk pijakan awal. Ia melambung dan mengayunkan tangan ke arah bola tersebut, tubuhnya mental tidak berdaya. Dengan kalang kabut ia memutar-mutarkan tubuhnya untuk
memperoleh kembali keseimbangan. Ia hanya berhasil menemukan perasaan salah arah dan jatuh bergulingan. Ia memantul dari segitiga hijau serta menyelonong ke sisi, meluncur tak terkendali hingga bahunya mengenai segitiga biru. Ia mendengar suara halus bunyi bel, dan melihat wajah Anita menyeringai. 

Malu, bingung, dan kecewa Tom kembali berdiri tegak dan menggeser di lantai, tepat ketika bola hitam itu mendesing mendatangi dari arah Mark. Ia memukulnya, mengembalikan bola itu dengan mendesing. Tetapi ketika ia terdorong ke belakang karena kekuatan bola itu dan pukulannya sendiri, ia mendengar Ben mengeluh: "Bola itu tak
memantul pada dinding sebelah sana, Tom." 

"Memukul ketika bola masih panas, ya Tom?" Anita mengejek. 

Tom melayang berputar sejenak, kemudian membentur dinding dan kakinya menginjak sebuah segitiga biru lagi. Mereka telah ketinggalan enam angka ketika Ben berhasil mendapat angkanya yang pertama. 

Kemudian Tom membuat yang lain-lain terkejut, termasuk ia sendiri. 

Dengan keahlian yang sangat tinggi ia mengarahkan bola di antara Mark dan Anita, dan memantul ke arah yang tak dapat mereka capai. Tetapi itulah angkanya yang terakhir. Game pertama menunjukkan angka 12 lawan 4, sedangkan game kedua tidak lebih baik pula Mereka beristirahat dan Ben memesan minuman. Sebuah pintu kecil terbuka, dan sebuah alat mengeluarkan bola-bola plastik berisi air dingin beserta sedotannya. Tom berpikir, air di dalam gelas mungkin akan tumpah melayang, karena terikat oleh tekanan pada permukaannya. Maka dari itu cara terbaik untuk minum ialahmenyedotnya. 

"Mereka telah menggilas kita, Tom," kata Ben ramah.
“Semua itu salahku," kata Tom. Ia menggeleng lesu. Semua serba salah! Bahkan berhubungan dengan ayahnya saja ia tak dapat. "Ah, baru pertamakali!" kata Ben. "kalau engkau melihat ketika aku baru mulai belajar main! Aku mengepak-ngepakkan kedua lenganku seperti seekor itik. Hampir saja bahuku keseleo untuk menghindari segitiga hitam. Dengar, engkau lebih cepat bisa daripada aku setelah main beberapa game. Jelas, engkau mempunyai bakat. Setelah main beberapa puluh kali lagi, engkau akan menjadi pemain terbaik di sekitar ini." 

"Jangan mencoba menghiburku, Ben. Aku hanya bagaikan sebongkah semen yang berterima-kasih. Kaulihat bagaimana Anita menjaga keseimbangan tubuhnya? Itu tarian balet yang murni! Ini merupakan permainan yang paling indah dan paling cepat di seluruh tatasurya." "Memang,'' Ben membenarkan. "Tetapi jangan merendahkan dirimu sendiri. Engkau sudah makin meningkat daripada game yang pertama. Apakah engkau telah berani memikirkan membuat salto ke belakang ketika engkau baru masuk kemari tadi?" 

Tom menggeleng. "Kurasa aku tidak menjadi semakin baik. Mark dan Anita telah mempermainkan aku. Lebih baik engkau mencari pasangan lain." 

"Tidak bisa, Tom. Kita akan memesan tempat lagi besok dan berlatih. Akan kutunjukkan kepadamu, bagaimana cara mengatur pantulanmu ke arah yang ingin kaumasuki. Oke?" Ia tersenyum. "Dengar, setelah bermain seratus kali seperti aku, engkau akan dikirim ke gelanggang Olimpiade!" 

Tom menatap temannya. "Aku tak tahu bahwa bola tangan gravitasi nol telah menjadi acara Olimpiade." 

"Memang belum. Tetapi seharusnya dimasukkan. Dan kukira tentu akan dimasukkan pada suatu ketika. Aku punya teman di bagian telekomunikasi, yang berusaha untuk melakukan pertandingan pada World Network pada Pekan Olah-raga yang akan datang. Sekali orang
melihatnya kita bermain tentu segera akan menjadi populer." 

"Hanya di ruang angkasa, Ben. Ini hanya suatu permainan tontonan bagi 99% penduduk." 

"Demikian juga hockey, catur atau Tunggu dan lihatlah. Nah, sudah siap untuk bermain lagi?" 

Tom mengangkat bahu lalu melayang jauh dari otomat minuman. 

"Tentu. Mengapa tidak? Tak ada yang lebih menyenangkan daripada
menghantamkan wajahku ke tembok!" 

Tom dan Ben hanya kalah empat angka pada permainan ketiga, dan pada permainan keempat tiga angka. Mungkin tidak semuanya buruk, pikir Tom ketika keluar dari tempat rekreasi itu. "Mungkin aku harus mental dulu dan memulai lagi dari bawah," pikirnya.

selanjutnya
sebelumnya

Rabu, 24 Mei 2017

Nilai kedisiplinan Rusia

Nilai kedisiplinan Rusia
Kudengar  dari  Arta,  salah  satu  junior  yang sedang  kuliah  di medisinski.  Bahwa,  ia  juga  sedang berada  di  rumahsakit    saat  itu.  Maka  sengaja  saja  aku menelponnya,  berbertanya  dimana  posisi  Arta. 

Maklum  Arta,  Angel  dan  Ompong  adalah  mahasiswa medisinski jadi  ga  jauh  dari  bau-bau  rumahsakit.  Tapi setelah  aku,  mbak  Leli  dan  Angel  sudah  dapat
meninggalkan  Ompong  dengan  tenang  untuk  opname, aku mengajak mereka untuk melihat keadaan Arta juga di  rumahsakit  ini  juga,  karena  kami  tidak  tahu  sedang
apa ia disini. 

Sejurus kemudian kami melihat sesosok kurus dan jangkung  itu,  sedang  berdiri  dibalik  sebuah  ruangan. Entah,  kami  sendiri  tidak  tahu  fungsinya.  Sepertinya ruang  rawat  inap.  Ia  sedang  berdiri  sambil  membawa sebuah  buku  ditangan  kurusnya,  wajah  manisnya langsung  sumringah  saat  tahu  kedatangan  kami bertiga. 

“Halo Arta. Lagi apa disini?” Sapaku ramah “Alo  Kak.  Aku  lagi  ujian  nih,”  jawabnya  sambil mencium pipi kami bertiga secara begiliran “Hah?  Ujian  emang  ujian  apa  Artha?  Praktek?” 

Tanya Angel keheranan “Engga  kak  angel,  dosen  aku  lagi  sakit  dan  di opname disini coba liat temen-temen aku, itu? Mereka juga lagi bersiap mau ujian lisan”  

Dan  benar,  saat  aku  longokkan  ke  dalam  ruangan terlihat  sesosok  perempuan  setengah  baya  dengan infus ditangan kirinya, sedang berbaring dengan posisi
tempat  tidur  yang  dibuat  sedikit tegak  dalam  ruangan isolasi.  Sedang  seseorang  lagi  yang  terlihat  adalah seorang mahasiswa, terlihat sedang menjawab dengan mimik  wajah  serius  meskipun  ada  batas  ruang  yang diberi  kaca  hingga  mirip  sekali,  dengan  suasana tahanan penjara.  

Sampai  sebegitukah,  Rusia  dalam  menjunjung kedisiplinan? Iya, aku sendiri secara pribadi hanya bias berdecak  kagum.  Dalam  dunia  pendidikan  di  Rusia memang  tidak  mengenal  kata absent.  Maka  jangan pernah  mengharap ada  dosen  yang  malas  mengajar atau  akan  ada  jam  kosong  dikelas  yang  telah terjadwalkan.  

Karena,  meskipun  bahkan  sampai  dosen  telah tergeletak  lemah  di  rumahsakit.  Jika  masih memungkinkan  maka  mereka  akan  menyuruh mahasiwanya  untuk  datang  ke  rumah  sakit  seperti yang  dilakukan  Artha  dan  kawan-kawannya  saat  ini. 

Ini semua sebagai bentuk dari tanggung jawab mereka terhadap  apa  yang  telah  mereka  deklarasikan  sebagai seorang pengajar. Aku jadi ingat tentang dosen bahasa Rusia ku yang
sangat  disiplin,  suatu  hari dikelas  bahasa  hanya  ada aku yang masuk kelas aku seorang diri. Seluruh teman-temanku  sekelas  yang  lain  tidak  dapat  hadir,  karena satu  hal  dan  hal  lainnya,  biasa  alasan  para  mahasiswa yang  malas  bangun  pagi.  Aku,  yang  sudah  gembira karena berpikir kelas hari ini akan ditiadakan ternyata harus  gigit  jari  karena  dosenku  ternyata  tak  perduli dengan  para  mahasiswa  malas  tersebut.  Dan  kegiatan kuliah tetap berjalan seperti biasa. Hanya ada  aku  dan Dosen. Buset! 

Betul, hanya aku dan seorang kakek yang menjabat sebagai dosen didalam kelasku ini. Terbesit dalam hati, untuk  berkeinginan  kabur  dari  kelas  bahasa  kal  itu.
Mengikuti teman-temanku yang pemalas itu.  Tapi  kali  ini,  hati  kecilku  menolak  secara  kuat. Entah mengapa. Aku tahu betul dosenku yang satu ini,
meskipun  sudah  sepuh,  usianya  kira-kira  sudah berkepala  enam.  Masih  saja  aktif  mengajar  dan  setiap mengajar  sangat  semangat  sekali  mengajar  hingga seakan  tak  peduli  ada  badai  maupun  salju.  Ini  yang membuat  suasana  semngat  dipagi  hari  yang  sering sekali aku mencarinya ketika sudah mulai fatigue. Aku salut sekali. 

Akhirnya,  kami  bertiga  berpamitan  pulang  kepada Arta.  Karena  merasa  tak  enak  mengganggunya  yang sedang  ujian.  Didalam  perjalanan  pulang,  Angel  juga
sempat  bercerita  padaku  tentang  kejadian  yang  di alaminya  empat  tahun  yang  lalu.  Tepat  satu  tahun sebelum kedatanganku ke Rusia. Waktu itu, pada bulan
Januari  2006  kota  Rostov-on-don  di  landa  badai  salju selama tiga hari berturut-turut.  

Udara  turun  drastis  hingga  mencapai  titik  minus 30  dibawah  0  derajat,  suhu  yang  belum  pernah  di alami  oleh  kota  Rostov  juga  kota-kota  di  Rusia  bagian selatan yang cendrung hangat selama ini. 

“Kegiatan kuliah tidak diliburkan Din, bahkan kami masih melaksanakan ujian diantara tiga hari itu, Kamu bisa bayangkan bagaimana kita harus berangkat kuliah dengan  salju  setinggi  dengkul  dan  angin  yang  super dasyat  sangat  kencang.  Bahkan,  wajahku  serasa tercabik-cabik  dan  tertampar  dinginnya  angin,  rasa sakit serta dingin yang menggigit, menusuk, Din!” Mataku  terbelalak  tak  percaya.  Sadis, kalo  kataku. Angel tetap melanjutkan kisahnya yang terkesan brutal itu,  matanya  menerawang  seakan  kejadian  itu,  baru saja  ia  alami.  Penuh  dengan  ketakutan  dan  sangat traumatis. 

“Terus,  selama  badai  salju  itu.  Apa  kamu  bisa bayangkan  jika  di  asramaku  listrik  mati  selama  tiga hari juga. Semenjak badai, di hari pertama kabel-kabel listrik  diasrama  putus.  Sehingga  ga  ada  lagi  listrik. 

Semua  perlatan  listrik  bahkan  yang  dapat  membantu kami  untuk  menghangatkan  diri  tidak  dapat dijalankan.  

Kami  sudah  berkali-kali  meminta  pihak  asrama untuk  menghubungi    perusahaan  listrik  Negara  agar membantu  kami,  setidaknya  agar  mati  listrik  saat  itu tidak berkepanjangan.” Napas Angel terputus, tak lama kemudian, ia mulai kembali mengisahkannya  “Tapi ternyata nihil. Dalam  keadaan  badai  seperti saat  itu  semua  alat  transportasi  lumpuh.  Sehingga, kami  harus  tidur  dalam  keadaan  berpakaian  lengkap dengan jaket double, untuk menghindari hipotermia.” 

Kami semua yang mendengarkan kisahnya, hanya  bisa menganga  dan  membisu,  seakan  kami  semua  ikut terlempar kedalam keadaan yang Angel alami.  “Kami tidur lengkap dengan menggunakan sepatu boot,  sarung  tangan  serta  topi  diatas  tempat  tidur. 

Mengingat    keesokan  harinya,  kami  masih  harus menempuh  ujian.  Ga  ada  pilihan  selain  terus menghadapi  hidup.  Aku  sempat  berpikir,  apakah  aku mampu menjalani ini?  

Aku  sebenarnya  sempat  mengalami    hipotermia. Tapi,  keburu  diketahui  teman  satu  kamarku  dan mereka lansung membantuku sekuat tenaga agar suhu tubuhku  menghangat.  Air  diasrama  juga  sudah  tak dapat  keluar  karena  membeku  dalam  pipa.  Pokoknya sangat  mengerikan  Din.  Beruntung,  kamu  dan  kawan-wan lain yang dating setelah kamu tak mengalaminya!” tupnya.

u,  sama  sekali  ga  bisa  membayangkan  bagaimana mbak  Leli  dan  Angel  yang  mengalami  langsung  saat-saat  mencekam  itu  semua.  Alhamdulillah,  Tuhan
mengirimku  disaat  yang  sudah  tepat.  Ketika  Rostov sudah  ga  lagi  sedingin  itu.  Yang  kudengar  juga,  di Moskva  cuaca  lebih  dari  itu.  Banyak  para  lansia  yang
tinggal  sendiri  serta  para  tunawisma  yang  meninggal, karena kedinginan. Miris. 

Sedangkan  di  kota  Moskva  selain  metro,  stasiun bawah  tanah.  Tak  ada  transportasi  lain  yang  bisa digunakan, semua membeku ditelan cuaca. 

Kebijakan  pendidikan  di  kota  Rostov-on-don  saat itu  adalah  sampai  suhu  mencapai  tiga  puluh  dibawah nol  derajat.  Maka  kegiatan  belajar  mengajar  sampai pada usia sekolah di liburkan. Kecuali, universitas yang tak  memiliki  kebijakan  sehingga  kegiatan  belajar mengajar masih tetap berjalan seperti jadwal.  

Bagiku hanya satu kalimat untuk Rusia “Disiplin yang  ga  tanggung-tanggung!” Kapan negara kita bisa begitu ya?

by Dinda Hidayanti

Kamis, 18 Mei 2017

Mabok Janda

Mabok Janda
Selama menjalani hari-hariku sebagai maha siswi jurusan psikologi, aku banyak belajar membaca karakter orang, mungkin ini karena keterbatasanku dengan bahasa. Meskipun aku sudah lulus podfak (sekolah persiapan bahasa) dengan nilai cumlaude, tapi sepertinya universitas sesungguhnya tidak kalah susah.  

Aku adalah satu-satunya mahasiswa asing di tingkatku, tak ada satupun yang bisa berbahasa inggris, setidaknya itu yang aku tahu sampai aku melewati semester pertama dengan penuh darah dan airmata. Hampir setiap hari aku menangis sepulang kuliah, aku merasa menjadi manusia bodoh yang dungu. Tak seorangpun dikelas yang mengerti
dengan ucapanku, dan parahnya, terlalu susah untuk mengerti bahasa dari orang Rusia yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing. Parah!  


Setiap hari aku hanya bisa meraba-raba bahasa, satu-satunya pedoman belajarku adalah buku. Hanya buku! Text book banget. Di luar text book, aku sangat lemah, apa mungkin pemahamanku yang lambat?? Dan sejujurnya, aku adalah manusia yang susah
untuk bisa duduk lama di dalam kelas. Susah untuk berkonsentrasi lama sambil mendengarkan ucapan dosen berbahasa Rusia. Yang masuk ketelingaku
hanya suara cempreng, bising dan dengan tempo yang sangat cepat. Mirip radio yang tak menemukan frekusensi gelombang. 


Susah berkonsentrasi dan bahasa yang tak kumengeti, membuat pikiranku mengembara. 
Mungkin hanya sepuluh menit saja aku mampu berkonsentrasi, sedangkan tigapuluh menit sisanya, aku hanya memperhatikan dengan detail dosendosenku : nada bicara, gerak tubuh, pose saat mengajar, hingga make up yang menempel di wajah mereka. 


Hari ini ada pelajaran mishlenie I rech. Saat pelajaran  berlangsung, ada pertemuan untuk
pengenalan seluruh jurusan di fakultasku. Di fakultasku, ada subjurusan bagi mahasiswa tingkat dua. Dan subjurusan itu akan diperdalam di tingkat tiga dan empat. Di fakultasku ada tujuh subjurusan psikologi antara lain:  


  1. Psikologi klinis dan psikofisiologi (kliniceskayapsikologia i psikofiologia) 
  2. Psikologi sosial (sosialnaya psikologia) 
  3. Psikologi kepribaian (psikologi litsnosti)
  4. Psikologi perkembangan (psikologi razvitia) 
  5. Psikologi hokum (yuridiceskaya psikologia) 
  6. Psikologi umum (obshaya psikologia) 
  7. Psikologi kesehatan (psikologi zdarovia)
Dari ketujuh subjurusan itu, akhirnya aku memililh masuk ke psikologi perkembangan, dengan tema yang menyangkut perkembangan mental anakanak usia prasekolah. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan anak-anak, namun dengan mempelajarinya, aku rasa akan bisa menyukai mereka. Itu harus! 

Dosen untuk pelajaran mishlenie I rech adalah madam Irina Kaidanovskaya. Ia adalah dosen yang hiperaktiv, di usianya yang sudah tak lagi muda dan seharusnya masuk pensiun, ia aktif sekali. Tanpa basa basi, ia mengambil kapur dan memulai menulis di papan tulis auditoria. Ruang kelas yang besar itu membuatnya kehabisan suara untuk menjelaskan
dengan suara lantang. Ia terus asik memunggung dan menulis di papan tulis tentang jadwal mata kuliah tambahan yang di wajibkan, yaitu mempelajari secara umum seluruh kinerja subjurusan psikologi. 


Setelah asyik menulis dengan membelakangi kita semua, ia asyik menjelaskan semua materi seorang diri. Padahal masih ada banyak dosen lain yang datang untuk memberi pengarahan, tapi sama sekali tak digubrisnya. Yang seru dari seorang madam Irina
Kaidanovskaya adalah cara menerangkan sesuatu didepan kelas. Raut wajahnya lucu. Dengan kulit kriputnya, ia selalu tertawa dengan sangat lebar, hingga  matanya melotot.  


Keteganganku mencair seketika, karena aku menemukan sesuatu yang hal yang menarik, yaitu aku baru tersadar bahwa sebagian besar penduduk Rusia memang memiliki wajah kencang, akibat jarang tersenyum. Hehe. Kenyataan yang menarik. Di sudut matanya, aku melihat ada kekosongan. Tapi, mimik wajahnya seperti tak ingin menunjukannya. Ia
terus menjelaskan hingga tak seorang pun mendengar. Oh, madam. Saat kelas seminar, aku juga pernah dibuatnya kebingungan. Karena saat itu kelasku memang tak siap untuk seminar, tapi ia malah mengadakan seminar secara mendadak. Hmm. 


Sistem perkuliahan di kampusku memang sangat unik. Setidaknya itu menurutku, yang tak pernah mengalami dunia kuliah di tanah air. Setiap dua kali pertemuan kuliah, maka akan ada satu kelas seminar atau kelas praktek. Di kelas ini, kita harus menyiapkan materi, membahas dan menjawab. Tapi sayangnya terkadang kelas kurang efektif. Misalnya,
disatu seminar kita akan membahas satu bab, maka dosen seminar akan memberikan spisok1 pertanyaan dan literature-nya atau referensinya. Tugas kita hanya mempersipakan dan maju untuk menjelaskan. 


Tapi sangat disayangkan karena disetiap bab tidak banyak pertanyaan yang muncul, paling hanya sepuluh pertanyaan, sedangkan jumlah mahasiswa setiap grupnya  lebih dari 20 orang. Jika mau disebut sportif, sepertinya hanya mahasiswa yang ingin
kuliah saja yang mengambil pertanyaan dan mempersiapkannya. Sisanya? hanya mendengarkan, atau bolos.  


 Aku sendiri bingung, kadang jika sudah terlambat meminta soal, maka aku tidak akan kebagian, dan akua hanya datang ke seminar seperti sapi ompong, melompong! Hoooaamm..  


Tapi seminar kali ini agak berbeda dari biasanya, karena aku memang sudah sangat matang mempersiapkannya. Aku sudah membaca berulang kali, dan latihan didepan cermin. Meskipun untuk latihan saja, tubuhku sudah bergetar dari ujung
rambut sampai ujung jempol. Apalagi kalau mengingat wajah teman-temanku yang
memandangku dengan penuh rasa kasihan atau justru meremehkan. Aku memang sudah lulus kelas persiapan bahasa, tapi tetap saja, membayangkan kelas seminar, aku mendadak gagap! Memang, sih. 


Nervous membuat segalanya hancur. Aku terdiam dikursi belakang, duduk mendengarkan Kaidanovkaya menjelaskan dengan seksama. Wajahnya yang memainkan mimik-mimik
wajah, membuatku semakin serius meraba arti dari bahasan yang ia sampaikan. Terkadang tanpa sadar, aku sampai mengikuti gerakan tubuhnya di depan kelas. Apa mungkin karena koordinasi tubuhku mulai error? Otakku sepertinya bekerja terlalu berat hingga tidak bisa mengontrol konsentrasi yang lain. 


Asyik mendengarkan dosen hiperaktif itu, tiba-tiba aku berpikir hal yang sama sekali lain tak nyambung. Bagiku, orang setua Kaidanovkaya, semestinya sudah istirahat dirumah dan bermain dengan cucu, tapi sepertinya itu tidak bisa  dilakukannya.  


Hidupnya terlalu sepi untuk berdiam dirumah, ia lebih senang mengajar di kampus daripada kesepian dirumah. Memang yang bisa dibanggakan dari orang Rusia adalah kemandiriannya. Dan kabarnya, madam Irina Kaidanovskaya sengaja mengabdikan dirinya ke fakultas psikologi walaupun memiliki masa lalu yang sangat kelam.  


Ceritanya dimulai ketika Ia masih menjadi dosen muda yang cantik dan sexi. Suaminya juga dosen di fakultas ini. Tapi sayangnya, suaminya kabur dengan salah satu mahasiswinya, kemudian meninggalkan Irina Kaidanovskaya begitu saja. Sebenarnya nama
dari Irina Kaidanovskaya ini diambil dari nama familiya (surename) suaminya : Kaidanovskiy. Dan sebagai rasa cinta yang tak pernah padam, Irina mengganti surnamenya dengan nama suaminya.  


Irina Kaidanovskaya tetep berdiri tegap melewati bayang-bayang suaminya di fakultas ini, untuk berpuluh-puluh tahun lamanya, ia habiskan waktunya untuk mengajar di fakultas ini. Mungkin ia masih berharap suatu saat nanti suaminya akan kembali kepelukannya. Aku hanya bisa memandang Irina Kaidanovskaya dan berguman dalam hati  


 “Madam semangat!!”

by Dinda Hidayanti   

Rabu, 10 Mei 2017

Si ompong dan balada rumah sakit

Si ompong  dan  balada rumah sakit
“Dinda, kamu  bisa  ke  rumah  sakit  sekarang??
Ompong masuk rumah sakit aku lagi di dalam ambulan menuju  rumah  sakit  di  cgb!  Centralni  gasudarsvenni balnitse/rumah sakit sentral” 


 Suara  Angel  terdengar  panic  di  sebrang  sana.  Ah, jangan-jangan  penyakit  liver  Ompong  kambuh  lagi? 


Ompong.  Selalu,  begitu  jika  terlalu  lelah.  Memang, kuliah  di medisinki  sangat  berat.  Apalagi  ditambah dengan  sulitnya  bahasa  Rusia  sebagai  bahasa
pengantar. Tapi,  inilah  sebuah  pilihan.  Karena,  sudah ga  mungkin  lagi  kita  mundur  dan  menyesali  segala yang telah kita pilih.


Aku selalu merasa hanya orang-orang terpilih oleh Tuhan  lah  yang  mampu  dan  sanggup  tinggal  di  Rusia dengan segala keunikannya. Termasuk Ompong. 

Aku  ditemani  mbak  Leli  terus  berjalan  di  tengah rintikan  hujan  yang  mengguyur  kota  Rostov,  wajah kami  berdua  sendu.  Kami  tak  bisa  membayangkan,
betapa ompong sedang tersiksa di rumah yang katanya untuk orang pesakitan itu.  


Begitu  kami  sampai  di  halte cgb  kami  berdua langsung  berlari  menghampiri  Angel  yang  duduk sendiri  diruangan  tunggu  UGD.  Ia  tertunduk  lesu  dengan  mata  yang  berkaca-kaca,  penuh  dengan kekhawatiran.  


“Dinda, Mbak Leli, mohon doanya buat Omong ya.
Tadi  ia  sudah  minta  dibacakan  surat  Al-quran.  Aku takut sekali, hiks.” Katanya dengan airmata menetes tak tertahan. 


Kami bertiga saling berpelukan. Tentu, tanpa perlu diminta  kami  bertiga  akan  selalu  mendoakan keselamatan  Ompong,  karena  ia  juga  keluarga  kami disini, di Rusia ini.  

Tak  lama  setelah  itu,  dokter  dari  ruang  UGD memanggil  Angel  yang  dianggap  perwakilan  dari medisinski  universitet,  universitas  kedokteran.  Lama Angel  berdialog  dengan  sang  dokter,  entah  tenatng sesuatu  yang  nampaknya  sangat  serius.  Hingga  tak lama,  akhirnya  kulihat  Angel  mengangguk  tanda mengerti, sementara itu, tiba-tiba beberapa suster laki-laki  menyeret  bed  tempat  Ompong  berbaring  untuk dipindahkan  ke  ruang  mengerikan  yang  disebut dengan ruang endoskopi. 


 “Mbak  Leli,  Dinda,  sekarang  Ompong  akan melakukan endoskopi, minta doanya biar ia kuat ya?”
Kami  mengantar  ompong  keruang  endoskopi, kulihat  Ompong  sekilas,  matanya  nanar  kosong. Sepertinya,  ia  tak  lagi  ada  semangat  hidup  sesebentar airmatanya  meleleh  tak  terbendung,  ada  gejolak perasaan  takut  dan  kalut.  Kami  hanya  bisa menenangkan  sambil  mendoakannya.  Semangat Ompong! 


“Kak Angel,  to..l..oong kasih tau dokternya, aku ga mau  di endoskopi.  Aku  Takut  sekali  Kak.  Sakiit..  Kak Dinda,  Mba  Leli,  tolooong  dong.  Bilang  sama dokternya!  Aku  takut,  hiks  hiks”  suara  Ompong meminta  pertolongan,  ia  terlihat  super  sangat
ketakutan. 


“Ompong.  Kamu  harus  kuat  ini  semua  demi kebaikan kamu. Jangan takut yah! Berdoa saja. Kita ada disini untuk kamu” jawabku menenangkan, padahal dalam hatiku, tak urung aku merasa sangat rapuh saat melihatnya  tak  berdaya.    Ingin  rasanya  menangis.  Ah,
ompong  kasihan  kamu  jauh  dari  orangtua  dan  kau harus merasakan rumah sakit disini?  


Ompong  memasuki  ruang  endoskopi  dengan dibantu  oleh  Angel,  sementara  aku  dan  mbak  Leli hanya  mengantar  hingga  depan  ruangan.  Kami  berdua saling  berpandangan.  Tak  taau  harus  berkata  apa. 


Kulihat  wajah  terakhir  Ompong.  Penuh  dengan harapan  agar  aku  dan  mbak  Leli  melarikannya  dari ruang horror itu. 


Dua  menit  kemudian,  kudengar  suara  jeritan  tiada tara  dari  dalam  bilik  kamar  berukuran lima  kali  lima meter  itu.  Suara  teriakan  pilu  menahan  sakit.  Benar,
tak  akan  ada  bius  disini  jika  dianggap  masih  bisa menahan, beginilah rumah sakit! Selalu kejam!  Setelah  sepuluh  menit  berlalu  dalam  bilik penyiksaan,  kulihat  Angel  dan  Ompong  keluar  dari ruangan.  Dengan  jalan  mengangkang  lebar  Ompong
meringis  kesakitan.  Aku  dan  mbak  Leli  langsung menghambur  menghampiri  dan  menanyakan keadaannya penuh kekhawatiran  “Anjriiiit.  Gue  disodomi  ama  alat  endoskopi!” Jawabnya  dalam,  sarat  makna.  Sedangkan  kulihat Angel  yang  berdiri  disebelah  Ompong  menahan  tawa.


Sepertinya,  Ompong  sudah  sedikit  baikan.  Bahkan  ia sudah bisa menggerutu.

Ompong.  Ompong.  Semoga  kisahmu  kali  ini  bisa menginsiprasi  teman-teman  lain  agar  tidak  tertarik dengan  pengalaman  masuk  rumah  sakit di  Rusia.
Amiin.

Selasa, 09 Mei 2017

Ramadhan pertama di Rostov

Ramadhan pertama  di Rostov
Inilah pengalaman  yang  tak  akan  pernah  bisa kulupakan seumur hidupku. Setelah liburan leto berakhir,  aku  harus  kembali  ke  rutinitasku  sebagai seorang  mahasiswa  tingkat  satu  fakultas  psikologi. 

Setelah  aku  menyelesaikan  urusanku  dengan  Nabil, maka  aku  bisa  menyambut  bulan  ramadhan  dengan hati ringan. 

Ramadhan  tahun  ini  memang  sangat ekstrim, karena  datang  di  musim  panas.  Selain  waktu  puasa yang  lebih  panjang,  dari  pukul  empat  pagi  sampai pukul setengah sembilan malam, juga karena banyak zinah  mata  di  mana-mana.  Banyak  sekali  kaum perempuan yang tanpa busana, ups! Tapi, apapun itu, terserah. Yang jelas aku tak seperti itu.  


Hari  ini,  hari  pertama  puasa  dan  aku  harus melakukan  pemeriksaan  kesehatan.  Baik  di Indonesia  atau  pun  di  Rusia,  budaya  antri  tetap berlaku,  aku  harus  mengantri  di  antara  orang  asing yang  beraroma  bau  badan  tak  sedap  dan  mereka
adalah  teman  sekelasku.  Pagi  ini,  aku  hanya  sahur dengan  doa,  karena  bangun  kesiangan,  jadi  tak sempat makan.   


Pukul  tujuh  pagi  aku  sudah  pergi  menuju studenceski  polokinik (poliklinik  pelajar),  lebih  cepat dua  jam  dari  jadwal  seharusnya.  Tempat  kliniknya belum  kutahu,  oleh  karenanya  aku  berangkat  jauh sebelum  jadwalnya,  agar  tak  sampai  telat  tiba  di
tempat  tujuan.  Setelah  bertanya  kepada  beberapa orang,  aku  pun  sampai.  Mulailah  mengisi  data-data administrasi  yang  cukup  melelahkan  sehingga membutuhkan  waktu  satu  jam  dan  bantuan  dari seorang  nenek  penjaga  fotokopi.  Ternyata  budaya antri di  Rusia  sangat  parah,  karena  mereka  tak  antri dengan membuat barisan, tetapi berkumpul di depan pintu.  Hal  ini  membuat make-up para  wanita  Rusia yang  tebal  itu  pun  memudar, bau  parfum  tak  sedap pun  tercium  dan  rambut  yang  tertata  rapi  pun menjadi  berantakan.  Aku  pun  akhirnya  berbaur dalam  kumpulan  itu,  tenaga  habis  terkuras sementara  masih  ada  tiga  cap  dokter  yang  harus kudapat.  


Dari  semua  dokter,  sayangnya  tak  semuanya ambil  andil,  kebanyakan  hanya  bertanya.  Dan,  aku hanya  menjawab  semua  pertanyaan  dengan  satu
kata  :  Da (iya).  Saat  masuk  ke  ruangan  dokter ginekolog,  sang  dokter  bertanya  hal  yang  tak kumengerti, untuk mempersingkat waktu, aku hanya menjawab singkat “da”.  Jawaban  antara  sadar  dan tidak  karena  badanku  sudah  terlalu  lemas,  lelah. 


Selanjutnya  dokter  bertanya  hal  yang  mengganjal dan  kurang  enak  didengar  : “Suami  kamu  kerja dimana?”


Bingung.  Kenapa  bertanya  tentang  suami?  Aku hanya  menjawab  jika  aku  belum  menikah. Dokter yang bermata abu-abu itu malah marah besar : 
”Aku bertanya, apakah anda pernah  berhubungan intim  atau    belum?  Anda  jawab  iya.  Tapi  kenapa menatap  tajam  saat  ditanya  tentang  suami?
Sebenarnya  sudah  apa  belum?  Jangan  asal menjawab.” Suara sang dokter terdengar kesal.  


Mendegar  itu,  mukaku  jadi  pucat.  Masalah besarnya,  mereka  tak  mengerti  bahasa  Inggris,  dan bahasa  Rusiaku  saat  itu  masih  sangat  terbatas.  Aku baru  tujuh  bulan  di  sini,  jadi  bagaimana  mungkin bisa  menghapal  semua  istilah  bahasa  Rusia.  Karena
kuliahku  di  jurusan  psikologi,  maka  istilah  yang kupelajari  adalah  istilah  untuk  psikologi.  Sedangkan istilah  untuk  bidang  kedokteran  dan  bidang  lainnya
tentu saja berbeda.   


Setelah  sampai  asrama,  aku  segera  sholat  ashar dan  dzuhur  yang  kujamak.  Badanku  berangsur terlihat segar, aku langsung memasak untuk berbuka puasa. Aku masak cukup banyak karena masakan ini bukan  hanya  untukku,  tapi  juga  untuk  dua
mahasiswa  asal  Indonesia  yang  satu  asrama denganku,  Andres  dan  mas  Tegar.  Untuk  hari  puasa pertama  ini,  aku  sengaja  memasak  menu  istimewa:
susu,  nasi,  dan  tumisan  sawi  putih.  Menu  istimewa yang  sederhana,  tapi  cukup  untuk  memulihkan tenaga yang lemas.  


Andres  datang  setengah  jam  sebelum  waktu berbuka,  sedangkan  mas  Tegar  masih  di  kampus. Waktu  terasa  berat  dan  semakin  berat  karena  menu berbuka  telah  terhidang  di depan  mata.  Aku  melihat jam  tanganku,  waktu  buka  puasa  kurang  lima  menit lagi,  tapi  Andres  malah  bilang  jika  waktunya  kurang
tiga  belas  menit  lagi.  Hah?  Aku  melihat  jam  di ponselku, kurang tujuh  menit lagi. Sedangkan jam  di komputer  ternyata  kurang  tujuh  belas  menit  lagi.
Bingung.  


Tahun  ini,  jaringan  internet  masih  belum tersambung,  hanya  ada  warnet  yang  berada  di bawah  asrama  dengan  harga  yang  masih  cukup mahal juga selalu penuh. Untuk jadwal waktu sholat, aku  meminta  jadwal  pada  petugas  masjid,  di  utara
kota.  Langsung  untuk  waktu  satu  tahun.  Di  Rusia, matahari  tak  bekerja  secara  teratur,  tetapi tergantung  pada  musim.  Saat  musim  dingin  yang biasa  terjadi  di  bulan  desember,  matahari  akan bekerja  selama delapan jam. Sedangkan saat musim
panas,  matahari  bekerja  tanpa  lelah  selama  dua puluh  dua  jam.  Apalagi  di  kota  St.Petersburg  yang terletak  di  sebelah  utara  Rusia,  mataharinya  hanya terbenam selama kurang dari satu jam, atau  biasa  di sebut dengan nama “Belii Noch”. 

  
Akhirnya  kami  sepakat  untuk  mengikuti  jam  di komputer,  untuk  itu  kami  menyetel  alarm  ponsel yang  kami  setting  dengan  suara  adzan.  Adzan pertanda  berbuka  puasa  telah  berbunyi  dari  ponsel, kami  segera  melantunkan  doa  berbuka  puasa.
Kerinduan  akan  tanah  air  tiba-tiba  hadir  mengisi hatiku,  rindu  akan  mama  dan  masakannya,  juga suasana ramadhan di Indonesia.


Buka  puasa  pertama  ini  cukup  hangat  karena diiringi  dengan  tetesan  air  mata  haru  dan  sedih.  Ini lah tahun pertama yang kami lalui di Rusia, yang jauh dari  saudara  dan  dari  suasana  ke-islaman  seperti  di tanah air.  

Alhamdulilah, marhaban yaa Romadhon.
A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter