Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label Romantic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romantic. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

Cewek Pintar

Cewek Pintar
Walau dia seorang gadis desa, tapi dia bukanlah gadis desa biasa. Dia sudah sangat maju dan smart cara berpikirnya.  Setiap hari dia pegang laptop, yang dilengkapi sambungan internet, yang membuat dia setiap saat bisa menjelajah dunia maya. Ya dialah Elisa, seorang cewek yang membuat Angga betah berlama-lama duduk di depan laptop.

Elisa menggunakan internet bukan hanya untuk komunikasi, tapi juga untuk hal-hal positif lainnya. Semisal mengikuti perkembangan zaman dan bahkan untuk menunjang kegiatan bisnisnya. Hal semacam itu tak banyak dilakukan remaja-remaja lainnya. Justru itulah yang membuat Angga benar-benar terkagum-kagum.Tapi yang paling penting bagi Angga, berkat fasilitas internet ia bisa berkenalan dan berchatting ria dengan Elisa. 

Walaupun cara hidup dirinya sebagai orang kota dan Elisa sebagai orang desa jelas berbeda, tapi itu sama sekali tak jadi kendala komunikasi antara keduanya. Informasi lewat internet telah menyatukan orang-orang yang tinggal di berbagai belahan dunia ke dalam suatu global vilage (desa dunia). Meski mereka tinggal berjauhan tapi terasa dekat karena lewat internet mereka bisa melakukan percakapan secara langsung.
Angga merasa perbincangannya dengan Elisa lewat chatingan inbox facebook selalu mengalir dengan lancar. Elisa selalu bisa mengimbangi apapun yang ia bicarakan. Ia merasa Elisalah teman curhat yang paling cocok baginya. Sekat-sekat geografis terbukti bukan penghalang untuk berkomunikasi. Apalagi dalam banyak hal, pemikiran mereka selalu sejalan.
Cowok kelas 2 SMA itu mulai tak sabar menunggu kopi darat dengan Elisa. Setelah beberapa bulan ini berhubungan lewat inbox facebook, ia ingin sekali segera ketemu dengan gadis desa itu.
Tapi kapan ya ketemuannya? Kesibukan sekolah yang luar biasa membuatnya tak punya waktu untuk pergi ke luar kota. Tapi kalau menunggu liburan, hm, rasanya lama sekali. Maunya sih setiap bulan, ia bisa berkunjung ke desa Elisa. Tapi ia selalu punya kegiatan di Hari Minggu. Ia anggota tim futsal sekolahnya yang selalu punya aktivitas pertandingan di Hari Minggu.
Suntuk juga Angga memikirkan hal itu. Kayaknya bibit-bibit asmara yang mulai tumbuh di hatinya bakal terhambat rintangan geografis dan aktivitas futsalnya. Mungkinkan bibit-bibit cinta ini bisa tumbuh dan tak keburu layu sebelum berkembang?  Angga berusaha menepis dengan keras pikiran-pikiran negatif itu. Ia berusaha optimis hubungannya dengan Elisa bisa berkembang.
Ia ingat sejak berkenalan lewat facebook tiga bulan yang lalu, belum sekalipun ia ketemuan sama Elisa. Maklum Elisa tinggal di sebuah desa yang berjarak sekitar 150 Km dari kota Angga. Sebenarnya jarak yang tak terlalu jauh, bisa ditempuh dalam waktu 5 jam dengan perjalanan bis. Tapi waktunya itu yang benar-benar susah dicari.
Walaupun baru tiga bulan tapi Angga sudah merasa begitu dekat dengan gadis desa itu. Ia merasa Elisa memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia sering curhat kepada Elisa, begitu juga Elisa sering curhat kepadanya. Lama-lama keduanya menjadi semakin akrab walaupun ketemuannya hanya lewat dunia maya.
Untuk mengobati rasa rindunya, Angga selalu ngajak Elisa chatingan di malam hari setelah pukul 21.30  lewat inbox facebook. Pada saat itu ia benar-benar bebas dari kegiatan. Tampaknya begitu juga halnya dengan Elisa.

"Hei Elisa, sedang ngapain?" tanya Angga pada suatu malam.
"Barusan nonton televisi," jawab Elisa.
"Nonton acara apa?" tanya Angga
"Mahabharata. Aku suka banget mengikuti serial itu," kata Elisa.
"Bagaimana ceritanya kok bisa suka dengan serial itu?" tanya Angga.
"Kakek pernah cerita kepadaku kisah Mahabharata. Aku tertarik sekali karena cerita itu banyak mengandung banyak sekali filosofi. Aku juga ingin tahu apakah yang diceritakan kakek sama dengan yang tayang di televisi," kata Elisa.
"Lalu bagaimana kesimpulannya?", tanya Angga.
"Pada prinsipnya sama antara yang diceritakan kakek dengan yang ditayangkan televisi. Tapi menurut Kakek, yang versi Jawa beda lho dengan yang versi India," kata Elisa.
"Oh, ternyata ada versi-versian juga ya. Contohnya seperti apa? Maaf Elisa karena aku nggak nonton serial tersebut, aku hanya bisa tanya dan tanya saja," kata Angga.
"Kalau versi India, Drupadi itu istri bersamanya Pandawa Lima. Kalau versi Jawa dia hanya istrinya Yudistira," jelas Elisa.
"Mungkin karena di masyarakat Jawa dahulu kala poliandri nggak lazim dan dianggap perilaku yang menyimpang. Perilaku ini dianggap saru dan oleh penggubah Mahabharata di Jawa dianggap tidak layak ditampilkan. Makanya dilakukan perubahan skenario seperti dalam Mahabharata versi Jawa, ya?" kata Angga.
"Benar itu semacam saringan budaya atau sensor yang dilakukan para pujangga Jawa terhadap budaya asing. Sebenarnya sih dalam kisah Mahabharata di televisi, poliandri itu dianggap dosa besar juga oleh Bisma, kakek Pandawa yag sekaligus juga kakek Kurawa. Tapi juga dikisahkan pernah ada Ratu yang  melakukan poliandri sebelumnya," papar Elisa.
"Aku jadi tertarik nonton Mahabharata. Serial itu sudah sampai dimana sih?" tanya Angga.
"Rasa-rasanya sudah jauh sekali. Tapi coba saja kamu mulai menonton serial ini di televisi mulai besok. Aku akan membantumu memahami ceritanya, dengan menceritakan kembali episode-episode yang tidak sempat kau ikuti," kata Elisa.
"Hari apa sih serial itu diputar dan jam berapa?" tanya Angga.
"Pada hari Senin-Jumat setiap jam 21.00," jawab Elisa.
"Ha, setiap hari. Wow, aku nggak mungkin bisa mengikuti karena tiga kali dalam seminggu aku ikut les Bahasa Inggris sampai pukul 21.00. Aku tiba di rumah biasanya pukul 21.30. Mungkin kalau dipaksa nonton hanya bisa ikuti separonya saja," ungkap Angga.
"Kalau kamu nyampainya di rumah jam segitu, filmnya udah habis. Durasinya hanya setengah jam, kok," kata elisa. "Oh, ya mungkin kau bisa  nonton serial tersebut pada Hari Minggu malam. Saat itu diputar kembali episode-episode yang sudah ditayangkan selama seminggu sebelumnya," sambung Elisa.
"Atau aku nonton serial itu lewat DVD-nya saja. Aku rasa DVD-nya sudah beredar di toko. Aku bisa beli mulai episode awal sampai akhir."
"Itu ide yang bagus," jawab Elisa.
"Oh, ya, ngomong-ngomong kalau jam segini di desamu bagaimana sih suasananya?" tanya Angga.
"Kalau di luaran sih sangat sepi dan gelap. Maklum di desa kan jarak antara satu rumah dengan rumah lain berjauhan sementara penerangan jalan hanya dipasang di depan masing-masing rumah saja. Tapi kalau di rumah umumnya warga belum tidur. Mereka masih pada nonton televisi," jelas Elisa.   
"Elisa, sebenarnya aku ingin sekali kita bisa ketemuan, tidak hanya sekedar ngobrol lewat FB. Sayangnya sampai sekarang aku belum menemukan waktu yang longgar untuk berkunjung ke rumahmu. Kegiatanku banyak sekali. Bahkan pada hari minggu aku selalu ada kegiatan di luar sekolah," kata Angga mengalihkan pembicaraan.
"Kamu rupanya seorang aktivis ya? Apa saja sih aktivitasmu di sekolah?" tanya Elisa.
"Aku jadi pengurus OSIS dan juga kapten tim futsal di sekolahku. Tim futsalku sudah cukup terkenal karena sering juara dalam setiap pertandingan antar grup futsal di kotaku. Makanya undangan bertanding cukup banyak. Dan itu cukup menyita waktuku," jelas Angga.
"Kamu pasti jadi cowok bintang di sekolah dan selalu dikerubuti teman-teman cewek di sekolah," pancing Elisa.
"Ah, enggak. Biasa saja. Memangnya aku selebritis yang suka dikerubuti penggemar?" tanya Angga sambil senyum sendiri.
"Kamu kan aktivis dan ganteng. Aku yakin kau punya banyak penggemar cewek di sekolahmu," kata Elisa.

Disebut ganteng oleh Elisa, Angga benar-benar merasa tersanjung.
"Kalau kegiatanmu apa saja Elisa?" tanya Angga. 


"Sepulang sekolah, biasanya aku pergi ke pekarangan rumah untuk melihat dan merawat tanaman-tanaman hasil pembibitanku. Biasanya aku tanam dalam pot atau polybag. Jenis tanamannya tidak hanya satu saja tapi banyak sekali! Mulai dari mangga, nangka, jeruk, jambu, kedondong, rambutan, dll," kata Elisa.


"Untuk apa kau tanam begitu banyak jenis tanaman?" tanya Angga dengan rasa ingin tahu yang besar sekali.


"Sebagian besar untuk dijual ke pedagang tanaman atau langsung dibeli oleh pemilik kebun. Beberapa kita tanam sendiri," kata Elisa.
"Pemasarannya bagaimana?" tanya Angga makin penasaran.
"Para pedagang tanaman atau pembeli yang lain kebanyakan datang sendiri ke rumah. Mereka pilih sendiri bibit-bibit tanaman yang ada di kebunku. Banyak juga pesanan lewat internet. Beberapa bulan ini aku bikin website untuk menjual bibit-bibit tanamanku," ungkap Elisa.


"Hm, kamu ternyata jauh lebih hebat dari yang aku bayangkan. Kamu tidak hanya cantik tapi pintar. Baru SMA saja sudah pandai bisnis. Kalau semua orang di desa punya pemikiran seperti kamu, pasti pertanian Indonesia akan maju sekali. Kita nggak perlu lagi ekspor pangan,"  kata Angga terkagum-kagum.


"Angga apa kamu keberatan kalau suatu saat aku minta bantuan kamu mencarikan buku-buku tentang tanaman. Kalau di kotamu kan banyak toko-toko buku besar yang menjual berbagai buku tentang tanaman. Kalau di desaku ini nggak ada toko buku. Bagaimana Angga?" tanya Elisa.


"Oh, tentu saja aku tidak keberatan, Elisa. Dengan senang hati aku akan mencarikan buku-buku yang kamu butuhkan.  Nama websitemu apa sih? Aku ingin lihat-lihat foto-foto kebun bibitmu dan contoh bibit-bibit tanamanmu. Aku mau bantu promosinya dengan menunjukkan websitemu ke teman-teman dan kenalanku. Mungkin mereka berminat untuk membeli bibit-bibit tanamanmu," kata Angga.


"Jualanekatanaman.com. Makasih Angga bila kau mau bantu promosikan bisnisku. Bila kamu berkunjung ke rumahku, kamu akan tahu lebih jelas lagi kebun pembibitanku. Dan aku juga akan perlihatkan padamu bibit-bibit tanaman yang sudah aku pindahkan dari pot atau polybag ke tempat penanaman permanen dan kini pohonnya sudah cukup besar," ujar Elisa.


"Wah aku jadi ingin  tanami halaman depan rumahku dengan pohon mangga atau jambu biar rumahku jadi rindang dan sejuk. Dan kalau berbuah tentu itu sangat menyenangkan. Setiap musim buah, aku dan keluargaku tak perlu beli di luar. Aku merasa halaman depan rumahku gersang sekali karena nggak ada tanaman perindangnya," kata Angga.
"Di halaman rumahmu benar-benar nggak ada tanamannya ya?" tanya Elisa.
"Di halaman depan rumah ada taman yang berisi rumput dan tanaman bunga. Memang kelihatannya hijau tapi karena nggak ada pohon perindangnya hawanya jadi menyengat sekali dan terkesan gersang," kata Angga.


"Aku bisa kirimi kamu bibit tanaman buah. Kau bisa pilih mau tanaman mangga, jambu atau yang lain?" tanya Elisa.
"Nggak usah Elisa, terima kasih. Nanti kerepotan ngirimnya. Ongkos kirimnya kan jelas mahal. Di kotaku banyak kok orang jualan bibit tanaman. Kalau ada waktu longgar biar aku beli di toko bibit tanaman," tutur Angga.


"Ngga, bener nih, kamu mau main ke rumahku?" tanya Elisa.
"Mungkin aku baru bisa berkunjung ke rumahmu pada liburan semester. Rasanya aku sudah nggak sabar berkunjung ke rumahmu," kata Angga.
"Bener ya? Aku akan dengan senang hati menunggu kedatanganmu," ujar Elisa.
"Aku punya famili yang tinggal di kotamu. Jadi kalau kelak aku berkunjung ke rumahmu aku bisa menginap di rumah familiku," ucap Angga.

Malam sudah mulai larut. Mereka pun mengakhiri pembicaraan.
"Selamat malam Elisa. Selamat bobok"
"Selamat malam Angga. Selamat mimpi indah."

Jumat, 12 Agustus 2016

Sebuah Surat Cinta Untuk Mary Haskell

Sebuah Surat Cinta Untuk Mary Haskell

Pada April 1904 pembimbing seni Gibran, Fred Holland Day menggelar pameran karya-karya Gibran di studinya. Lukisan Gibran telah mendapatkan ulasan yang positif, namun belum ada pembelinya. Diantara para pengunjung pameran, ada seorang wanita yang tersentuh hatinya dengan karya  Gibran yang bernuansa relijius itu. Ia adalah Mary Haskell. Ia menawarkan kepada Gibran untuk memamerkan lukisan-lukisannya  di sekolahnya.  Dari pertemuan ini bersemi jalinan persahabatan dan cinta dalam waktu yang lama sekali.

Mary Haskell adalah seorang wanita yang kaya dan memimpin sekolah swasta untuk gadis-gadis Boston.  Dalam pertemuan di pameran lukisan itu, Mary sempat bertanya ”Mengapa Anda menggambar tubuh manusia selalu telanjang?” Jawab Gibran, ”Karena kehidupan itu telanjang. Sebuah tubuh yang telanjang adalah simbol kehidupan yang paling benar dan mulia. Jika saya menggambar gunung sebagai sebuah timbunan beragam bentuk manusia atau menggambar air terjun dalam bentuk tubuh-tubuh manusia yang meluncur bergulung-gulung ke bawah, itu karena saya melihat gunung sebagai benda yang hidup dan air terjun sebagai lapisan-lapisan kehidupan sekarang.”


Tidak seperti Peabody dan wanita-wanita lain yang keluar masuk dalam kehidupan Gibran, Mary adalah seorang pebisnis wanita yang gigih dalam menjalin hubungan dengan sang penyair. Ia punya pandangan bahwa Gibran adalah orang yang paling penting yang pernah ia temui dan menjadi tanggungjawabnya untuk mendukungnya dan mendokumentasikan kehidupan intelektual dan artistiknya. 


Ia mencatat percakapan-percakapan mereka dan menyimpan sketsa-sketsa dan karya-karya Gibran yang lain dengan catatan yang sangat detil. Ia mendukungnya secara intelektual, finansial, dan emosional. Karenanya ia tak segan-segan menguras hartanya dan memberikan kasih sayangnya demi kemajuan Kahlil Gibran. 


Mary menjadi motivator bagi Gibran untuk mencipta puisi dan lukisan, memperkenalkannya pada komunitas seni dan sastra,  menjadi tutor bahasa Inggrisnya, menjadi penyandang dana pendidikannya di Paris dan pamerannya di AS, dan mengedit karya-karya tulisnya.
Mary Haskell, yang berusia tiga puluh pada waktu itu dan sepuluh tahun lebih tua dari Gibran, adalah seorang wanita berpendidikan, berkemauan keras dan independen dan juga aktif dalam gerakan emansipasi perempuan, yang berbeda karakternya dengan Josephine Peabody yang romantis. 


Pentingnya hubungan Mary dengan Gibran tertuang dalam buku hariannya. Dalam buku itu ia merekam perkembangan artistik Gibran, percakapan pribadi dan intelektual mereka, dan pikiran terdalamnya selama hampir tujuh belas setengah tahun. Catatan-catatan ini telah memberikan pemahaman yang berharga bagi para kritikus tentang pemikiran dan ide-ide pribadi Gibran, yang selama ini tidak terlihat dalam pandangan publik.


Pada tahun 1908 dengan bantuan biaya Mary Haskell, Gibran ke Paris untuk belajar tentang seni di Academie Yulien dari Ecole Des Beaux Arts. Di Paris ia meningkatkan keahliannya dengan pastel dan minyak dan terkesan dengan lukisan simbolis dari Eugene Carrière. Ia juga berkenalan dengan karya seni William Blake sesudah mendapatkan sebuah buku puisi Blake. Lukisan Gibran Autumn, seorang wanita telanjang, diterima untuk pameran dekat Société Nationale des Beaux-Arts, dan dia diundang untuk menyumbang 6 lukisan pada pameran prestisius lainnya. 


Gibran membuat seri potret artis-artis terkemuka, dimana yang paling terkenal adalah Auguste Rodin. Ia lalu menekankan pengaruh Rodin kepadanya. Tapi walaupun ia mengenal Rodin, ia tidak memiliki hubungan pribadi dengan pematung itu. Di Paris ia juga menemukan karya-karya filsuf Jerman Friedrich Nietzsche, yang memberikan pengaruh besar pada tulisannya. Ia bertemu dengan beberapa politisi Syria buangan dan penulis Lebanon-Amerika Amin Rihani, yang menjadi temannya sekaligus sekutu sastranya. Akhirnya uangnya habis, dan ia kembali ke Boston AS pada Oktober 1910. 


Setelah kembali dari Paris, Gibran merasa tak lagi menyukai Boston yang dinilainya sudah terlalu menyesakkan. Haskell mendorongnya untuk pindah ke New York. Pada April 1911, ia mendorong Gibran untuk mengunjungi kota itu dan pada September tahun 1912, Gibran pindah ke New York dengan menggunakan $ 5.000 uang dari Haskell untuk menyewa sebuah apartemen di Greenwich Village.


Pada 7 September 1920 untuk pertama kalinya Gibran memperlihatkan konsep tulisan karya terbesarnya The Prophet” kepada Mary Elizabeth Haskell. Bagi Gibran, The Prophet bersifat sangat pribadi. Di situ ia diwakili oleh tokoh Al Mustafa, “... yang tercinta dan terpilih... dialah subuh yang memasuki harinya sendiri.” Hingga tahun 1923, ketika bertemu lagi dengan Mary, Gibran mengaku masih menggarap The Prophet.


Referensi paling awal untuk buku ini, yang menggambarkan seorang nabi misterius yang membimbing umatnya sebelum kembali ke tanah airnya, dapat ditemukan pada jurnal Haskell dari tahun 1912.


Pada 1918, Gibran kembali menceritakan kepada Mary, konsep bukunya the Prophet. Ia menjelaskan, berdasarkan pengasingan seorang pria Promethean ke sebuah pulau, The Prophet mengisahkan perjalanan orang terbuang bernama Al Mustafa, atau Chosen One. Dalam buku hariannya, Mary menceritakan renungan Gibran tentang buku tersebut, yang kemudian disebut “buku pertama dalam karir perbukuan saya yang benar-benar nyata, buah kematangan saya“.


Di sekitar waktu itu Haskell bertanya kepada Gibran apakah ia bisa dengan jujur ​​ mengatakan kepada Minis bahwa dia mencintainya ‘’lebih baik dari orang lain di dunia’’, seperti yang ia sering tanyakan padanya. Gibran bilang dia bisa mengatakan ya, karena ‘’setiap cinta adalah yang terbaik di dunia, dan tersayang’’.


Dengan jawaban seperti itu Gibran telah membantu Mary mencapai keputusan menikah dengan Minis. Namun ini membuat hubungan mereka bak diselimuti mendung. Gibran terus curhat kepada Mary, dan dia menceritakan tentang bagian-bagian kedua dan ketiga The Prophet yang sedang ia tulis. Bagian kedua ia beri judul The Garden of the Prophet  yang bertutur tentang kisah kehidupan the Prophet yang menghabiskan waktunya di kebun di sebuah pulau dimana ia berbicara kepada para pengikutnya. Bagian ketiga ia beri judul The Death of the Prophet yang bertutur tentang kembalinya Sang Nabi dari pulau itu dan bagaimana dia dipenjara dan dibebaskan hanya untuk dilempari batu sampai mati di pasar. Proyek Gibran itu tidak pernah selesai, karena kesehatannya yang kian memburuk. Dan juga karena keasyikannya menulis bukunya terpanjang dalam bahasa Inggris, Jesus, the Son of Man.


Pada tahun 1923 Haskell, yang secara finansial dan emosional kecapaian, pindah ke Savannah, Georgia, dan menjadi istri seorang duda tua, Kolonel Jacob Florence Minis pada tahun 1926. Tapi kepercayaannya terhadap pentingnya karya sastra dan seni Gibran tidak pernah goyah, dan dia terus mengedit naskah bahasa Inggris Gibran secara diam-diam karena Minis tidak menyukai Gibran.


Sambil menjaga rumah untuk Minis di Savannah, Haskell juga mencatat pikirannya tentang Gibran di buku hariannya dalam bentuk kode.


Karya kolaborasi Gibran dan Haskell, The Prophet, akhirnya diterbitkan pada September 1923. Karya itu dimulai dengan nabi Almustafa yang bersiap meninggalkan kota Orphalese, dimana ia tinggal selama 12 tahun, untuk kembali ke tanah kelahirannya. Orang-orang di kota itu berkumpul dan memintanya untuk tidak pergi, tapi salah satu pendukungnya Almitra, yang mengetahui kapalnya telah datang, memintanya mengatakan kepada mereka tentang kebenaran. Mereka menanyainya tentang tema-tema besar kehidupan manusia: cinta, pernikahan, anak, memberi, makan dan minum, dan banyak yang lain, termasuk kematian. Almustafa berbicara tentang masing-masing tema dengan kata-kata bijak secara lantang dan dengan bahasa yang sederhana, yang dikelompokkan ke dalam 26 bab pendek. Seperti buku-bukunya yang terdahulu, Gibran memberi gambar ilustrasi The Prophet dengan lukisannya sendiri, menambah kekuatan karyanya.

Rabu, 03 Agustus 2016

Cinta Abadi Seorang Musisi

Cinta Abadi Seorang Musisi
 
Maut Memisahkan Mereka
John Lennon selalu membuat berita. Senang dan sedih, applause, affair, hingga karya-karya masterpiece. Hingga kemudian tiba saatnya Lennon harus terhenti. Tanggal 8 Desember 1980, terjadi sebuah tragedi bagi dunia musik. John Lennon tewas tertembak oleh seorang mantan pemuja dan fan bernama Mark David Chapman. Penembakan ini tepat terjadi di depan pintu apartemen Dakota, tempat tinggal John di Amerika, sepulangnya dari studio rekaman. Penembakan terjadi sekitar jam 11 malam. 

Akibat penembakan itu di tubuh John bersarang lima butir peluru yang mengakibatkan pendarahan hebat. Nyawanya tak bisa diselamatkan lagi saat tiba di rumah sakit Roosevelt Hospital. 

Peristiwa itu mengakhiri masa sekitar lima tahun kisah bahagia rumah tangga John-Yoko paska perpisahan mereka pada tahun 1974. Selama lima tahun itu John telah mengubah gaya hidupnya secara radikal dari orang yang liar yang suka  mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan mabuk-mabukan menjadi orang yang lebih tenang dan alim.  Dan yang paling mengejutkan adalah ia bertukar peran dengan istrinya: ia mengurus rumah tangga dan mengasuh anak, sedangkan Yoko yang mencari nafkah dengan berbisnis. Lalu ia menaruh nama Ono pada namnya sehingga menjadi John Winston Ono Lennon.

Saat-saat menjelang kematiannya John mulai terjun kembali menjalani karir musik yang sudah bertahun-tahun ditinggalkannya.

Comeback ke Dunia Musik
Dalam Lennon’s downfall: Had it not been for one last touching act of love, he might still be alive today tertanggal 8 Oktober 2008 di laman dailymail, Philip Norman memaparkan,  perjalanan ke Bermuda tampaknya memberikan Lennon suatu inspirasi untuk kembali bermusik sebelum peristiwa pembunuhan dirinya pada Desember 1980.
Duduk dengan perekam kaset pada musim gugur tahun 1979 John Lennon mengumumkan akan membuat rekaman kisah hidup John Winston Ono Lennon yang masih terus berjalan. Tujuannya adalah untuk mengenang kembali masa kecil untuk biografi yang ia janjikan akan ditulisnya sendiri.


Ia mulai dengan sebuah deskripsi rumah teras dekat Penny Lane di Liverpool di mana ia hidup sebagai balita. Dia merenungkan hal pertama yang bisa ia ingat dan ia memutuskan itu adalah ‘mimpi buruk’. Lalu tiba-tiba dia mengeluh: “Ini membosankan. Saya tidak dapat diganggu.” Dan begitulah yang terjadi.

Ketika memasuki usia 40 tahunnya, kesadaran yang mengerikan itu menghampirnya secara bertubi-tubi. Yang dominan adalah gambaran di masa lalu daripada masa yang akan datang. Ia merasakan hari-hari berlalu demikian cepat. Hitungan minggu seolah-olah menjadi hari, dan tahun bergulir seperti bulan.

Dia mulai khawatir bahwa anaknya Sean tumbuh terlalu cepat. Ia khawatir tiba-tiba saja tidak lagi diperlukan untuk mengawasi waktu mandi atau menyanyikan lagu pengantar tidurnya, karena ia bahagia melakukannya selama empat tahun terakhir sebagai ‘bapak rumah tangga’ di keluarga Lennon-Yoko Ono di apartemen mereka di New York. Dia pernah berkata: “Saat kita berusia 80 tahun, kita akan berada di kursi goyang, menunggu kartu pos Sean,” kenang Yoko.

Ia bahkan berspekulasi tentang apa yang mungkin mereka berdua lakukan untuk mengisi kekosongan dalam hidup mereka setelah Sean sudah pergi ke Universitas. Satu gagasannya ialah kembali ke Inggris dan bergabung dengan komunitas seniman terkenal di St Ives.

Pada kesempatan lain ia melihat masa depan yang suram. Yoko ingat, John kadang-kadang terbangun di malam hari dan menemukan dia menangis, dilanda ketakutan dia akan mati sebelum dia. Ini pemikiran logis karena Yoko tujuh tahun lebih tua. John, tetap sepenuhnya setia padanya. Setidaknya itu yang ia tahu atau ingin tahu. Tapi itu tidak berarti dia tidak rakus seksual seperti biasa.


Pada rekaman yang sama dimana ia mulai (dan menyelesaikan) otobiografinya, ia membahas sebuah wawancara yang ia baca dengan EM Forster, salah satu novelis Inggris terbesar abad ke-20, yang hidup pada tahun 90-an, tapi tidak pernah menjadi damai karena homoseksualitasnya sendiri.

Forster selalu berharap bahwa ketika ia mencapai usia lanjut, dorongan seksualnya akan lenyap, tetapi kenyataannya sebaliknya. Ia mengatakan kepada pewawancara, Truman Capote, dorongan itu justru makin lama semakin membebani. John berkomentar, “Betul, karena Saya menunggu dorongan seksualku menurun. Bahkan Saya berharap itu akan pergi selamanya.”


Ketika memasuki usia paruh baya ia menjadi semakin nostalgik tentang tanah airnya, merindukan institusi dan nilai-nilai Inggris yang pernah ditolak. Dia suka menonton serial klasik BBC di televisi seperti  “Saya, Claudius” atau “Daphne du Maurier Rebecca”.
Kepada Bibi Mimi, wanita yang membesarkannya, ia mengirim serangkaian permintaan untuk kenang-kenangan dari masa lalu. Dia ingin peralatan minum teh Royal Worcester yang terus ia pajang di ruang depan rumah semi pinggiran kotanya, yang pernah ternoda oleh setitik terkecil dari debu. 

Ia ingin Bibi Mimi mengirimkan jaket seragam Sekolah Tinggi Quarry Bank, yang pernah dibencinya dan dasi bergaris hitam dan emas kepunyaannya. Tapi ternyata sudah hilang. Ia ingat apabila harus memakai jas itu, ia sering melepasnya dengan dasi setengah terikat dan miring. 

Meskipun ia berpura-pura tidak peduli, akhirnya ia memikirkan juga kelompok grup band Paul McCartney paska Beatles, Wings, yang menggelar atraksi konser terbesar di dunia dan bahwa lagu Paul “Mull Of Kintyre” telah terjual lebih banyak di Inggris daripada lagu She Loves You-nya The Beatles. 

Rasa tidak aman tersebut membuatnya terserang hawa terdingin yang pernah dirasakannya di tengah malam. Ia lalu membangunkan Yoko untuk curhat. Ia tanpa henti disertai rasa cemas mengungkapkan kecemburuannya terhadap Paul, temannya di The Beatles, yang mendapatkan fasilitas menggiurkan dan tidak dimilikinya. 


Ia ingat Lennon berkata: “Mereka selalu meliput lagu-lagu Paul, mereka tidak pernah meliput kepunyaanku.” Lennon juga mengeluh George Harrison telah menyingkirkannya dalam otobiografinya. John terluka dan marah, karena merasa semua yang telah ia lakukan untuk George nyaris tidak disebutkan sama sekali.


“Dia ingat setiap pemain saksofon dua-bit atau gitaris, tapi aku ditinggalkan seolah-olah aku tidak ada,” kata John kepada Yoko. Padahal sebenarnya, John menerima 11 penyebutan, lebih dari Paul, The Beatles, Eric Clapton atau bahkan istri kedua George, Olivia.
John nyaris absen dari bisnis musik ketika putranya Sean lahir dan, menginjak tahun 80-an, ia mengubah kiblat musiknya dari super grup ke arah punk rock. Tapi The Beatles sama sekali tak terlupakan. Koran yang hiruk pikuk dengan berita Sex Pistols masih menyisakan ruangan bagi rumor reuni The Beatles.  Promotor Amerika, Sid Bernstein, memasang iklan satu halaman penuh di New York Times yang menawarkan lebih banyak uang untuk pertunjukan reuni itu dengan tiket yang paling panas di bumi walau The Beatles sudah tak main musik selama puluhan tahun. 

Paul, George dan Ringo dilaporkan tidak setuju. Band ini telah memberikan dunia kepada mereka semua selama sepuluh tahun. John tampaknya juga tidak setuju ketika ia berpendapat, “Jika mereka mencoba tampil bersama sekarang setelah sekian lama tak bermain musik bersama, mereka tak lebih ‹hanya empat orangtua berkarat›.”
Ketika ulang tahun ke-40 tiba, ia merasakan desakan keinginan (biasa terjadi pada banyak pria paruh baya) untuk melakukan beberapa petualangan besar yang belum pernah dialami sebelumnya. Dia telah belajar untuk berlayar di Long Island, di mana ia dan Yoko memiliki rumah akhir pekan. Sekarang dia mulai membahas kemungkinan perjalanan kapal pesiar ke perairan yang lebih menantang.
Dia memilih Bermuda sebagai tujuannya (atau lebih tepatnya,  atas saran astrolog, numerolog dan paranormalnya Yoko) dan berangkat dari daerah pesisir Amerika dengan sekoci sepanjang 43 kaki, Megan Jaye, yang dinahkodai orang berpengalaman dan berjanggut bernama Hank Halsted. Itu adalah sebuah perjalanan yang berjarak 700 mil yang mengarungi rute tangker sibuk dan zona udara yang sulit ditebak dan meliputi Segi Tiga Bermuda yang terkenal.
Beberapa hari melaut, mereka menikmati sinar matahari yang cerah tanpa terputus dengan laut datar dan lumba-lumba berlompatan ke udara. John gembira sekali.  Dalam kabin bersama dengan empat kru lainnya, ia menemukan dirinya hidup jauh lebih dekat dengan orang lain dibanding saat berkeliling dengan van untuk pertunjukan bersama The Beatles sebelum mereka menjadi terkenal. 

Kemudian, entah dari mana, badai pecah, dengan angin berkecepatan  65mph dan gelombang 20ft. Ketika Megan Jaye bergoyang dan kendali kapal kacau, tiga awak sekoci jatuh karena mabuk laut mengerikan dan bersujud di ranjang mereka. Kapten Hank tidak terpengaruh -dan yang luar biasa, adalah John.
Kapten Hank tinggal di kemudi selama 48 jam, kemudian, bingung. Karena kelelahan, ia lalu berteriak kepada John: “Aku butuh bantuanmu di sini, laki-laki besar. Datang dan pegang kemudi ini. Aku akan memberitahu Anda apa yang harus dilakukan.”
John yang tidak berpengalaman merasa terkejut. Ia merasa seolah-olah The Quarrymen, kelompok band sekolahnya sebelum The Beatles, telah diminta untuk mendukung veteran rocker seperti Jerry Lee Lewis. “Hei Hank,” ia memprotes, “Aku hanya memiliki otot kecil untuk memainkan gitar di sini.”
Tapi kapten tidak akan menghindari tanggungjawab, dan John dengan hati-hati mengambilalih sebagai juru mudi. Kapten Hank memberikan instruksi dasar dan kemudian pergi di bawah untuk tidur sejenak.

John awalnya hampir lumpuh karena panik. Tapi secara bertahap ia bisa menguasai kapal dan mulai paham bagaimana mengendalikannya, seolah-olah ia sedang memegang bodi gitar perak yang besar.

Rasa takutnya hilang dan ia mulai menikmat deru  angin  dan gelombang laut yang pernah ia dengar di sekitar dermaga Liverpool.
“Ketika saya kembali ke dek ini adalah orang yang baru saja terpesona,” kenang Kapten Hank. “Itu stimulus yang layak bagi seorang pria pecandu stimulus.”

Kapten Hank tidak heran bahwa John tertarik dengan tantangan itu. “Saya pikir pada perjalanan itu ia menemukan laki-laki yang luar biasa kuat yang selalu ada di dalam dirinya.”
John pasti menemukan sesuatu, karena petualangan Megan Jaye mendorong dia untuk membuat musik lagi, dan dia tiba-tiba terperangkap hasrat untuk menciptakan album yang lain. «Saya begitu fokus sesudah pengalaman di laut,” John berkata, “Semua lagu-lagu ini datang, sesudah lima tahun tidak ada sesuatupun, tidak ada inspirasi, tidak ada pikiran, tidak ada apa-apa, kemudian tiba-tiba bruk bruk bruk.” 

Kenyataannya, ia tidak pernah berhenti membuat musik selama masa pensiunnya, merekam sejumlah ide-ide lagu pada tape, tapi tidak pernah menekuninya. Lagu yang ia tulis di Bermuda semua berkaitan dengan kehidupan yang ia jalani sejak Sean lahir dan kehidupan itu sudah teruji, kurang lebihnya, merupakan suatu kehidupan yang bahagia dan bermakna.
Beautiful Boy adalah sebuah lagu pujian kepada putranya, meneropong dunia pengasuhannya yang aman dan hangat dan membuatnya tak sabar melihatnya tumbuh dengan ingatan diri yang tajam untuk menghargai setiap peristiwa. (“Kehidupan adalah apa yang terjadi padamu sementara Anda sibuk membuat rencana lain”).
Sebuah lagu lain Starting Over, menandakan bahwa apa pun yang terjadi di Segitiga Bermuda pernikahannya telah selamat, kembali stabil dan membuatnya percaya diri melangkah ke depan. Adalah sebuah pernyataannya pada Yoko bahwa “kehidupan bersama kami begitu berharga” dan “cinta kami masih spesial”. Awan gelap tampaknya sepenuhnya telah berlalu.


Kabar bahwa John Lennon kembali dalam bisnis musik menciptakan kehebohan ke seluruh industri musik, yang sudah lama tidak mendengar kabarnya. Tapi sesi di studio tidak seperti sesi di masa lalu yang penuh gejolak.
Dalam album barunya itu, John tidak melibatkan teman-teman lama yang mungkin menyebabkan dia tersesat, dan suasana studio lebih bernuansa spa yang sehat dibandingkan ketika membuat album rock.  Sebagai pengganti kokain dan cognac, kru band diberi hidangan teh dan sushi, sepiring biji bunga matahari dan kismis berdiri di samping setiap mikrofon. Foto Sean menggantung di atas meja pengolahan musik,  sebagai pengingat tetap kapan sesi harus berakhir dan John harus pulang dan mengucapkan selamat malam kepadanya.
Peluncuran album baru melemparkan kehidupan John kembali ke arena publik. Ada desas-desus bahwa masa pensiunnya telah membawa perubahan fisik yang menakutkan yang mungkin menyebabkan ia enggan tampil lagi di depan publik. Beberapa laporan mengatakan, ia telah menjadi botak sepenuhnya.Yang lainnya menyebutkan sekat hidungnya hancur karena kokain.
Namun John yang lama, yaitu sedikit lebih kurus dan lebih banyak garis wajah, tetap sama. Rambutnya masih gondrong bergaya Beatles, dan aksennya tidak berubah. Berikutnya kepandaian, kejujuran dan kecerdasannya sama. Tapi yang jelas ia lebih tenang dan kalem, seolah-olah dalam dirinya badai telah berlalu.

Sepertinya ia tak peduli dengan penghinaan, pelecehan dan kutukan yang berlimpah pada dekade terakhir. Ia masih bersama Yoko setiap saat. Yang mengejutkan ide-ide lama John dan Yoko telah menghilang selamanya dan bahwa mereka telah berubah menjadi tenang, pasangan paruh baya, menghirup Ovaltine dan menonton TV.


Teman lama John, fotografer Bob Gruen, ingat pertemuan dengannya pada waktu itu dan  terkesan dengan betapa tampak bahagianya John. Dia berbicara tentang membuat sebuah band baru bersama-sama dan bahkan akan kembali ke jalanan.
“Ia tampak memiliki visi yang demikian positif dan suatu harapan akan masa depan. Dia menemukan dia bisa menyatu dengan keluarganya dan terbius, dan masih memberikan pesan orang bisa saling berhubungan. Dia akhirnya tampak memahami apa itu hidup.”
 John mulai serius berpikir tentang kembali ke Inggris yang telah ia janjikan kepada keluarganya di sana selama bertahun-tahun. Nostalgianya telah meningkat sampai titik di mana ia akan tersedak setiap kali mendengar nama Liverpool. 

Ia mengatakan pada Bibi Mimi bahwa pada malam ia memandang keluar jendela yang menghadap ke arah kota kelahirannya, ia akan melihat kapal-kapal meninggalkan pelabuhan dan bertanya-tanya apakah kapal-kapal itu akan menuju ke sana. «Ia sangat rindu kampung halaman pada akhirnya,” kata Mimi. “Ia ingin pulang untuk berlayar sampai Mersey dengan QE2.”
Ucapan John itu bukan hanya untuk menyenangkan Mimi. Dia menyatakan niat yang sama ketika ia menerima telepon dari seorang teman di  Liverpool yang sudah selama 15 tahun tidak berbicara dengannya.
John bertutur akan berlayar dengan QE2, dan temannya berjanji untuk mencari tahu apakah Mersey bisa dimasuki sebuah kapal besar. Kepada orang lain, John mengatakan bahwa setelah perjalanan bersama Megan Jaye, dia naksir berlayar melintasi Atlantik.
Dia punya rencana samar-samar dalam pikiran. Dalam rekaman pribadi, pikiran dan renungan aneh ditemukan setelah kematiannya. Ia terdengar berjanji akan membawa kembali Sean kembali ke tanah air pada tahun 1981, “Karena itu adalah tahun yang baik untuk pergi.” Namun kenyataannya itu adalah tahun yang tidak pernah ia jalani.


Bagi mereka yang percaya takhayul, maka akan menjadi teka-teki besar mengapa astrolog, numerolog dan paranormal Yoko yang selalu membentengi mereka dari bahaya tidak mengirim dia pergi pada perjalanan ke ujung dunia.  Kemudian, Yoko menyadari bahwa ia telah menerima peringatan miring dan ambigu dari seorang paranormal yang meramalkan “seorang wanita dan dia menangis seperti orang gila. Saya pikir dia adikmu karena dia terlihat sangat mirip seperti Anda. Dia memiliki seorang anak laki-laki, dan dia menjaganya dan dia akan hancur tentang sesuatu”. Yoko kemudian menyimpulkan: “Itu adalah aku yang ia bicarakan.” 


Tapi tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan Mark Chapman, seorang tipikal kutu buku, kelebihan berat badan dan tanpa keistimewaan, yang hiburan utama dari ketidakbahagian hidupnya adalah musik Beatles, akan membunuh John.
Senin sore, 8 Desember 1980 (malamnya John ditembak), John ada di studio sedang bekerja dengan Yoko. Ia menyempatkan diri untuk menelpon Bibi Mimi dan berbicara lebih jauh tentang rencana pulang kampung yang akan segera dilakukannya ke Liverpool.
Ketika mereka berhenti bekerja, sekitar pukul 22.30, Yoko ingin terus makan malam, tapi John  ingin langsung kembali ke rumah mereka di blog rumah besar Dakota. Ia harus memberi Sean ciuman selamat malam. «Hal terakhir yang ada di pikirannya,” kenang Yoko, “pulang dan melihat Sean sebelum ia tidur.” 

Chapman sedang menunggu di luar apartemen Dakota dengan senapan tangan berkaliber 38. Begitu John tampak di hadapannya, ia mengambil kuda-kuda pertarungan saling berhadapan yang sering ditemui di film-film polisi yang tak terhitung jumlahnya, dan melontarkan lima tembakan yang mengakhiri hidup John.


Sean Lennon ingat bangun keesokan harinya dan tidak menemukan ayahnya. Ia hanya menemukan orang-orang asing berwajah muram datang dan pergi di apartemen.
Dia lalu dipanggil ke samping tempat tidur Yoko. Wanita itu lalu berkata padanya, “Ayahmu sudah ditembak dan dibunuh”. Sean menjawab, “Jangan khawatir, Mom, kau masih muda. Anda akan menemukan orang lain.” Tentu ini ucapan yang dewasa untuk anak yang berusia lima tahun.
Sean melakukan hal terbaiknya untuk tidak menangis ketika ia berjalan dengan lambat dari ruangannya. Begitu ibunya tak melihatnya, Sean mengatakan, “Aku menghamburkan air mata dan Saya menangis sepanjang hari”. 

Dari luar, ia dapat mendengar kerumunan jalan di bawah dan di Central Park, melantunkan lagu-lagu perdamaian ayahnya di antara air mata mereka sendiri sebagai gelombang kesedihan, yang  menggema di seluruh dunia.

Bersambung....
A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter