Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychology. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Maret 2017

Pengaruh Musik pada Anak

Pengaruh Musik pada Anak
bookcyrcle.com - Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring". Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.

Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, "Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia".

Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik. "Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony", demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. "Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh".



Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Kita masih ingat dengan "head banger", suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng. Bahkan di luar negeri, pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritualritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. "Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony", ujar Ev. Andreas Christanday. Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda.

Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.

Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia.

Wulaningrum Wibisono, S.Psi mengatakan, "Jikalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi".

Selasa, 07 Maret 2017

Apa benar yang bungsu lebih bodoh?

Apa benar yang bungsu lebih bodoh?
bookcyrcle.com - Kalau urutan anak dikaitkan dengan kepintaran seseorang nampaknya hal itu hanya mitos. Bayangkan bagaimana rasanya dikatakan bodoh hanya gara-gara urutan kelahiran kita kebetulan di urutan terakhir di antara saudara-saudara kita lainnya. Ada kepercayaan yang tertanam dalam benak sebagian orang bahwa IQ anak-anak berkaitan dengan urutan kelahiran. Dengan kata lain Anda yang merasa sebagai anak bungsu wajib bersedih karena anda merupakan urutan terakhir dari kepintaran alias yang paling bodoh.

Tapi nanti dulu, Anda tidak perlu duduk termenung memikirkan nasib Anda yang 'sial'. Sebuah penelitian baru membuktikan sama sekali keliru anggapan bahwa semakin bungsu mereka (urutan kelahiran paling akhir), anak-anak akan semakin tidak cerdas. Kelihatannya, anak nomor dua tidak selalu lebih pintar daripada anak nomor tiga dan seterusnya.

Kecerdasan tidak dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga atau oleh tempat anak itu dalam urutan kelahiran keluarga, sebaliknya faktor seperti warisan genetika, IQ orang tua, jumlah bacaan yang disediakan di rumah dan mutu sekolah lebih penting untuk menentukan kecerdasan anak-anak, demikian dikatakan para peneliti ini.

"Sebenarnya sebuah keluarga kemungkinan akan menyebarkan sumber kecerdasan ke sebanyak apapun anak yang mereka miliki", kata seorang penulis studi tersebut Joseph Lee Rodgers, psikolog dari Universitas Oklahoma. Baik jumlah anak dalam keluarga maupun urutan kelahiran seorang anak dalam keluarga tertentu tidak dapat meramalkan nilai IQ-nya. Temuan mereka muncul dalam American Psychologist, yang diterbitkan oleh Asosiasi Piskologi AS.

Rodgers dan rekan-rekannya dari universitas lain menganalisa data dari tes inteligensi yang diberikan kepada sekitar 2.500 anak, dengan usia 5 hingga 15 tahun, dari sekitar 1.300 keluarga. Mereka mengumpulkan informasi tersebut dari "National Longitudinal Survey of Youth", sebuah studi yang sedang berjalan dan didanai pemerintah yang menyediakan informasi kepada peneliti tentang berbagai jenis topik keluarga.

Kunci terhadap temuan mereka ialah metode yang disebut analisis "dalam-keluarga" dan
membandingkan anggota-anggota keluarga satu sama lain.

Kebanyakan studi lain tentang topik ini, kata Rodgers, telah menggunakan analisis "lintas-keluarga", dengan membandingkan satu anak dari satu keluarga dengan anak lain dari keluarga lainnya. Tetapi metode tersebut menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang keliru, kata para peneliti ini.

Misalnya, katanya, anak kedua dalam satu keluarga mungkin ditemukan lebih cerdas ketimbang anak ketiga dari keluarga lainnya, dan ini telah menghasilkan kesimpulan bahwa urutan kelahiran mempengaruhi tingkat kecerdasannya.

Tetapi membandingkan anak-anak dalam keluarga yang sama dapat memperjelas bahwa urutan kelahiran dan kecerdasan anak tidak mempunyai hubungan, juga besarnya keluarga tidak ada kaitannya dengan kecerdasan anak.

Jordan Gragman, ketua ilmu saraf kognitif di Lembaga Nasional Penyimpangan Saraf dan Stroke, mengatakan temuan baru ini "sangat masuk akal." Setiap kali orang melaporkan temuan evolusi, kata Gragman, Anda mencari alasan biologis untuk menjelaskan hal tersebut. Tetapi, katanya, asumsi sebelumnya bahwa kecerdasan berkurang dalam diri setiap anak urutan berikut kelihatannya bertentangan dengan alasan orang mempunyai keluarga besar, yaitu untuk membantu mempertahankan kelangsungan ekonomi keluarga.

Ukuran lintas-keluarga telah sering digunakan di masa lalu, kata Rodgers, karena para peneliti dapat mengumpulkan data jauh lebih mudah daripada informasi dalam-keluarga.

"Sangat sulit mendapatkan data yang mencerminkan keadaan dalam keluarga, untuk membandingkan anak pertama dengan anak kedua dalam keluarga yang sama,"katanya.

Bayangkanlah betapa sulitnya, kata Rodgers, bukan hanya meminta satu anggota keluarga selama dua jam dari waktunya, tetapi kemudian meminta apakah seluruh keluarga itu dapat diwawancarai dengan menyediakan waktu yang begitu lama dan apakah masing-masing mau dites secara luas setiap dua tahun sekali.

Rabu, 15 Februari 2017

Anak Berbakat: Kebutuhan Atau Kebahagiaan?

Anak Berbakat: Kebutuhan Atau Kebahagiaan?

bookcyrcle.com- Syukurlah anda tertarik membaca tulisan ini. Yah, mungkin karena anda menanyakan hal yang sama, anda punya jawaban atas pertanyaan tersebut, atau anda bertanya-tanya mengapa saya mempertanyakan hal itu. Tidak masalah dengan alasan ketertarikan anda pada judul di atas, yang penting anda telah menyediakan energi untuk sama-sama membahas persoalan ini. Saya mempertanyakan hal itu karena seringkali saya mendapati para orang tua, terutama kaum ibu, begitu serius ketika terlibat pembicaraan mengenai prestasi yang dicapai anak-anak. Bahkan tidak jarang saya mendapat kesan para ibu saling berlomba memproklamirkan kehebatan anak-anak mereka.

Fenomena ini sudah saya rasakan sejak lebih dari lima tahun lalu dan salah satu mata rantai dari fenomena ini adalah booming pengembangan sekolah-sekolah unggulan beberapa tahun silam. Sampai akhirnya kini muncul tren sekolah bilingual dan kurikulum ganda (nasional dan internasional, mengadopsi kurikulum dari luar negeri). Masalahnya, saya khawatir masyarakat kita jadi korban industrialisasi dunia pendidikan. Sekolah bukan lagi usaha membimbing anak menggapai ilmu pengetahuan, tapi adalah sarana menuju kemenangan. Lihat saja, sekarang hampir semua anak sekolah tidak hanya belajar di sekolah. Mereka juga ikut les privat dengan alasan membantu pemahaman tentang materi ajar di sekolah dan juga les non-akademik demi pengembangan bakat (katanya). Sampai-sampai pernah ada murid saya yang tidak punya waktu bermain karena 7 hari seminggu harus berkutat dengan sekolah, les pelajaran, les piano, les bahasa asing, juga bantu orang tuanya bekerja. Saya tidak habis pikir ada orang tua setega itu, seacuh itu. Ini penghakiman memang, tapi ini juga fakta karena si anak jelas mengeluh pada saya dan prestasi belajarnya sama sekali tidak terbantu.

Dari sini saya merasa perlu bicara dengan para orang tua (dan juga guru?). Kenapa Bapak/ Ibu seringkali menilai anak-anak itu malas dan tidak punya motivasi untuk mencapai hasil terbaik? Kenapa Bapak/ Ibu selalu menyuruh anak-anak untuk belajar, bahkan ketika liburan sekolah? Saya perlu tanyakan ini karena sepengetahuan saya, tak ada orang yang tidak butuh istirahat. Seperti juga kita yang setiap hari bekerja, anak-anak juga perlu istirahat dan rekreasi. Saya juga tidak setuju bila dikatakan mereka malas karena seperti juga kita semua, hanya akan melakukan sesuatu bila kita mau dan atau merasa perlu melakukan itu.

Kebutuhanlah alasan utama mengapa orang berbuat. Dengan demikian, kita tidak boleh menyimpulkan seorang anak malas sebelum kita mengetahui alasan dia menampilkan perilaku seperti itu. Contoh: soal sekolah. Memang sudah jadi rahasia umum bahwa hampir semua anak tidak suka bersekolah. Tapi hampir tidak pernah ada pembicaraan mengapa mereka jadi tidak suka sekolah, padahal hampir semua anak juga mengatakan bahwa sekolah diperlukan.



Sampai di sini, kita telah masuk pada persoalan kedua. Salah satu kebutuhan vital buat kita semua: kenyamanan. Kita tidak akan dapat melakukan apapun dengan hasil memuaskan ketika kita tidak dalam kondisi nyaman, fisik dan psikis. Coba saja, bagaimana mungkin kita dapat bekerja baik ketika kita sakit. Bagaimana mungkin kita bisa bekerja dengan nikmat ketika setiap hari selalu saja dihantui kedatangan debt collector akibat kita tidak dapat melunasinya. Demikian juga anak. Tidak mungkin mereka bisa menikmati aktivitas sekolah ketika dia merasa kegiatan bersekolah tidak membuat nyaman akibat berbagai tekanan yang didapatnya. Apalagi lalu aktivitas itu menguasai kehidupannya sampai saat liburan sekolahpun mereka masih harus berurusan dengan beribu tugas yang dibebankan guru + celoteh orang tua soal belajar.

Intermezo saja, saya ingin memberi kritikan. Biasanya guru memberi tugas saat liburan dengan alasan anak tidak akan belajar jika tidak diberikan tugas. Pertanyaan saya, Bukankah liburan itu memang saatnya istirahat dari segala kepenatan aktivitas sekolah? Menjawab pertanyaan itu, ada guru yang berkata bahwa dia masih mengerjakan tugas saat liburan dan saya selalu saja mengatakan, Kalau kamu memilih jadi guru dan membawa pulang pekerjaan, bukan berarti murid-murid itu harus melakukan hal yang sama. Mereka boleh saja punya pilihan sendiri, mau istirahat, bermain atau tetap belajar saat liburan.

Kita kembali pada fokus pembicaraan. Jadi, jelas kita tidak boleh memaksakan apa yang kita anggap baik kepada anak-anak. Sekalipun kita tahu si anak punya potensi yang sangat bisa dikembangkan. Jika hal itu dilakukan, saya lebih dari yakin bahwa anak tidak akan merasakan kebahagiaan akibat rasa tertekan yang dialaminya. Ujungnya, hasil optimal yang diharapkan akan semakin jauh dari jangkauan. Walau begitu, bukan berarti kita tidak perlu melakukan apapun. Ada satu hal yang justru wajib kita lakukan agar anak-anak itu dapat mencapai hasil optimal sesuai potensinya. Satu hal untuk setiap sudut pandang.

Kalau anda menilai anak berbakat adalah kebutuhan, artinya anak berbakat adalah aset guna meraih kebahagiaan, satu hal itu adalah: membuat anak membutuhkan hal itu. Tidak ada orang lapar dan tidak berusaha mati-matian untuk mendapatkan makanan. Jadi agar anak mau melakukan apa yang anda inginkan, anda hanya perlu menciptakan kebutuhan itu dan dia dengan sendirinya akan berusaha mendapatkannya. Anda tidak lagi perlu memaksa/ memarahinya.

Jika anda menilai anak berbakat sebagai sebuah kebahagiaan, maka satu hal yang perlu anda lakukan adalah: membimbing si anak untuk mensyukuri apa yang dimiliki dengan merawat dan mengembangkan kelebihannya itu.

Sekarang kita bicara dampak yang dihasilkan tiap sudut pandang itu. Jika anda pakai sudut pandang kebutuhan, sangat mungkin anda akan memacu anak demi mencapai puncak prestasi dan mendapat kebahagiaan dengan memenangkan persaingan. Dalam hal ini, anda perlu mempersiapkan diri untuk mengatasi persoalan yang akan anda hadapi. Diantaranya, anak ternyata tidak memiliki potensi sebesar yang anda kira. Anak mogok karena kejenuhan yang dirasakan sudah mencapai puncaknya.

Atau si anak meninggalkan anda, dalam arti emosional dan atau fisik.
Jika berhasil menciptakan kebutuhan itu dan anak akhirnya melakukan apa yang anda inginkan, jangan kaget ketika satu saat anda merasa dia jadi kurang ajar karena merasa hebat. Artinya, jika ini yang anda rencanakan, coba pelajari dulu potensi anak sebenarnya, keinginan dan kebutuhan si anak, dan siapkan juga pendidikan moralnya agar dia benar-benar bisa menjadi seperti yang anda inginkan.

Terakhir, anda tetap perlu menyadari bahwa bukan anda yang melakukan. Jadi keberhasilan sepenuhnya tergantung si anak, bukan anda yang menentukan. Siapkan juga agar anda tidak frustrasi ketika keinginan itu tidak tercapai.

Sekarang dampak apa yang kira-kira terjadi jika anda mengacu pada sudut pandang kebahagiaan. Sangat mungkin anda akan memberi pilihan kepada anak dan biarkan dia membuat keputusannya sendiri. Dasarnya, jelas karena anda ingin anak menikmati keberbakatannya itu sehingga akhirnya bisa berkembang mencapai titik optimal.

Resikonya, anda mungkin saja akan mendapati anak berganti-ganti aktivitas. Entah karena bosan atau merasa tidak mampu. Anda perlu mencermati hal ini karena intensitas rasa bosan dan atau kegagalan akan dapat membuat anak frustrasi. Jadi anda perlu mendampingi dengan memberi pengetahuan tentang pilihan yang ada secara komprihensif agar dia benar-benar mengerti apa yang akan dihadapi bila memilih yang ini dan apa yang terjadi jika pilih yang itu. 

Anda berorientasi mengelola apa yang dimiliki anak. Hal ini membuat anda memiliki resiko frustrasi lebih sedikit dari mereka yang memandangnya sebagai kebutuhan. Anda mengajak anak untuk menikmati apa yang dimiliki, bukannya berusaha mendapatkan yang belum ada sehingga anda cenderung tidak pasang target prestasi.

Itu sisi lain yang perlu diperhatikan. Artinya, sudut pandang anda tentang keberbakatan mungkin membuat anak terlihat tidak punya motif berprestasi. Jangan sampai anda akhirnya memarahi anak karena prestasinya tidak berada pada tingkat terbaik. Anak anda sangat mungkin akan berada pada skala rata-rata atau rata-rata atas tapi bukan terbaik karena tujuannya menikmati apa yang dia lakukan, bukan untuk menjadi yang terbaik. Itulah hasil terbaik yang dicapainya dan itu juga yang anda targetkan, anak berbahagia atas apa yang dimiliki dan mensyukurinya dengan merawat dan mengembangkannya.

Apapun yang anda inginkan, apapun pendapat anda tentang anak berbakat, anak tetap anak. Jangan menempatkan anak sejajar dengan orang dewasa karena anak jelas bukan orang dewasa berukuran mini. Anak punya dunia sendiri dan kita wajib menghormatinya. Anak adalah manusia utuh yang juga punya hak asasi. Mari kita perlakukan anak sebagaimana diri kita juga ingin diperlakukan. Biar mereka belajar dari apa yang kita lakukan. Biar mereka mendapat pengetahuan, kebijakan dan kebahagiaan dengan caranya sendiri. 

***
Anak adalah anak panah dan orang tua hanyalah sebuah busur, maka biarlah tuhan si pemanahyang mengarahkan kemana anak panah itu akan dilontarkan.

Jumat, 03 Februari 2017

Kesalahan Pola Asuh Anak, Penyesalan Orangtua Seumur Hidup

Kesalahan Pola Asuh Anak, Penyesalan Orangtua Seumur Hidup
bookcyrcle.com- Salah satu problem orangtua yang sudah bekerja yakni, menentukan pola asuh bayi, Balita atau anak usia dini dengan perasaan aman dan nyaman. "Secara umum, sekarang ini orangtua berkeinginan sukses mengasuh anak, tetapi juga sukses berkarir,"kata seorang alumnus La Trobe University Victoria Australia.

Dalam menentukan pola asuh anak usia dini orangtua harus mampu mengukur kemampuan diri. Dijelaskan, setiap orangtua pasti ingin mengasuh anak-anak dengan baik. Ketika bekerja, anak harus dengan siapa? Bersama pembantu, kakek, nenek, tetangga, dititipkan pada Tempat Penitipan Anak atau Griya Asuh Bayi-Balita? Semuanya memiliki konsekuensi dengan segala risikonya. "Dalam realitas seperti ini, orangtua harus mengukur kemampuan diri, baik tenaga, pikiran juga kemampuan ekonomi," kata dosen Psikologi UGM bersemangat.

Hanya saja yang sering dilupakan, pola asuh anak, orangtua sering tidak berpikir pentingnya keamanan, kenyamanan serta pengaruh sosial dan lingkungan anak. "Karena orangtua lengah, tidak waspada, banyak kejadian anak dijaili sampai terjadi tindak kekerasan seksual. Mereka yang ada di sekeliling kita yang selama ini dianggap baik, menyanyangi, melindungi, ternyata melukai. Kalau sudah demikian, orangtua hanya bisa menyesal seumur hidup," ujarnya. Dicontohkan, pelecehan seksual pada anak menjadi trauma seumur hidup. Pola asuh anak, tentunya memiliki dampak secara psikologis, sosial bagi anak itu sendiri yang berbentuk perilaku. "Kalau perilaku itu baik, bijak, orangtua sering menerima dengan senang hati dan kegembiraan. Sebaliknya, kalau perilaku itu buruk yang rugi adalah orangtua itu sendiri, anak akan tumbuh tidak semestinya, "katanya. Perlu diingatkan, orangtua harus bisa mengukur kemampuan diri, serta perlunya waspada untuk hati-hati dalam menentukan pola asuh anak. Pola asuh, pada akhirnya sangat menentukan pertumbuhan anak, baik menyangkut potensi psikomotirik, sosial dan afektif sesuai perkembangan anak.

Pengamatan tersebut, mengingatkan pada rekomendasi National Association for the Education of Young (Asosiasi Nasional bagi Pendidikan Anak-anak), lingkungan harus mempermudah pertumbuhan, perkembangan bayi dan balita untuk dapat bermain, belajar bersama-sama."Rekomendasi itu selalu saja terngiang-ngiang. Maka ketika waktu memungkinkan, kami merealisasikannya, bagaimana membuat lembaga yang bisa membantu orangtua, terutama memberi solusi menentukan pola asuh anak yang nyaman".
Keinginan yang sudah lama terpendam itu, kata Ayu, maka direalisasikan lewat GABB (Full Day Childcare). Dimana Childcare mampu menyediakan sarana, perlengkapan serta bahan permaian sesuai dan memadai. "Keinginan menolong anak untuk meningkatkan ketrampilan psikomotor, sosial, efeksi dan bahasa anak-anak, serta memperluas pemahaman tentang dunia di sekitarnya".

Ditegaskan, pola asuh anak GAAB memang mengacu pada program percontohan yang dikembangkan Jarome Kagan, Kearsley dan Zelazo di Universitas Harvard Amerika Serikat, pola asuh anak usia dini sangat ditentukan, siapa pengasuhnya. Pengasuh yang selalu tersenyum dan berbicara dengan bayi dan menyediakan lingkungan childcare yang aman dengan banyak mainan merangsang anak-anak, tidak menentukan pengaruh negatif bagi perkembangan anak.

Kamis, 02 Februari 2017

Mendidik Anak Supaya Mandiri


Mendidik Anak Supaya Mandiri

bookcyrcle.com- Orang tua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin dicapai orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil: memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu dan bermacam pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam prakteknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang orang tua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum juga memperlihatkan keberhasilan. Atau langsung memberi segudang nasehat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku. Memang masalah yang dihadapi anak seharihari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa "lari" kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.

Lalu upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.

1. Beri kesempatan memilih

Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan - keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.

2. Hargailah usahanya

Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.

3. Hindari banyak bertanya

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan - pertanyaan seperti, "Belajar apa saja di sekolah?", dan "Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelaihi lagi di sekolah!" dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek :
"Halo anak ibu sudah pulang sekolah!" Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.

4. Jangan langsung menjawab pertanyaan

Meskipun salah tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu pemecahan masalah. Misalnya, "Bu, kenapa sih, kita harus mandi dua kali sehari? " Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.

5. Dorong untuk melihat alternatif

Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk nmengatasi suatu masalah , orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong, untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan dirinya sendiri . Misalnya, ketika si anak datang pada orang tua dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai. Anda dapat memberi jawaban :
"Coba,ya, nanti kita periksa ke bengkel sepeda."

6. Jangan patahkan semangatnya

Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan "mustahil" terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta ijin Anda, "Bu, Andi mau pulang sekolah ikut mobil antar jemput, bolehkan? " Tindakan untuk menjawab : "Wah, kalau Andi mau naik mobil antar jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya" seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk mandiri. Sebaliknya ibu berkata "Andi mau naik mobil antar jemput? Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada ibu kenapa andi mau naik mobil antar jemput." Dengan cara ini, paling tidak anak mengetahui bahwa orang tua sebenarnya mendukung untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat di penuhi.

Rabu, 01 Februari 2017

Pengenalan Psikologi Sejak Dini

Pengenalan Psikologi Sejak Dini
bookcyrcle.com - Kurangnya pengenalan tentang masalah kejiwaan akan berpotensi membuat seseorang kurang mengenal potensi maupun kekurangan dari dirinya, khususnya masalah kejiwaan.

Akibatnya akan beragam, tapi akan lebih nampak pada remaja. Mereka dengan ketidak mengertiannya mengenai seluk beluk kejiwaan akan membentuk pribadi yang cenderung subyektif dan egosentris.

Mereka tidak mengetahui mengenai tipe tipe kepribadian. Kurang tahunya potensi diri akan menyebabkan mereka cenderung mengambil keputusan berdasarkan emosinya maupun pengaruh teman temannya.

Para orangtua umumnya tidak memberikan bimbingan psikologis yang baik pada anak anak mereka. Entah karena ketidak tahuan mereka ataupun karena mereka tdak menganggap hal itu sesuatu yang penting. Para remaja lebih suka curhat ke kawan kawan mereka yang notabene pengetahuan psikologisnya sama sama kurang.

Jika ada perilaku anak remaja yang aneh aneh, para orang tua umumnya berusaha memahami bahwa itu adalah suatu kewajaran yang memang harus dialami setiap remaja. padahal jika perkembangan seseorang tidak mulai diarahkan sejak remaja, maka mereka akan menemukan kesulitan untuk membentuk diri menjadi pribadi dewasa.

Sebaiknya kita semua sudah ahrus mulai berpikir untuk mulai melakukan pengenalan psikologi sejak dini pada diri kita, keluarga kita, dan orang orang terdekat kita.

Salah satu langkah yang harus kita lakukan sebelum mulai mengenalkan psikologi kepada keluarga kita, kita harus terlebih dahulu memiliki wawasan yang memadai dan paham secara garis besar mengenai masalah psikologi.

Kita dapat mendapatkannya dari bangku kuliah, buku buku psikologi maupun yang mengenai kejiwaan, artikel psikologi di koran maupun di Internet, rubrik konsultasi di berbagai media.

Setelah kita memiliki wawasan yang cukup, konsultasikan kepada orang yang lebih paham dari kita karena masalah pembentukan psikologi sama seperti nasehat kesehatan seorang dokter. Jika dokter salah dalam diagnosa dan memberikan obat, maka akibatnya akan berbahaya bagi pasiennya. Begitu juga kita dalam memberikan bimbingan kejiwaan pada seseorang. Jika kita salah mendiagnosa problem klien akan mengakibatkan salah dalam advis solusi sehingga kemungkinan klien akan mengambil keputusan yang beresiko.

Mungkin hal ini terdengar menakutkan, namun seperti di dunia nyata pada umumnya, kita selalu membutuhkan dokter, maka begitu juga kita sekarang harus sudah mulai berpikir untuk membutuhkan jasa seorang psikolog.

Untuk para remaja, mereka akan sangat selektif dalam memilih orang yang akan ia dengarkan ucapannya. Maka dalam penyampaian bimbingan kejiwaan pada remaja, sebaiknya dengan menggunakan pendekatan yang dapat diterima oleh remaja tersebut. Pendekatan yang menggurui akan ditinggalkan oleh mereka. Kita harus dapat memposisikan diri sebagai "teman" mereka sehingga mereka memiliki kepercayaan untuk mau menceritakan (curhat) problemanya kepada kita.

Setelah itu penting untuk tidak langsung menghakimi maupun menyalahkan si remaja tersebut dengan berbagai masalahnya, namun kita harus bersikap mengerti dan memahami serta memberikan solusi untuk mereka. Remaja yang disalahkan akan menolak karena pada masa itu rasa egoisnya sedang tinggi tingginya

Sabtu, 28 Januari 2017

Nutrisi Otak Agar Anak Cerdas

bookcyrcle.com - Pastikan Anda memberikan nutrisi yang cukup untuk otak si kecil agar ia tumbuh sehat dan juga cerdas karena dengan kekurangan salah satu nutrisi tersebut akibatnya perkembangan sistem saraf pusat dan kemampuan kognitif di masa selanjutnya pun akan turut terpengaruh (menurut suatu penelitian yang dipublikasikan dalam British Medical Journal, Inggris, tahun 2001).

Agar si kecil tumbuh sehat juga cerdas maka Kebutuhan yang diperlukan antara lain Lemak Pembangunan Otak, Lemak, terutama asam lemak (DHA dan ARA), adalah salah satu nutrisi yang penting untuk pertumbuhan otak dan mata si kecil. Kekurangan kedua jenis asam lemak esensial itu saat lahir berkorelasi dengan berat badan yang rendah, lingkar kepala yang kecil, dan ukuran plasenta yang rendah. Akibatnya perkembangan sistem saraf pusat dan kemampuan kognitif di masa selanjutnya pun turut terpengaruh. menurut suatu penelitian yang dipublikasian dalam Brithis Medical Journal, Inggris, tahun 2001.



Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, berikan ASI seoptimal mungkin untuk si kecil. Sebab ASI terbukti mengandung asam lemak yang dibutuhkan otak untuk bisa berkembang. Dari studi yang dilakukan di The University of Kentucky Chandler Medical Center, Amerika Serikat, terbukti IQ bayi yang diberi ASI jauh lebih tinggi dibanding dengan yang tidak diberi ASI. Dan, pada saat anak mulai diberikan makanan padat, kebutuhan asam lemak itu bisa Anda penuhi dengan memberikan ikan, telur bebek, susu yang diperkaya DHA dan ARA, atau minyak jagung.

Karbohidrat Bahan Bakar Otak
Glukosa dari makanan yang kaya karbohidrat merupakan bahan bakar otak yang amat penting agar otak berfungsi optimal. Proses pengolahan informasi dan mengingat dapat berjalan dengan baik dengan terpenuhinya kebutuhan glukosa otak tersebut. Ini semua bisa didapatkan dengan memberikan anak berbagai jenis kacang-kacangan, kentang, buah-buahan seperti pisang, sawo, serta sayur-sayuran misalnya singkong dan daun ubi jalar.

Sedangkan untuk Protein Pembentukan Neurotransmiter adalah senyawa asam amino yang berperan terhadap proses pengolahan informasi di otak. Kadar ini sendiri amat berpengaruh terhadap seberapa banyak protein yang ada dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari Kebutuhan ini bisadidapat dari ikan, daging, keju, yogur dan kacang-kacangan Sedangkan kebutuhan Buah-buahan, Sayur-sayuran yang diperkaya antioksidan amat diperlukan untuk melindungi otak dari proses kerusakan sel-sel otak yang dapat menyebabkan kesulitan dalam mengingat, seperti proses belajarpun jadi lamban.

Kebutuhan Gizi Pengaruhi Kecerdasan Anak
Penelitian membuktikan ada keterkaitan antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila sejak awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak. Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia lima tahun harus terpenuhi secara baik.

Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro, Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes menegaskan hal tersebut di Jakarta, di sela-sela Kongres Nasional XII dan temu ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi).

Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh pembentukan otak maupun tubuhnya tidak baik akibat gizinya buruk. "Berarti hal paling penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan sampai berusia lima tahun, dan bila tidak terpenuhi, pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan tubuh pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada masa lalunya sudah kronis," jelas Atmarita.

Namun begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan gizi masih penting untuk pertumbuhan fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi pada saat itu. Bersama rekannya, dr Robert L Tiden, pakar gizi tersebut menganalisis masalah gizi di perkotaan yang dikaitkan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. 62% lebih anak di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak di perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding anak di pedesaan. Meski demikian, obesitas (gemuk sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak di pedesaan.

Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di pedesaan. Atas dasar tersebut, program perbaikan gizi sekarang harus diubah dengan memerhatikan faktor yang terkait dengan pola hidup penduduk di perkotaan maupun pedesaan.

Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Menkes Bidang Desentralisasi dan Kelembagaan Dini Latief merasa prihatin karena proporsi anak pendek di Indonesia masih cukup tinggi. "Saya yakin, para ahli gizi mengetahui situasi ini karena di tiap wilayah telah difasilitasi dengan pemantauan status gizi," ulasnya. Ia menambahkan sudah banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya gizi untuk meningkatkan kemampuan belajar dan mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi.

Menkes mengutip pula sejumlah studi di Filipina, Jamaika, dan negara lainnya yang membuktikan, adanya hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan kemampuan belajar. Bahkan, ujarnya, dihasilkan bahwa pemberian makanan tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika berusia 7-8 tahun.

Dibuktikan pula dari beberapa studi bidang ekonomi di Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi untuk mendukung pembangunan. "Malah dengan menurunkan prevalensi anak pendek sebesar 10%, akan dapat meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke sekolah."

Jumat, 27 Januari 2017

Menciptakan Anak Pintar Sejak Dalam Kandungan

bookcyrcle.com - Yang diharapkan oleh orang tua adalah mempunyai anak yang pintar, berbakti kepada orang tua, dan lain sebagainya. Sangat naif ketika seorang anak menjadi bodoh, nakal, pemberang, atau bermasalah, lalu orang tua menyalahkan guru, pergaulan di sekolah, dan lingkungan yang tidak beres. Tiga faktor itu hanya berperan dalam proses perkembangan anak, sedangkan bakat anak itu menjadi bodoh, nakal, atau pemberang justru terletak dari bagaimana orang tua memberikan awal kehidupan si anak tersebut.

Bukan hal aneh bahwa seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih dalam kandungan. Malah, sejak masih janin, orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bisa seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi.

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik. Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.

Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya--boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa ana kanak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.

Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. "Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya," kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu.

"Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya," tambahnya.

Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.

Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. "Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram," Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya.

Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.

Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. "Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi".

Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.

Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mulamula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.

Juga disarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. "Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa," katanya. "Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.

Sementara itu, psikolog anak lainnya juga mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. "Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.

Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim.

Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang 'merangsang bayi' ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.

Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita simak penuturan Psikologi lainnya:
Musik klasik, katanya, memiliki berbagai macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih berkonsentrasi.

"Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari lingkungannya," ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini. Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras kepada bayi dalam kandungan. Konon, justru menyebabkan timbulnya kebingungan pada si jabang bayi!

Jumat, 18 November 2016

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar
bookcyrcle.com - Banyak siswa  yang tidak mau belajar karena mereka tidak suka teori. Menurut mereka teori tidak penting, yang penting adalah praktek.  Memang benar sehebat apa pun teori yang anda kuasai  jika tidak diiringi praktek, maka semuanya akan percuma. Namun juga salah kalau anda langsung melakukan praktek. Karena praktek yang tidak dilandasi teori yang cukup, anda akan terjebak pada tindakan coba-coba. Menguasai teori bermanfaat untuk  mengurangi tindakan coba-coba  sehingga anda akan lebih cepat untuk berhasil. Hal ini harus dicamkan agar anda dapat meningkatkan motivasi belajar anda.

Kenyataannya banyak anak-anak sekolah, kalau belajar tak mau membaca dulu bahan pelajarannya. Mereka inginnya langsung mengerjakan soal. Tentu ini membuat mereka mengalami kesulitan. Tanpa didukung pemahaman yang baik terhadap bahan pelajaran seorang siswa tak akan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mereka harus sadar untuk dapat mengerjakan soal dengan baik harus menguasai dulu teorinya.

Keenganan untuk memahami pelajaran dengan sungguh-sungguh dengan membaca ulang bahan pelajaran menunjukan rendahnya motivasi belajar siswa. Pendidik maupun orangtua harus bisa meyakinkan bahwa diperlukan motivasi belajar yang tinggi agar anak dapat berprestasi dan bisa meneruskan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Orangtua dan guru harus dapat meyakinkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kunci untuk meraih masa depan yang cerah. 

Kalau sampai ada siswa yang bemalas-malasan belajar, maka diperlukan usaha untuk membangkitkan motivasi belajarnya. Secara umum ada sejumlah cara untuk meningkatkan motivasi belajar anak.  Berikut ini adalah tip dari A.M. Sardiman (2005:92-94) :
  1. Memberi angka
    Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang ingin mendapatkan angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.
  2. Memberi hadiah
    Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat. Biasanya siswa akan bersemangat melakukan tugas belajar kalau ada hadiahnya.
  3. Menciptakan suasana kompetisi
    Persaingan, baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.
  4. Ego-involvement
    Menumbuhkan kesadaran kepada siswa tentang pentingnya menyelesaikan suatu tugas dan menerimanya sebagai tantangan. Kesadaran semacam ini akan menumbuhkan motivasi.
  5. Memberi Ulangan
    Para siswa akan giat belajar kalau menghadapi ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.
  6. Mengetahui Hasil
    Mengetahui hasil belajar bisa memacu  motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya.
  7. Pujian
    Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberian pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
  8. Hukuman
    Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.
    Tip yang senada dalam meningkatkan motivasi anak  juga diungkapkan oleh  Fathurrohman dan Sutikno (2007: 20). Ia mengatakan  motivasi belajar siswa dapat ditumbuhkan melalui beberapa cara yaitu:

  1. Menjelaskan tujuan kepada siswa.
    Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
  2. Hadiah.
    Hadiah akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
  3. Saingan/kompetisi.
    Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
  4. Pujian.
    Siswa yang berprestasi sudah sewajarnya untuk diberikan penghargaan atau pujian. Pujian yang diberikan bersifat membangun. Dengan pujian siswa akan lebih termotivasi untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.
  5. Hukuman.Cara Meningkatkan Motivasi Belajar
    Hukuman akan diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Bentuk hukuman yang diberikan kepada siswa adalah hukuman yang bersifat mendidik seperti mencari artikel, mengarang dan lain sebagainya.
  6. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.
    Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. Selain itu, guru juga dapat membuat siswa tertarik pada  materi yang disampaikan dengan cara menggunakan metode yang menarik dan mudah dimengerti siswa.
  7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
    Kebiasaan belajar yang baik dapat dibentuk dengan membuat  jadwal belajar.
  8. Membantu kesulitan belajar siswa
    Ini bisa dilakukan  baik secara individual maupun kelompok.Membantu kesulitan peserta didik dengan cara memperhatikan proses dan hasil belajarnya.  Dalam proses belajar terdapat beberap unsur antara lain berupa penggunaan metode untuk menyampaikan materi kepada para siswa. Metode yang menarik yaitu dengan gambar dan tulisan warna-warni akan membantu siswa untuk  tertarik mencatat dan  mempelajari materi yang telah disampaikan..
  9. Menggunakan metode yang bervariasi.
    Metode yang bervariasi akan sangat membantu dalam proses belajar dan mengajar. Dengan adanya metode yang baru akan mempermudah guru untuk menyampaikan materi pada siswa.

Senin, 14 November 2016

Menenangkan Pikiran dengan Baik

Menenangkan Pikiran dengan Baik

bookcyrcle.com - Banyak hal yang membuat pikiran kita kusut. Mulai dari tagihan listrik, kebutuhan sekolah anak-anak atau mungkin konflik dengan teman di kantor. Tapi ada cara kuno yang sederhana sekali tentang bagaimana kita bisa mendapatkan kembali ketenangan.
Suatu ketika Buddha sedang berjalan dari satu kota ke kota lain bersama beberapa pengikutnya. Inilah yang terjadi pada hari-hari awal: saat berjalan, secara kebetulan  mereka melewati sebuah danau. Mereka berhenti di sekitar danau dan Buddha mengatakan kepada salah satu muridnya,  “Aku haus.  Bisakah kamu mengambilkan saya air dari danau itu?

Murid itu berjalan ke danau. Ketika sampai di tepi danau, ia melihat beberapa orang sedang mencuci pakaian . Pada saat itu juga, sebuah gerobak mulai melintasi danau. Akibat gerakan gerobak itu lumpur-lumpur berjatuhan ke danau. Akibatnya, air menjadi sangat berlumpur, sangat keruh. Murid itu berpikir bagaimana mungkin ia memberikan air berlumpur ke Buddha untuk diminum? Dia memutuskan untuk kembali dan mengatakan kepada Buddha bahwa air danau itu  berlumpur? Ia mengatakan kepada Buddha air itu tidak cocok untuk diminum.

Setelah sekitar setengah jam, Buddha kembali meminta murid yang sama untuk mengambil air dari  danau.  Murid itu dengan patuh memenuhi permintaan Buddha. Kali ini ia menemukan bahwa air danau benar-benar jernih. Lumpur yang sempat mengotori danau itu sudah mengendap ke dasar danau dan air di atasnya menjadi jernih dan tampak sehat untuk diminum. Ia pun tak ragu lagi memasukan air ke dalam panci dan membawanya ke Buddha.

Buddha melihat air di dalam panci  dan kemudian memandang muridnya dan berkata, “Lihat apa yang kamu lakukan ketika air keruh?  Kau membiarkannya…menunggu beberapa saat hingga lumpur itu mengendap sendiri ke dasar danau. Lalu ketika kamu kembali, air sudah bersih kembali. Pikiran kamu juga seperti itu. Karena itu ketika pikiranmu terganggu, biarkan saja. Bersabarlah, pikiranmu akan tenang dengan sendirinya. Ini adalah sesuatu yang tak membutuhkan usaha. 

Apa yang jadi perhatian Buddha di sini? Dia mengatakan,  ini tak membutuhkan usaha. Mendapatkan  'ketenangan pikiran' bukanlah pekerjaan berat, itu adalah proses yang mudah. Tunggulah sampai semua permasalahanmu mengendap, maka kamu akan menjadi tenang kembali.

Ketika kedamaian memasuki dirimu, ia akan  menembus ke luar. Menyebar ke lingkunganmu sehingga orang di sekitarmu  mulai ikut merasakan damai dan mendapatkan rahmat.

Rabu, 03 Agustus 2016

Psikologi Remaja

Psikologi Remaja
Resiko Persahabatan
    Persahabatan sering menemui ujian berat. Dengarkan kata Maryam, 15 tahun ini. Ia menceritakan banyak rahasia kepada sahabatnya, namun sang sahabat ternyata berkhianat. Maryam menyesali sekali telah berbagi rahasia dengannya. Sahabat bisa menjadi musuh dalam selimut 

    Seorang sahabat juga tidak selalu bisa kita miliki selamanya. Angelica, 16 tahun, punya sahabat sejak dari taman kanak-kanak. Sampai SMP, mereka masih berbagi kebersamaan, saling mendukung dan peduli satu sama lain. Suatu ketika sahabatnya itu pindah ke luar kota dan mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Belum lama ini Angelika mendengar jika pergaulan sahabatnya menjurus kepada hal buruk. Angelika sebenarnya ingin mengingatkan sahabatnya, tapi merasa sekarang mereka sudah jauh. 


    Cerita Saskia lain lagi. Ia dan Ken merupakan tetangga di kompleks. Mereka akrab sampai SMP. Di kelas 2, Ken nembak Saskia untuk jadi pacarnya. Karena merasa sudah dekat, Saskia pun menerima. Namun, hubungan pacaran dengan persahabatan memang berbeda. Setelah tiga bulan jalan, mereka putus. Sayangnya, persahabatan mereka pun jadi buyar. 


    Kisah Reva lain lagi. Sejak sahabatnya, Satchi, punya pacar baru, mereka jarang bersama-sama lagi. Padahal dulu hampir tiada hari tanpa bertemu, entah pergi ke mal, berenang atau les bahasa Inggris bareng. Persahabatan mereka merenggang dengan sendirinya. Reva merasa sedih karena Satchi sekarang suka menghindar kalau diajak pergi, ternyata ia sudah punya janji lebih dulu dengan pacarnya.


    Persahabatan memang punya kisah macam-macam. Memiliki seorang sahabat pasti menyenangkan, tetapi jangan lupa bahwa sahabat pun punya kehidupan pribadi. Suatu saat ia akan punya sahabat baru, pacar atau kehidupan baru di luar kota. Sahabat datang dan pergi. Di dunia ini tidak ada yang abadi.


Mencari Sahabat Sejati
Jika kamu merasa tidak memiliki sahabat sejati dan berniat mencarinya mulailah dengan bertanya pada orangtua. Contoh pertanyaannya, sewaktu seusiaku pengalaman apa yang pernah Papa dan Mama rasakan dalam persahabatan? Apakah Papa dan Mama pernah dikhianati seorang sahabat? Kalau ya, apa hikmahnya? Apakah Papa dan Mama punya teman yang loyal? Bagaimana ceritanya?


    Kemudian mulailah menulis dua orang teman yang menurutmu telah membantumu menjadi orang yang lebih baik berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya saja, rela berkorban, solider dan bisa membawa kita ke hal-hal yang baik. Kalau nama seseorang  muncul pada ketiga kriteria itu, dialah teman sejatimu! Sebaliknya, kalau kamu kesulitan memikirkan siapa yang memenuhi kriteria di atas, jangan kecil hati. Boleh jadi calon teman sejatimu ada di sekitarmu. Mungkin hanya soal waktu untuk menemukan mereka. 
    Sementara itu, berbuatlah sebisa-bisanya untuk menjadi teman yang baik bagi orang lain. ”Aku selalu siap menolong teman-temanku,” kata Elena, 20 tahun. ”Kalau mereka lagi butuh sesuatu, aku siap bantu. Kalau mereka lagi butuh teman bicara, aku siap dengar. Kalau mereka lagi sedih, aku siap hibur.”


    Persahabatan yang baik didasarkan atas nilai yang sama. Itu berarti teman-temanmu punya keyakinan rohani, moral, dan etika yang sama. Hal lainnya, sifat yang sama, kurang penting. Misalnya saja minat yang sama hampir tak ada pengaruhnya. Kamu bisa saja berteman dengan orang yang hobi dan bakatnya berbeda dengan kamu.
    Justru ingatlah persahabatan yang didasarkan atas minat yang sama semata namun tidak menganut nilai yang sama, hubungan kalian pasti tidak akan bertahan. Au yang lebih buruk lagi, kamu akan terjerumus dalam masalah.


    Ada baiknya kamu memiliki sebanyak mungkin kenalan daripada membatasi diri pada kelompok tertentu. Seperti kata Theo, 13 tahun, “Memang sih punya sahabat kayaknya asyik. Tapi dengan teman-teman lain yang berbeda-beda juga kayaknya itu udah cukup buatku. Ada temen yang bisa diajak latihan ngeband. Ada teman yang enak buat belajar kelompok. Ada temen satu kompleks yang seru buat nongkrong di pos kamling di depan gerbang perumahan. Masing-masing teman punya tempat tersendiri, dan kayaknya gak perlu seorang sahabat yang terus-terusan bareng ke mana-mana.”


    Tetapi Jean, 20 tahun berpendapat lain, ”Enak kenal banyak orang,” kata Jean, 20 tahun, ”tapi itu sama kayak punya lemari penuh baju yang bagus-bagus tapi enggak semuanya pas. Ujung-ujungnya, kita pasti cuma mau pakai baju yang cocok sama kita. Nah, begitu juga dengan teman sejati.”
 
A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter