Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label General. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label General. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Juni 2017

Wanita Bersejarah Tribhuwana Wijayatunggadewi

Wanita Bersejarah Tribhuwana Wijayatunggadewi
bookcyrcle.com - Selama ini Gadjah Mada dipandang sebagai simbul nasionalisme Indonesia. Ia adalah Mahapatih Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapanya, yang menegaskan bahwa ia tidak akan bersenang-senang sebelum bisa menyatukan nusantara. Sebagai panglima perang Gajah Mada terbukti tidak hanya sekedar omong kosong. Ia telah mengantarkan Majapahit menjadi kerajaan besar dunia pada waktu itu melalui penaklukan berbagai wilayah nusantara. Bahkan berkat kepiawaian Gadjah Mada dalam mengatur strategi perang, wilayah Majapahit bisa meluas sampai di luar batas-batas wilayah nusantara saat ini seperti  Semenanjung Malaya hingga Philipina.
    Pada masa-masa menjelang kemerdekaan, tokoh pergerakan Muhammad Yamin rajin mempromosikan Majapahit di bawah kendali Mahapatih Gadjah Mada sebagai model bagi negara kesatuan Indonesia modern. Bagi Yamin bukan Singasari dan bukan pula kerjaaan-kerajaan Islam yang mempersatukan Nusantara, tapi Majapahit.
    Dalam rapat-rapat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) secara tegas Yamin mengakui peran penting Majapahit dalam menyatukan Nusantara. Pilihan terhadap istilah Nusantara ketika Indonesia belum merdeka merupakan keberanian tersendiri. Bagi Belanda, istilah ini sesuatu yang berbau subversif karena ia menyiratkan kesatuan Indonesia di masa silam. Padahal bagi Belanda Indonesia sebagai satu kesatuan wlayah tak pernah ada kecuali setelah mereka datang, yakni dengan terciptanya Pemerintahan Hindia Belanda.
    Lalu tahukah anda siapa yang pertama kali mengorbitkan Gadjah Mada bintang yang bersinar hingga sekarang? Ternyata ia adalah seorang Ratu Majapahit, Tribhuwana Wijayatunggadewi. Wanita bernama asli Dyah Gitarja itu adalah anak dari pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya dengan putri raja terakhir Singasari, Kertanegara, Gayatri.
    Saat kakak tirinya, Jayanegara,  naik tahta menggantikan Raden Wijaya, Tribhuwana Wijayatunggadewi, ditunjuk untuk memerintah sebuah kawasan yang terletak di sekitar Sidoarjo, yang disebut Kahuripan. Oleh karena itu, Tribhuwana Wijayatunggadewi seringkali disebut Bhre Kahuripan.
    Menurut Pararaton, Jayanagara merasa takut takhtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya menikah. Setelah Jayanagara meninggal tahun 1328, para ksatria pun berdatangan melamar kedua putri itu. Akhirnya, setelah melalui suatu sayembara, diperoleh dua orang pria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.
    Cakradhara bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkawinan itu lahir Dyah Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Nertaja sebagai Bhre Pajang.
    Istri dari Bhre Tumapel (Cakradara) inilah yang sebenarnya menjadi pembuka jalan bagi Majapahit menuju masa keemasannya. Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah sosok di balik kesuksesan Gajah Mada. Sejak menjadi anggota bhayangkara Majapahit, Tribhuwana sudah mengetahui kemampuan luar biasa yang dimiliki abdinya ini. Maka ketika Tribhuwana diangkat sebagai penguasa Kahuripan, Gajah Mada diusulkan menjadi Patih Kahuripan.
    Tribhuwana menggantikan kakak tirinya, Jayanegara, setelah Raja Majapahit kedua itu dibunuh tabibnya, Tanca pada tahun 1328 M. Ibu kandungnya, Gayatri Rajapatni, yang seharusnya menggantikan Jayanegara, memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Sebagai gantinya Rajapatni menunjuk dirinya menjadi Ratu Majapahit.
    Ada dugaan kuat pembunuhan Jayanegara itu merupakan hasil konspirasi di kalangan istana yang bertujuan menghantarkan Tribhuwana Wijayatunggadewi ke singgasana kerajaan.
    Sejarahwan dan diplomat University of British Columbia, Kanada, Prof Paul Drake menyebut Gayatri Rajapatni sebagai dalang sejumlah peristiwa, termasuk perekrutan Mahapatih Gajah Mada dan pembunuhan raja sah Majapahit Jayanegara (1309-1322). Karena itu wanita pemikir ini disebutnya juga berada di balik kejayaan Majapahit.
    Pemikiran Gayatri ingin membunuh raja yang dijuluki Kalagemet itu karena perilaku buruk Jayanegara dianggap tidak mencerminkan karakter raja yang baik. Dari prasasti Pananggungan tersebut dapat diketahui Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Sementara nama Kalagemet yang diperkenalkan  Pararaton  jelas bernada ejekan, karena nama tersebut bermakna "jahat" dan "lemah". Hal itu dikarenakan kepribadian Jayanagara yang dipenuhi perilaku amoral namun lemah sebagai penguasa sehingga banyak pemberontakan yang timbul dalam masa pemerintahannya.
    Lalu siapakah sebenarnya ibu ratu Kerajaan Majapahit, Gayatri Rajapatni? Kenapa dia dianggap memiliki alasan merencanakan pembunuhan terhadap Jayanegara?
Nagarakretagama menyebutkan Raden Wijaya menikahi empat orang putri Kertanagara,  raja terakhir Singasari, yaitu Tribhuwana (Tribhuwaneswari),  Mahadewi (Narendraduhita), Jayendradewi (Prajnyaparamitha), dan Gayatri  (Rajapatni). Selain itu, ia juga memiliki seorang istri dari Melayu bernama Dara Petak bergelar Indreswari.
    Dari kelima orang istri tersebut, yang memberikan keturunan hanya Dara Petak dan Gayatri. Dari Dara Petak lahir Jayanagara, sedangkan dari Gayatri lahir Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Rajadewi (Dewi Wiyat). Tribhuwana Wijayatunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.
    Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Ini bisa berarti mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja. Baru setelah Majapahit berdiri, ia juga menikahi Mahadewi dan Jayendradewi.    
    Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi. Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri.  Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.
    Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsa Tatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang. Konon Raja Tatar bersedia membantu Majapahit karena Arya Wiraraja menawarkan Tribhuwana dan Gayatri sebagai hadiah. Tapi keduanya tidak jadi diserahkan setelah Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Mongol.
    Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit sejak tahun 1293. Ia meninggal tahun 1309 dan digantikan putranya, yaitu Jayanagara. Ketika Jayanegara meninggal pada tahun 1329, menurut Nagarakretagama, sebagai sesepuh keluarga kerajaan yang masih hidup, Gayatri berhak atas takhta. (Mungkin karena Gayatri merupakan satu-satunya istri Raden Wijaya yang masih hidup?)  Akan tetapi karena sudah mengundurkan diri dari kehidupan duniawi, Gayatri menunjuk putrinya, Tribhuwana Wijayatunggadewi  naik takhta mewakilinya pada tahun 1329.

Sabtu, 03 Juni 2017

Bagaimanakah rasanya hidup selalu dihantui rasa takut dan cemas.

bookcyrcle.com Tentu saja itu akan membuat hidup kita menjadi tidak bahagia dan kegiatan sehari-hari kita pun jadi terganggu. Coba perhatikan curhatan berikut ini:
    "Ketika saya berada di tengah orang banyak, Saya merasa takut. Bahkan saya akan merasa takut sebelum Saya meninggalkan rumah, dan itu akan meningkat ketika saya lebih dekat dengan ruang belajar di perguruan tinggi tempat saya belajar, tempat pesta atau apapun. Saya akan merasa sakit perut, atau seperti menderita flu. Jantungku berdetak kencang, telapak tanganku basah, dan Saya akan mendapatkan perasaan seperti dipindahkan dari tubuhku dan dari setiap tubuh yang lain.


    Ketika Saya akan berjalan menuju sebuah ruangan yang penuh orang, Wajah Saya akan berubah merah dan akan merasa seperti mata setiap orang tertuju padaku. Saya gugup karena itu Aku menjauh menuju ke sebuah sudut, tapi saya tidak bisa berpikir apapun untuk dikatakan pada setiap orang. Itu memalukan. Saya merasa canggung, Saya tidak tahan lagi dan ingin keluar."


    Bila anda merasakan hal seperti itu ketika akan menghadiri suatu pertemuan atau berada di antara banyak orang, maka kemungkinan besar anda mengindap penyakit yang disebut Social Anxiety Disorder atau dalam Bahasa Indonesianya Gangguan Kecemasan/Ketakutan Sosial, yang juga disebut Phobia Sosial. 


    Banyak orang lebih memperhatikan kebebasan secara fisik, padahal Mahatma Gandhi dalam salah satu statementnya mengatakan bahwa kebebasan "dari dalam" justru mempengaruhi pengembangan diri seseorang. Kebebasan kita dari rasa takut merupakan kunci dari kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup ini.


    Kita kurang menyadari bahwa hakikat kebebasan yang terutama dalam hidup ini sebenarnya adalah "bebas dari rasa takut". Dan kita harus memperjuangkan bagaimana terbebas dari semua "rasa takut" ini. Misalnya, takut gagal, takut bersalah, takut melangkah, takut ditolak, takut bergaul, bahkan takut mati. Justru perasaan "takut" seperti ini yang membelenggu hidup kita secara lahiriah dan terlebih secara batiniah. Bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi, "rasa takut" yang berlebihan akan menjadi penyakit jiwa (phobia). 


    Kecemasan/ketakutan yang biasa sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan yang normal. Anda mungkin merasa cemas ketika berhadapan dengan problem di tempat kerja, sebelum  menjalani ujian, atau membuat keputusan penting. Tapi gangguan kecemasan (anxiety disorders) lebih daripada kekhawatiran atau rasa takut temporer. Bagi seseorang penderita gangguan kecemasan, perasaan seperti itu tidak kunjung pergi dan dapat menjadi lebih buruk sepanjang waktu. Perasaan-perasaan itu dapat menganggu aktivitas sehari-hari seperti prestasi kerja, tugas sekolah dan hubungan dengan orang lain. 


    Ada beberapa tipe gangguan kecemasan yang berbeda. Contoh-contohnya meliputi Generalized Anxiety Disorder atau Gangguan Kecemasan Umum, Panic Disorder atau gangguan panik, Social Anxiety Disorder atau gangguan kecemasan sosial. Hasli penelitian melaporkan bahwa 43,2% orang dewasa di AS dan penduduk anak-anak didiagnosa menderita gangguan kecemasan. 


    Tentu saja kalau kita terus-menerus dijajah oleh "rasa takut", kelangsungan hidup dan karir kita akan berjalan di tempat (mandeg). Dan kalau kita tidak berusaha memperoleh kebebasan, kita akan selalu memiliki perasaan insecure (merasa selalu dalam ancaman).

Rabu, 31 Mei 2017

Kemurahan Hati dan Penghematan

Kemurahan Hati dan Penghematan
bookcyrcle.com - Dengan  demikian,  mulai  dari  sifat-sifat  pertama  yang  saya sebutkan di atas, saya menyatakan bahwa baik sekali kalau orang terkenal  karena  kemurahan  hatinya.  Namun  jika  tmdakan  Anda terpengaruh oleh keinginan untuk mendapatkan keharuman nama semacam  itu,  Anda  akan  kecewa.  Sebab,  jika  kemurahan  hati Anda  itu  baik  dan  jujur  mungkin  tidak  akan  diperhatikan  orang dan  tidak  akan  membuat  Anda bebas  dari  umpatan  kalau  Anda bertindak  sebaliknya. Jika  Anda  ingin  memperoleh  nama  baik karena  kemurahan  hati,  Anda  harus  secara  mencolok  bertindak boros;  dan  raja  yang  bertindak  demikian  akan  segera menghabiskan  hartanya dan akhirnya  ia  akan  terpaksa,  jika  ia ingin mempertahankan nama baiknya, menarik pajak yang berat dan melakukan  segala  cara  hanya  supaya  dapat  memperoleh uang.  Hal  ini  akan  merupakan  permulaan  rakyat  membencinya dan karena  ia  akan  menjadi  semakin  miskin,  biasanya  ia  akan tidak  dihargai  orang  lagi.  Sebagai  akibatnya,  karena  kemurahan hatinya tersebut dan karena telah melukai hati banyak orang dan memberi  hadiah  kepada  beberapa  orang  saja,  ia  akan  mudah sekali mendapat kecaman atas kegagalan kecil yang dilakukannya dan itulah awal bahaya yang dihadapinya dan akan membuatnya kecewa. Kalau ia menyadari hal ini dan mencoba menelusuri jalan yang benar, ia segera akan dicap sebagai seorang yang kikir. 

Karena  itu  seorang  raja  tidak  perlu  bertindak  murah  hati untuk  membuat  dirinya  tersohor,  kecuali  kalau  ia  mau  v mempertaruhkan  dirinya;  jika  ia  bijaksana,  ia  tidak  akan berkeberatan dianggap sebagai seorang yang kikir. Pada saatnya ia akan diakui sebagai orang yang sebetulnya murah hati, karena menyadari  bahwa  dengan  menghemat  pendapatan  yang  ada,  ia dapat  mempertahankan  diri  dari  penyerbu/musuh dan ia  dapat melakukan  perlawanan  tanpa  membebani  rakyat.  Dengan demikian  ia  membuktikan  diri  bermurah  hati  terhadap  mereka yang  tidak  dipungut  apa-apa dan jumlah  mereka  banyak  sekali; sedangkan  ia  bersikap  kikir  terhadap  mereka  yang  tidak menerima apa pun dari raja dan jumlah mereka ini sedikit. Pada zaman  ini  banyak  hal  besar  dilakukan  hanya  oleh  mereka  yang dipandang  kikir,  sedangkan  orang-orang  lain  mengalami kehancuran.  Paus  Julius  II  menggunakan  cara  bertindak bermurah  hati  untuk  memenangkan  tahta  kepausan,  tetapi kemudian ia tidak mempertahankan kemurahan hatinya tersebut, karena ia ingin dapat membiayai perang yang dilakukannya. Raja Prancis yang sekarang ini dapat melakukan begitu banyak perang tanpa  membebani  rakyat  dengan  pajak  yang  terlalu  berat;  ia dapat  berbuat  demikian  hanya  karena  ia  selalu  berhemat sehingga  ia  mampu  membayar  biaya-biaya  tambahan  yang dibutuhkannya.  Seandainya  raja  Spanyol  sekarang  ini  terkenal karena  kemurahan  hatinya,  ia  pasti tidak  akan  dapat  memulai dan  melakukan  dengan  berhasil  usaha-usaha  yang  sedemikian banyaknya itu.


Karena  itu  jika  seorang  raja  tidak  perlu  merampok rakyatnya, jika  la dapat mempertahankan dirinya sendiri, jika Ia tidak  Jatuh  ke  dalam  kemiskinan  dan  aib,  jika  ia  tidak  terpaksa menjadi  rakus,  ia  tidak  perlu  khawatir  disebut  sebagai  seorang yang  kikir.  Sifat  kikir  merupakan  salah  satu  keburukan  yang mendukung  pemerintahannya.  Mungkin  ada  yang  tidak  setuju: Cesare  meraih  kekuasaan  dengan  sikap  murah  hati dan banyak alasan  lain,  karena  mereka  bertindak  murah  hati  dan  terkenal karena  kemurahan  hatinya,  mereka  telah  mencapai  kedudukan yang  tertinggi.  Jawaban  saya  terhadap  hal  ini  adalah  sebagai berikut.  

Anda  seorang  raja  atau  seorang  yang  sedang  merintis untuk  menjadi  raja.  Dalam  hal  yang  pertama,  kemurahan  hati Anda  akan  menjadi  beban  Anda; dalam  yang  kedua,  memang penting untuk memperoleh pujian karena kemurahan hati. Cesare adalah  salah  satu  dari  mereka  yang  ingin  memerintah  Roma; tetapi,  jika  sesudah  menegakkan  kekuasaan,  ia  tetap  hidup seperti  sediakala  dan  tidak  berhemat  dalam  pengeluaran  biaya, kekuasaannya pasti akan runtuh. 

Mungkin  Anda  menyanggah  kembali:  ada  banyak  raja  yang mencapai  sukses  dengan  pasukan  perangnya dan yang  terkenal sangat  bermurah  hati. Jawaban  saya  terhadap  hal  ini  ialah:  raja memberikan  apa  yang  menjadi  miliknya  atau  harta  rakyatnya atau mungkin apa yang menjadi milik orang lain. Dalam hal yang pertama ia harus bersikap hemat; dalam hal yang kedua, ia harus menuruti keinginan untuk bermurah hati tersebut sebaik-baiknya. 

Raja  yang  memimpin  pasukan  perang,  yang  hidup  dari  hasil jarahan dan memeras, membagikan harta milik orang lain; dan la harus  bersikap  terbuka,  karena  kalau  tidak,  para  serdadunya ndak  akan  mau  taat  kepadanya.  Anda  dapat  bersikap  boros terhadap  harta  yang  bukan  milik  Anda  atau  milik  rakyat  Anda, seperti  Cesare,  Cyrus  dan Alexander.  Menghadiahkan  barang yang  merupakan  milik  orang  lain  sama  sekali  tidak  akan mempengaruhi  kedudukan  Anda  di  negara  sendiri;  bahkan sebaliknya hal tersebut akan menambah keharuman nama Anda. 

Menggunakan  harta  milik  sendiri  itulah  yang  akan  merugikan Anda.  Tidak  ada  hal  yang  lebih  menghancurkan  daripada  sikap bermurah hati, karena dengan menggunakan sikap tersebut Anda akan  tidak  mampu  melaksanakannya  dan Anda  akan  menjadi miskin  atau  tercampak  atau  karena  ingin  menghindari kemiskinan, Anda menjadi rakus dan dibenci rakyat. Seorang raja harus  menghindari,  pertama-tama,  untuk  tidak  direndahkan  dan dibenci;  dan  kemurahan  hati  akan  mengakibatkan  dua  hal tersebut.  Karena  itu  lebih  bijaksana  untuk  dengan  sengaja menimbulkan  kesan  seorang kikir, yang  akan  membuat  Anda dipandang  hina  tetapi  tidak  dibenci,  danpada  terpaksa  mencari nama  harum  dalam  kemurahan  hati  tetapi  Anda  akan  mendapat sebutan  rakus,  yang  menyebabkan  Anda  akan  dibenci  dan  juga terhina.

Selasa, 23 Mei 2017

Sejauh Mana Keberuntungan Menguasai Hidup Manusia, dan Bagaimana Melawan Keberuntungan Tersebut

bookcyrcle.com - Bukannya tidak sadar bahwa banyak orang dahulu dan sekarang berpandangan bahwa peristiwa-peristiwa dikendalikan oleh nasib mujur dan oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga kebijaksanaan manusia tidak dapat mengubahnya. Bahkan orang berpandangan bahwa manusia tidak bisa mempengaruhinya sama sekali. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya bekerja keras, tetapi orang harus menyerah pada kekuasaan nasib. Pandangan ini ternyata jauh lebih banyak diikuti orang pada zaman sekarang; hal ini tampak dari perubahanperubahan besar yang kita saksikan dari hari ke hari, melampaui yang dapat kita pikirkan. Kalau saya memikirkannya, kadang kala saya cenderung untuk mengikuti pandangan tersebut. Namun, agar kehendak bebas kita sama sekali tidak padam, saya berpendapat bahwa benar nasib mujur menguasai separuh dari perbuatan-perbuatan kita, tetapi separuh tindakan lainnya dibiarkan untuk kita atur sendiri. Hal ini saya umpamakan seperti sungai berarus deras, kalau meluap membanjiri dataran sekitarnya, merobohkan pohon dan bangunan, menghanyutkan tanah dan menumpuknya di tempat lam. Setiap orang menghadapi segala keganasannya tanpa kemungkinan untuk melawan. Tetapi walaupun demikian sifatnya, tidak berarti bahwa kalau sungai mengalir dengan tenang orang lalu tidak dapat mengambil langkah-langkah gengamanan, membangun tanggul dan saluan-saluran sehingga kalau sungai banjir air dapat mengalir lewat kanal atau kekuatan arusnya tidak begitu ganas dan membahayakan. Demikian juga dengan nasib mujur. Nasib mujur menunjukkan kekuasaannya sewaktu tidak ada kekuatanlain untuk mengendalikannya. Dan pengaruh kekuatannya dirasakan di tempat-tempat yang tidak ada tanggul atau saluran yang dibangun untuk menahannya. Kalau kita perhatikan keadaan Italia, panggung perubahan dan pergeseran yang saya sebutkan, yang pertama-tama tampak Ialah bahwa negara tersebut tidak rnemiliki saluran maupun tanggul. 

http://www.bookcyrcle.com/2017/05/sejauh-mana-keberuntungan-menguasai.html

sumber gambar: www. id.aliexpress.com

Seandainya Italia memiliki kekuatan yang memadai, seperti negara Jerman, Spanyol dan Prancis, banjir ini tidak akan mengakibatkan perubahan besar seperti yang sudah terjadi atau sama sekah tidak akan menghanyutkannya.

Kiranya cukup dulu mengenai perlawanan terhadap nasib mujur pada umumnya. Tetapi dengan membatasi diri lebihlebih terhadap masalah-masalah khusus, saya ingin menekanakan bagaimana orang menyaksikan raja tertentu yang hari ini memiliki nasib mujur dan keesokan harinya runtuh, tanpa melihat bahwa ia telah berubah sifat atau perubahan-perubahan lainnya. Saya kira hal ini sudah dibahas secara panjang lebar. Artinya, raja yang mendasarkan diri seluruhnya pada nasib mujur akan menderita kalau nasib mujur itu berubah. Saya yakin bahwa orang yang menyesuaikan kebijaksanaannya dengan zaman akan berkembang dan demikian pula orang yang kebijaksanaannya bertentangan dengan tuntutan zaman tidak akan berkembang.

Dapat diamati bahwa manusia menggunakan berbagai metode dalam mengejar tujuan-tujuan pribadinya, seperti kemuliaan dan kekayaan. Yang satu bertindak dengan penuh kewaspadaan, yang lain secara tergesa-gesa. Yang satu menggunakan kekerasan, yang lain dengan strategi yang tersembunyi. Yang satu bertindak dengan sabar, yang lain melakukan kebalikannya. Namun setiap orang, walaupun berbeda metodenya, dapat mencapai tujuannya.

Pengamatan terhadap dua orang yang bersikap hati-hati, dapat pula memperlihatkan bahwa yang satu berhasil dan yang lainnya tidak. Demikian juga dua orang akan sama-sama berhasil dengan menggunakan metode yang berbeda, yang satu bersikap hati-hati sedang yang lain bersikap tergesa-gesa. Ini tidak lain merupakan akibat dari cocok tidaknya metode yang digunakan dengan keadaan zaman. Dengan demikian terjadi bahwa, seperti sudah saya kemukakan, dua orang yang bekerja dengan cara yang berbeda, dapat mencapai tujuan yang sama dan dua orang yang bekerja dengan cara yang sama, yang seorang mencapai apa yang diingininya sedangkan yang lain tidak. Hal ini juga
menjelaskan mengapa kemakmuran tidak berlangsung lama; karena bagi orang yang bertindak hati-hati dan kebetulan cara ini yang diperlukan saat itu, ia akan berhasil; tetapi jika zaman dan situasi berubah, ia akan dirugikan karena ia tidak mengubah kebijaksanaannya. Dan kita tidak melihat adanya orang yang cukup bijaksana untuk mengetahui bagaimana harus menyesuaikan kebijaksanaannya dengan cara ini. Entah karena ia tidak dapat melakukan selain daripada yang sudah menjadi sifatnya atau karena selalu berhasil dengan menggunakan satu cara, ia tidak dapat mengubah pendiriannya. Dengan demikian orang yang sangat berhati-hati, kalau situasi menuntut suatu tindakan yang keras dan cepat, tidaklah memadai untuk melakukan tugas tersebut dan dengan demikian ia akan gagal.

Kalau ia mengubah sifatnya sesuai dengan zaman dan situasi, maka nasib mujurnya tidak akan berubah. Paus Julius II sangat tergesa-gesa dalam segala tindakannya. Dan ia menganggap zaman dan situasi sangat mendukung caranya melakukan kegiatannya sehingga ia selalu berhasil. Bayangkan peperangan pertama yang dipimpinnya melawan Bologna, ketika Messer Giovanni Bentivogli masih hidup.

Orang-orang Venesia tidak senang terhadap peperangan tersebut, demikian juga raja Spanyol. Dan Julius masih tetap berdebat dengan Prancis tentang penyerbuan tersebut. Namun dengan kekuatan dan karena sifatnya yang tergesagesa tersebut, ia memimpin ekspedisi itu secara pribadi. Langkah ini membingungkan dan menahan gerak orang-orang Venesia dan Spanyol. Orang Spanyol takut dan orang Venesia berambisi untuk merebut kembali kerajaan Napels. Di lain pihak, ia berhasil menarik Prancis menjadi sekutunya. Karena raja Prancis melihat Julius mengambil langkah ini dan menginginkan persahabatannya untuk menundukaan orang-orang Venesia, raja Prancis berpendapat bahwa la tidak dapat menolak untuk memberikan bantuan pasukannya kepada Paus tanpa menderita kerugian besar. Dengan demikian Julius dengan tindakannya yang serampangan itu memperoleh apa yang oleh Paus lain dengan kebijaksanaan tertinggi pun tak akan dapat berhasil dalam tindakannya. Karena, seandainya la menunggu sampai semua persiapan selesai dan segala sesuatunya sudah diatur sebelum meninggalkan Roma, sebagaimana tentu akan dilakukan oleh Paus lain, la tentu tidak akan pernah berhasil. Dengan demikian raja Prancis dan yang lainlainnya akan mengemukakan seribu satu macam alasan untuk menutupi rasa takutnya. Saya tidak akan menyajikan tindakan-tindakan lainnya, yang sama sifatnya dan yang semuanya berhasil dengan gemilang. 

Umurnya yang pendek menyebabkan ia tidak mengalami pengalaman yang sebaliknya. Seandainya zaman menuntut kebijaksanaan untuk bertindak dengan hati-hati, pasti ia akan mengalami kehancuran, karena ia tidak pernah mau menyimpang dari metode yang sudah menjadi sifat bawaannya.

Karena itu, saya mengambil kesimpulan bahwa dewi fortuna atau nasib mujur dapat berubah-ubah dan orang yang tetap memegang teguh cara-cara mereka, akan berhasil selama caracara ini sesuai dengan situasi, tetapi kalau cara-cara Itu berlawanan maka mereka akan mengalami kegagalan. Saya memang berpendapat bahwa lebih baik bersikap impulsif daripada berhati-hati; karena dewi fortuna adalah seorang wanita dan jika Anda ingin menguasainya, Anda perlu mengalahkannya dengan paksa. Pengalaman membuktikan bahwa wanita membiarkan diri dikuasai oleh orang yang pemberani daripada oleh mereka yang malu-malu. Karena itu, seperti seorang wanita, nasib mujur selalu merupakan sahabat bagi orang muda, karena mereka cenderung bertindak impulsif, lebih bergelora dan menguasainya dengan keberanian lebih besar.

Selasa, 25 April 2017

Yang Terbaik Lalu Terbalik

Yang Terbaik Lalu Terbalik

Idul Adha, Mei 1962. Presiden Soekarno pagi itu salat di lapangan rumput Istana Presiden. Ia di saf terdepan. Tiba-tiba seorang pria di saf keempat berdiri menghunus pistol. Ia membidik Presiden. Tar! Tembakannya luput. Peluru mengoyak dada KH Zainul Arifin. Ketua DPR Gotong Royong itu meninggal setahun kemudian.

Sudah berkali-kali Soekarno dicoba dibunuh. Ia pernah digranat, dibidik pesawat MIG, tapi insiden Hari Raya Kurban inilah yang tergawat. Detasemen Kawal Pribadi Presiden kecolongan di halaman Istana, yang dijaganya 24 jam.

Karena itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris Nasution memanggil Letnan Kolonel Moch. Saboer, ajudan Presiden, untuk membicarakan pembentukan pasukan pengawal presiden. Sebenarnya itu bukan gagasan baru, tapi selalu ditolak Soekarno. Namun, kali ini Nasution berhasil meyakinkan Soekarno bahwa keberadaan pasukan itu lazim di semua negara.

Karena tak ada waktu untuk menyeleksi personel kesatuan baru itu, Nasution memerintahkan setiap angkatan menyetorkan pasukan khususnya. Masing-masing satu batalion. Kepolisian menyumbangkan Mobrig (Brimob), Angkatan Laut memberikan Korps Komando (KKO), dan Angkatan Udara menyetor Pasukan Gerak Tjepat.

Angkatan Darat seharusnya mengirimkan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). L.B. Moerdani—waktu itu masih berpangkat mayor RPKAD—sudah digadang-gadang sebagai komandan di kesatuan itu. Namun, pasukan elite ini menolak tugas tersebut dengan alasan ingin berkonsentrasi sebagai pasukan tempur. Sebagai gantinya, mereka memberikan pasukan Kostrad (waktu itu Tjadangan Umum Angkatan Darat, Tjaduad). Dua kompi di antaranya dari Batalion 454/Kodam VII Diponegoro, yang dikenal dengan sebutan Batalion Raiders atau Banteng Raiders.

Batalion ini sebenarnya punya catatan buruk di masa lalu. Sebagian anggotanya berasal dari Batalion Sudigdo, yang terlibat pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Ketika pemberontakan itu dipadamkan, batalion ini sempat dibersihkan dari unsur PKI. Namun, sebelum rampung, Belanda melancarkan agresi militer kedua.

Tapi soal itu sepertinya tertutupi oleh pamor tim tempur ini yang moncer dalam operasi PRRI/Permesta dan Operasi Trikora di Irian Barat. Apalagi Jenderal Ahmad Yani, yang dekat dengan Soekarno, dulu dari batalion ini.

Pada hari ulang tahunnya, 6 Juni 1962, Soekarno meresmikan resimen itu. Ia memberi nama Tjakrabirawa, senjata pamungkas Batara Kresna dalam lakon wayang kegemarannya. Ia pulalah yang memilihkan seragamnya: baju warna cokelat tua dengan baret merah gelap.

Setahun kemudian, pasukan ini sudah dalam kekuatan penuh. Senjata mereka serba canggih. Maklum, pasukan ini mendapat anggaran langsung dari pemerintah pusat, bukan dari kantong ABRI.

Lalu, 30 September 1965, Letnan Kolonel Untung Sjamsuri, Komandan Batalion I Kawal Kehormatan, melakukan makar. Kisah Tjakrabirawa setelah itu cuma berisi tragedi.

Sebenarnya cuma dua kompi Tjakra yang jahat. Ini kesaksian mantan Provoost Tjakra, Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Pagi 1 Oktober 1965, ujar Suhardi kepada Tempo, ia—saat itu kapten—menemukan, di markasnya di Wisma Kala Hitam hanya ada kompi Jawa Barat dan Jawa Timur. "Harusnya ada empat. Kompi Raiders dari Jawa Tengah dua-duanya tidak ada."

Belakangan, sebagian anggota kompi itu tertangkap di Cirebon. Rupanya, setelah aksi makarnya gagal, mereka melakukan long march ke pangkalannya di Srondol, Semarang, di bawah pimpinan Dul Arief. Sial, di Kota Udang, pasukan ini kehabisan ransum. Berdasarkan pemeriksaan di Cirebon oleh Mayor Soetardjo, diketahui bahwa yang terlibat gerakan Untung hanya 86 orang.

Tapi ada versi lain. Menurut Antonie Dake dalam bukunya, Soekarno File, ada banyak Tjakra terlibat. Mereka bahkan sudah menyiapkan kedatangan Soekarno ke Halim sehari sebelum 30 September.

Ini dibantah Kolonel Maulwi Saelan. Menurut Maulwi, langkah mengungsikan Soekarno ke Halim diambil semata-mata agar dia dekat dengan pesawat kepresidenan Jet Star, yang mangkal di sana.

Tudingan terhadap Tjakra juga dilontarkan pengamat politik militer Australia, Ulf Sundhaussen. Dia mengatakan, pada 3 Oktober Saelan memimpin Tjakrabirawa pergi ke Lubang Buaya untuk menghilangkan jejak penculikan atas perintah Soekarno.

"Itu kebohongan yang menjijikkan," ujar Maulwi. "Seperti laporan Soetardjo, yang terlibat hanya 86 orang."

Ia memang ke Lubang Buaya bersama pasukannya. Tapi ini berkat informasi dari agen polisi Sukitman, yang terculik bersama para jenderal dan kemudian ditemukan oleh pasukannya. Ketika memeriksa lokasi yang disebut Sukitman—yang sudah mereka serahkan ke Kostrad—pasukannya menemukan sumur tempat para jenderal itu dibuang.

Gara-gara aksi Untung, resimen ini bahkan coreng-moreng oleh perbuatan yang tidak mereka lakukan. Pada 1996, misalnya, Tjakra dituduh menembak mahasiswa Universitas Indonesia, Arief Rahman Hakim. Maulwi, dalam bukunya, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, menulis, penembaknya sebetulnya anggota Pom Dam V yang jadi patroli garnisun.

Riwayat resimen ini tamat pada 22 Maret 1966. "Tugas kalian sudah selesai," kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maraden Panggabean kepada para petinggi resimen ini di Markas Angkatan Darat. Ia meminta anggota Tjakra, yang disebutnya de beste zoneri (putra terbaik angkatan), kembali ke kesatuannya.

Enam hari setelahnya, Saboer menyerahkan pengawalan presiden kepada Polisi Militer Angkatan Darat. Namun, kisah Tjakra masih berlanjut. Untung divonis mati. Dul Arief hilang tak berbekas. Anggota kompinya dijebloskan ke rumah tahanan militer.

Memang banyak anggota Tjakra yang tak dipenjara dan dipulangkan ke kesatuan lamanya. Namun, menurut Maulwi, di kesatuannya, mereka rata-rata disisihkan. "Kami yang diperintahkan setia kepada Presiden dianggap kekuatan Soekarno yang harus disingkirkan," ujar Maulwi. "Saya kasihan pada anggota Tjakra. Mereka prajurit cemerlang tapi berada di posisi salah."

"Tjakra seperti bertukar nasib dengan Tjaduad," Maulwi menambahkan. "Tjaduad hanya tempat untuk tentara yang sudah masuk kotak... seperti Soeharto, yang akan dipensiunkan."

sumber: Majalah tempo

Sabtu, 22 April 2017

Mungkinkah Semut Menjadi Penjaga Pintu?

bookcyrcle.com - Saat menganalisis detail sistem dalam koloni semut, kita merasakan kekuatan kehendak tak tampak itu — yang menetapkan dan mengatur sistem ini — secara lebih konkret. Marilah kita lihat detail-detail ini.

Sarang semut dihubungkan dengan dunia luar melalui lubang kecil yang hanya seukuran seekor semut. Melewati lubang ini perlu “izin” dan dalam koloni ada sejumlah kecil semut yang “bertugas sebagai penjaga pintu”.

“Penjaga pintu” bertugas menjadi sumbat-hidup dengan bentuk kepalanya yang pas dengan lubang masuk. Lebih lanjut, warna dan desain kepalanya sama dengan warna kulit pohon di lingkungan sekitar. Penjaga pintu duduk berjam-jam di lubang masuk dan hanya mem-perbolehkan masuk semut-semut koloninya sendiri.

Ini berarti gagasan memiliki penjaga pintu untuk menjaga bangunan telah dipraktikkan oleh semut penjaga pintu, sebelum manusia. Semut ini menutupi lubang masuk dengan bagian tubuhnya yang terkuat, menyamarkan dirinya, dan melarang masuk semut yang tidak mengucapkan “kata kunci” yang benar.

Kenyataan bahwa semut penjaga memiliki kepala yang pas dengan lubang, dengan warna dan pola yang sesuai dengan lingkungan, dan ia menolak masuk siapa pun yang tidak ia kenal, jelas tidak mungkin dilakukannya atas kemauan sendiri. Jelas ada “tokoh intelektual“ yang mendesain tubuh semut dalam bentuk ini dan mengilhamkan tugas yang dilakukan semut tersebut. Mengatakan bahwa semut dapat memikirkan sendiri tugas ini dan bekerja sebagai penjaga pintu tanpa kehilangan kesabaran dan tanpa menyerah, jelas bukan penjelasan yang masuk akal.

Mari kita pikirkan: Mengapa seekor semut mau menjadi penjaga pintu? Jika boleh memilih, untuk apa ia mengambil tugas yang paling merepotkan dan memerlukan pengorbanan terbesar itu? Jika boleh memilih, tentu ia akan mengambil pekerjaan yang akan memberinya lingkungan ternyaman dan pelayanan terbaik. Sebenarnya, pilihan ini terjadi dengan ketetapan Allah. Dan semut penjaga pintu melak-sanakan tugasnya dengan penuh ketaatan. Hanya sang pencipta semut yang mungkin telah mendesain kehidupan koloni yang demikian sempurna, untuk menunjukkan sisi seni-Nya yang menakjubkan dan telah memberi tugas-tugas khusus kepada koloni semut yang hidup dengan sistem ini.

Menurut teori evolusi, semut mestinya berkembang dalam setiap segi dan mereka mestinya mencoba memasuki kasta yang memberi mereka hidup yang lebih nyaman. Akan tetapi, semut penjaga pintu tidak berupaya ke arah ini, sebaliknya melaksanakan tugas yang diilhamkan itu tanpa salah sepanjang seluruh hidup mereka.

Semut Ahli

Organisasi, spesialisasi dalam bidang-bidang tertentu, dan komunikasi dalam dunia semut hampir sama canggihnya dengan yang dimiliki manusia. Sedemikian canggihnya sistem itu, sehingga manusia kini memola sistem mereka menuruti sistem harmonis tersebut. Hal ini diuraikan dalam kutipan berikut: Ahli komputer masa kini mencoba mereproduksi bentuk-bentuk perilaku kolektif semut pada robot di laboratorium. Alih-alih berfokus pada program yang sangat maju, mereka malah berkonsentrasi pada robot-robot yang bekerja sama berdasarkan unsur-unsur informasi “sederhana”. Prinsip dasarnya sama. Alih-alih membuat sebuah robot yang sangat canggih, mereka malah mengembangkan sekelompok robot yang tidak begitu “cerdas”, tetapi menjalankan tugas yang sangat “rumit” seperti yang dilakukan semut dalam koloninya.… Robot-robot ini tidak canggih dalam hal “kecerdasan” jika dinilai satu persatu, tetapi mereka akan mencapai pembagian kerja melalui motivasi tindakan kolektif. Ini mungkin karena mereka memiliki kemampuan untuk bertukar informasi sederhana. Hidup dan kerja sama dalam koloni semut juga telah mempengaruhi NASA…. Organisasi ini berencana mengirimkan banyak “robot semut” untuk penelitian di planet Mars alih-alih satu robot canggih. Jadi, sekalipun sebagian robot ini rusak, anggota regu yang tersisa akan mampu merampungkan tugas mereka. Sekarang mari kita lihat contoh yang menarik dari dunia “semut ahli”.

Jumat, 21 April 2017

Kehidupan sosial semut

Kehidupan sosial semut
bookcyrcle.com - Telah disebutkan bahwa semut hidup berkoloni dan di antara mereka terdapat pembagian kerja yang sempurna. Jika diteliti, kita dapati sistem mereka memiliki struktur sosial yang cukup menarik. Mereka pun mampu berkorban pada tingkat yang lebih tinggi daripada manusia. Salah satu hal paling menarik dibandingkan manusia, mereka tidak mengenal konsep semacam diskriminasi kaya-miskin atau perebutan kekuasaan.

Banyak ilmuwan yang bertahun-tahun melakukan penelitian mendalam tak mampu menjelaskan perilaku sosial semut yang begitu maju. Caryle P. Haskins, Ph.D., kepala Institut Carnegie di Washington menyatakan:

Setelah 60 tahun mengamati dan mengkaji, saya masih takjub melihat betapa canggihnya perilaku sosial semut. … Semut merupakan model yang indah untuk kita gunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan. Sebagian koloni semut begitu padat populasinya dan begitu luas daerah hidupnya, sehingga tak mungkin bisa dijelaskan bagaimana mereka dapat membentuk tatanan yang sempurna. Jadi, pernyataan Dr. Haskins sulit dibantah. Sebagai contoh koloni yang besar ini, misalnya spesies semut Formica yesensis, yang hidup di pantai Ishikari, Afrika. Koloni semut ini tinggal di 45.000 sarang yang saling berhubungan di wilayah seluas 2,7 kilometer persegi. Koloni yang memiliki sekitar 1.080.000 ratu dan 306.000.000 pekerja ini dinamai “koloni super” oleh para peneliti.

Ditemukan bahwa semua alat produksi dan makanan dipertukarkan dalam koloni secara tertib. Sungguh sulit menjelaskan bagaimana semut-semut ini mem-pertahankan ketertiban tanpa masalah, mengingat luasnya tempat tinggal mereka. Harus diingat, untuk menegakkan hukum dan menjaga keter-tiban sosial, bahkan di negara beradab dengan sedikit penduduk pun, diperlukan berbagai kekuatan keamanan. Diperlukan pula staf administrasi yang  memimpin dan mengelola unit-unit ini. Kadang-kadang ketertiban pun tidak dapat dijaga tanpa timbul masalah, meski telah diupayakan sekuat tenaga.

Namun, koloni semut tidak memerlukan polisi, satpam, atau hansip. Dan mengingat tugas sang ratu — yang kita anggap sebagai pemimpin koloni — hanya melestarikan spesies, semut-semut ini sebenarnya tidak punya pe-mimpin atau penguasa. Jadi, di antara mereka tidak ada hierarki berdasarkan rantai komando. Lalu siapa yang menentukan ketertiban ini dan menjaga keberlanjutan-nya?

Sistem Kasta

Setiap koloni semut, tanpa kecuali, tunduk pada sistem kasta secara ketat. Sistem kasta ini terdiri atas tiga bagian besar dalam koloni.

Anggota kasta pertama adalah ratu dan semut-semut jantan, yang memungkinkan koloni berkembang biak. Dalam satu koloni bisa terdapat lebih dari satu ratu. Ratu mengemban tugas reproduksi untuk mening-katkan jumlah individu yang membentuk koloni. Tubuhnya lebih besar daripada tubuh semut lain. Sedang tugas semut jantan hanyalah membuahi sang ratu. Malah, hampir semua semut jantan ini mati setelah kawin.

Anggota kasta kedua adalah prajurit. Mereka mengemban tugas seperti membangun koloni, menemukan lingkungan baru untuk hidup, dan berburu. Kasta ketiga terdiri atas semut pekerja. Semua pekerja ini adalah semut betina yang steril. Mereka merawat semut induk dan bayi-bayinya; membersihkan dan memberi makan.

Selain semua ini, pekerjaan lain dalam koloni juga merupakan tanggung jawab kasta pekerja. Mereka membangun koridor dan serambi baru untuk sarang mereka; mereka mencari makanan dan terus-menerus membersihkan sarang.

Di antara semut pekerja dan prajurit juga ada sub-kelompok. Sub-kelompok ini disebut budak, pencuri, pengasuh, pembangun, dan pengumpul. Setiap kelompok memiliki tugas sendiri-sendiri. Sementara satu kelompok berfokus sepenuhnya melawan musuh atau berburu, kelompok lain membangun sarang, dan yang lain lagi memelihara sarang.

Setiap individu dalam koloni semut melakukan bagian pekerjaan-nya sepenuhnya. Tak ada yang mencemaskan posisi atau jenis tugasnya. Ia hanya melakukan apa yang diwajibkan. Yang penting adalah keber-lanjutan koloninya. Kalau kita pikirkan bagaimana sistem ini berkembang, kita tidak dapat mengingkari fakta adanya penciptaan. Mari kami jelaskan alasannya: Jika ada tatanan yang sempurna, secara logis kita berkesimpulan bahwa tatanan ini tentu dibentuk oleh otak yang merencanakan. Misalnya, tatanan disiplin dalam militer; jelas bahwa para perwira yang mengendalikan tentara telah menetapkan tatanan ini. Sungguh absurd kalau kita berasumsi semua individu dalam pasukan berkumpul dengan sendirinya dan mengorganisasi diri sendiri, lalu berkelompok menurut pangkat dan mulai bertindak sesuai pangkatnya. Lebih jauh lagi, perwira yang telah menetapkan tatanan ini harus terus melakukan inspeksi agar tatanan ini dapat bertahan tanpa masalah. Kalau tidak, pasukan yang diserahkan kepada prajurit saja akan berubah menjadi kumpulan yang kacau, sedisiplin apa pun pada mulanya.

Semut juga memiliki disiplin yang sangat mirip dengan disiplin militer. Namun, aspek yang penting adalah tidak ada “perwira”, atau administrator yang mengorganisasi, di mana pun juga. Berbagai sistem kasta dalam koloni semut menjalankan tugas mereka secara sempurna, meskipun tanpa “kekuatan pusat” yang terlihat mengawasi mereka.

Lalu, penjelasan satu-satunya adalah bahwa kehendak pusat ini merupakan kehendak yang “tak tampak”. Ilham yang disebut dalam Al Quran dalam pernyataan “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah” (Surat An-Nahl: 68) adalah kekuatan yang tak tampak ini. Kehendak ini telah menyempur-nakan perencanaan yang begitu dahsyat — yang menakjubkan manusia saat mencoba mengana-lisisnya. Ketakjuban dan kekaguman seperti ini juga telah diungkapkan oleh para peneliti dari waktu ke waktu dalam berbagai bentuk. Kaum evolu-sionis, yang mengklaim bahwa sistem yang sempurna ini telah berkembang akibat kebetulan, tidak mampu menjelaskan perilaku pengorbanan yang merupakan pusat sistem ini. Sebuah artikel mengenai topik ini dalam Jurnal Bilim ve Teknik sekali lagi menunjukkan ketidakmampuan tersebut:

Masalahnya, mengapa makhluk hidup suka tolong-menolong? Menurut Teori Darwin, setiap makhluk hidup berjuang untuk kelangsungan hidup dan perkembangbiakannya sendiri. Karena membantu makhluk lain akan secara relatif mengurangi peluang kelangsungan hidupnya tersebut, perilaku ini mestinya dilenyapkan oleh evolusi pada jangka panjang. Namun, telah terbukti bahwa makhluk hidup rela untuk berkorban.

Cara klasik untuk menjelaskan fakta pengorbanan ini adalah bahwa koloni yang terbentuk dari individu-individu yang mau berkorban demi kepentingan kelompok atau genus akan lebih sukses dalam evolusi daripada koloni yang terbentuk dari individu-individu yang egois. Namun, teori ini tidak menjelaskan bagaimana masyarakat yang mau berkorban ini dapat mempertahankan ciri tersebut. Suatu individu egois yang mungkin muncul dalam masyarakat itu mestinya akan meneruskan ciri egoisnya kepada generasi berikut, karena dia tak akan mengorbankan dirinya. Hal samar lainnya adalah bahwa jika evolusi terjadi pada tingkat masyarakat, sebesar apa semestinya masyarakat itu? Apakah masyarakat itu berupa keluarga, kelompok, genus, atau kelas? Bahkan jika evolusi terjadi bersamaan pada lebih dari satu tingkat, apa yang akan terjadi jika kepentingan antartingkat ini bertentangan? 

Seperti yang kita lihat, mustahil menjelaskan rasa pengorbanan pada makhluk hidup dan sistem sosial yang berdasarkan padanya dengan teori evolusi, yakni dengan berasumsi bahwa makhluk hidup telah muncul akibat kebetulan.

Rabu, 19 April 2017

Berita yang Mengejutkan tentang Kudeta Dewan Jendral

Berita yang Mengejutkan tentang Kudeta Dewan Jendral
Pada hari itu tepat tanggal 1 Oktober 1965. Hari itu kurang lebih jam 9 pagi, saya sudah ada di Kantor KBRI Havana, sebab kami sedang giat-giatnya bekerja untuk memper- siapkan perayaan Hari UlangTahun (HUT) ABRI 5 Oktober 1965. Semua keluarga Staf KBRI serta anak-istrinya giat dalam Panitia Perayaan yangjuga memperoleh bantuan dari pihak Kuba.Acaranya: mengadakan resepsi disertai pertunjukan kesenian nyanyian dan tari- tarian Indonesia; sedang diusahakan pula defile persahabatan Angkatan Pemuda Kuba Juventud Rebelde) di lapangan baris- berbaris di mana berdiri patungJendral Antonio Maceo (pemimpin pemberontakan bersenjata Kuba melawan penjajahan Spanyol). Sayangnya, acara defile ini dikoreksi oleh Panglima AchmadYani, yang dalam kawatnya mengatakan bahwa hal itu tidak biasa. Maka acara defile ini dibatalkan. Dalam kawatnya yang kedua dia mengatakan, berhubung dengan kesibukannya dengan Hari Ulang Tahun ABRI di Jakarta, pengangkatan saya menjadi MayorJendral Tituler TNI baru dapat dilaksanakan sesudah perayaan itu. Saya terima dua buah kawat sandi Panglima A.Yani itu kira-kira tanggal 15 dan 20 September 1965. Memanglah saya merasa dekat dengan beliau, dan rupanya beliau demikian pula, sebagai yang telah saya uraikan terlebih dahulu.

Oleh sebab itu saya amat terkejut dan heran sekali, ketika pada tanggal 1 Oktober jam 9 pagi ketika baru saja masuk kantor kedutaan dan berada di ruang kerja, tiba-tiba diserbu tanpa bikin janji terlebih dahulu oleh Capitain Osmani Cienfuegos. Bagaimana tidak akan kaget, sebab caranya bukan saja luar biasa, tetapi mengingat beliau sendiri adalah seorang tokoh Pemerintah Kuba yang penting sekali, anggota Politbiro El Partido Comunista de Cuba (PCC), adik PaKtawan Kuba Camilo Cienfuegos almarhum. Ketika pintu diketuk sekretaris saya :"Ada tamu penting, Pak", Kapten Osmani itu sudah ada di depan pintu. Segera saya melompat menyalami dan mempersilakannya duduk. Air mukanya tampak serius, tidak seperti ketika bersama-sama potong tebu di ladang. Mula-mula saya mengira kedatangannya akan mengabarkan bantuan Kuba yang telah saya minta untuk memeriahkan HUT ABRI yang pertama kali di Havana itu. "Excusame, por favor, Señor Embajador, maafkan saya, Tuan Duta Besar, atas kedatangan saya yang tiba-tiba ini ... sebab kami mengharap dan ingin mendapat kepastian apakan Embajador sudah menerima juga berita yang telah sangat mengejutkan kami?"

Singkatnya dia mau mengecek suatu berita mengejutkan yang rupanya dia terima duluan daripada saya. Belum saya tanya apa berita yang mengejutkannya itu, saya langsung menjawab bahwa berita- berita yang masuk biasa-biasa saja, tidak- ada yang mengejutkan. Kalau ada yang abnormal, tentulah saya akan minta konsultasi kepada ustedes, kepada anda-anda. Lalu saya tanyakan, berita apa yang dia terima yang mengejutkan itu?

"Ada kudeta Dewan Jendral di Jakarta. Karni terima kawat dari AFP/Prensa Latina. Ini...."
Saya ambil kawat itu dari tangannya, memang betul dari AFP/ Prensa Latina - kantor berita Pranci/Kuba. Pendek saja berita itu: TELAH TERJADI COUP D'ETAT Dl JAKARTA TERHADAP PRESIDEN SUKARNO. Saya perhatikan, kawat itu tertanggal 1 Oktober, berarti terjadinya kemarin, 30 September waktu Kuba.

Kalau langit dan bumi ini pecah tiga, empat, lima - saya tidak akan seterkejut seperti setelah saya membaca kawat yang dibawa oleh Kapten Osmani tersebut.Walapun sekujur badan saya sŠperti disengat listrik saking kagetnya mendengar berita yang tidak enak itu, pikiran dan hati saya tetap saja tidak mau percaya.
"Impossiblé ... yo no puedo crearlo (tidak mungkin saya tidak bisa percaya berita ini) .... I-m-p-o-s-s-i-b-l-é", tukas saya dalam bahasa Spanyol dengan intonasi panjang.
Saya ceritakan pada Osmani tentang pertemnan saya dengan Presiden Sukarno dan Panglima A.Yani bulan Januari 1965 secara singkat. Tidak mungkin pahlawan perang yang menghancurkan pemberontakan separatis PRRI/Permesta itu, mengkhianati Presiden, Panglima Tertingginya.
 
Pembaca yang terhormat,
 
Saya terpaksa dengan susah-payah menahan emosi untuk tidak menumpahkan semua sekaligus di halaman-halaman ini, dan sebenarnya sekarang ini memang sudah terlalu januh menggapai-gapai kejadian sial 1 Oktober 1965 itu. Suatu kejadian yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, tak terandai-andaikan bahkan sedikit pun pada saat kami bertiga - Presiden, Pak Yani dan saya - begitu intimnya menyantap rebusan"singkong Marhaen" di Istana Merdeka.

Melanjutkan cerita tentang pertemnan dadakan antara Kapten Osmani dengan saya pada 1 Oktober 1965 pagi itu, Kapten Osmani sebelum pamit masih berkata: "Sebaikuya saudara Duta Besar mengecek berita itu. Karena persahabatan Kuba yang begitu dekat dengan Indonesia, saya anggap penting berita AFP itu segera diketahui Embajador dan diperiksa sampai di mana kebenarannya. Kuba mengharapkan berita itu tidak benar. Sekian saja, hasta luego, sampai nanti." Sesudah menanyakan keadaan keluarga saya, seraya menyatakan salamnya, Kapten Osmani pamitan pulang.

Sejurus saya termenung memikirkan berita yang sensasional tetapi sekaligus mengkhawatirkan yang dibawa tokoh penting Kuba tadi. Masih tetap saja tidak masuk akal pada saya. Kemudian saya kumpulkan semua staf KBRI dan memerintahkan agar mengecek berita itu. Pertama, saya perintahkan menilpon ke Jakarta. Kedua, menanyakan kepada KBRI Washington apakah mereka ada menerima berita tentang kudeta itu.Ternyata KBRI Washington juga tidak tahu apa-apa, mereka hanya menjanjikan akan memberitahokan ke Kuba kalau sudah dapat berita resmi dari Jakarta. Agar pembaca mengetahui, KBRI Havana tidak mempunyai hubungan tilpon langsung denganJakarta.Telex atau tilpon semuanya harus melalui KBRI Washington. Hanya surat-menyurat, diplomatic bag, bisa langsung via Mexico per plane. Pada waktu saya baru tiba di Ha- vana, saya tanyakan kepada chargé d'affair, saudara Raden Ngabehi Sulaiman, yah begitulah ketentuan Deplu diJakarta.Tentu saja saya mendongkol, tapi saya belum bisa berbuat apa-apa untak tidak tergantung kepadaWashington itu. KBRI Havana dalam hal trans- komunikasi ke Jakarta rupanya cuma embel-embel. Saya pikir pada saatnya keadaan seperti itu harus diubah, supaya saya dari Havana punya akses langsung dengan pemerintah pusat di Jakarta.

Pada resepsi di Kedutaan RRC pada hari 1 Oktober 1965 itu, banyak Duta-duta Besar asing menyalami saya, sampai jadi berkerumun. Rupanya mereka sudah memperoleh juga berita semacam yang diberitakan olehAFP itu. Dengan tegas saya membantah, bahwa sama sekali tidak mungkin terjadi kodeta oleh Dewan Jendral, bahwa saya masih menantikan penjelasan dari Jakarta.

Mengenai hal ini ada sesuatu yang"aneh" saya alami. Kira-kira dua bulan yang lalu dalam satu pertemuan dengan Duta Besar Polandia, beliau menanyakan, sampai di mana kekuasaan Presiden Sukarno di dalam ketentaraan Indonesia. Tentu saja saya jawab positif, semua ABRI bulat di belakang Presidennya. Mestinya dalam hal seperti itu saya, sebagai Duta Besar dan juga sebagai telinga di pos depan, segera melaporkan kepada Pemerintah. Mengapa sampai muncul pertanyaan seperti itu? Tapi apa mau dikata, seperti saya katakan di atas tadi, KBRI Havana tidak punya komunikasi langsung ke Jakarta. Dan saya selalu bersikap hati-hati mengenai hal-hal secret seperti itu. Satu hal pernah saya minta kepada Presiden Sukarno kalau saya dikirim ke Kuba, agar dalam hal-hal yang penting dan rahasia saya diperkenankan berhubungan langsung dengan Presiden. Hanya dalam urusan administrasi dan keuangan saja, saya bertang- gungjawab kepada Menlu dan Deparlu. Beliau mengerti maksud saya dengan baik. Ketika itu saya belum mengetahui tentang peralatan Kedutaan Besar Havana yang sangat minim.

Marsekal Suryadharma tadinya ditugaskan untuk mempersiapkan Kedutaan di Havana itu, kemudian beliau diangkat menjadi Penasihat Militer Presiden Sukarno.Ternyata alat-alat komunikasi langsung antara KBRI Havana dengan Istana di Jakarta tidak ada sama sekali, barangkali belum terpikir akan arti penting KBRI Ha- vana, padahal sebagaimana dikatakan Presiden Sukarno, Kuba punya posisi penting bagi kita dalam kaitan dengan Amerika Latin. Nanti, nanti di Jakarta saya akan menjumpai lagi keteledoran, kelalaian Penasihat Militer kita ini, di dalam rangka penyelamatan Presiden Sukarno dari kepungan malapetaka G30S.

Di dalam resepsi di Kedutaan RRT tersebut di atas tadi, Duta Besar Polandia itu juga datang menyalami saya dengan senyumnya yang simpatik itu, tapi dengan nada rada sarkastis berkata sambil lalu: "Itu sebabnya dulu saya mengingatkan Duta Besar supaya periksa lagi sampai di mana kekuatan Presiden Sukarno di dalam ketentaraan Indonesia".

Dalam hal ini, kiranya, para pembaca dapat memaklumi bahwa telah berlaku pada diri saya pribadi peribahasa"sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna". Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa pun mengenai kesulitan alat-alat komunikasi itu tadi, tapi biarlah diketahui kekurangan hal-hal yang amat penting kita butuhkan di masa itu.

Barulah pada tanggal 5 Oktober kita terima telex dari KBRI Washington yang mengabarkan bahwa telah terjadi kudeta oleh Kolonel Untung. Itu saja. Seminggu kemudian, oleh saudara Djuwir Djamal, ex Sekretaris I KBRI Havana yang beberapa bulan yang lalu telah dipindahkan Deplu ke Kedutaan R.I. di Argentina, saya dikirimi majalah yang memuat foto Kolonel Untung.

Dalam keadaan tak menentu itu, saya terpaksa memutuskan membatalkan Peringatan Hari UlangTahun ABRI yang tadinya telah direncanakan dengan segala kebesaran dan kemeriahan. Buat apa, kalau hanya akan memalukan nama bangsa, memalukan pemerin- tahan Sukarno. Sebab masih belum ada juga keterangan yang menjelaskan situasi dari Jakarta mengenai kudeta itu.

Sesudah itu barulah ada telex dari KBRI Washington yang agak jelas, bahwa pada 30 September telah terjadi percobaan kudeta oleh Kol.Untung dan Presiden Sukarno dalam keadaan selamat.

sumber: Majalah Tempo

Sabtu, 15 April 2017

Mempertahankan NKRI

Mempertahankan NKRI

bookcyrcle.com - Kemerdekaan Indonesia ternyata tidak diakui oleh Pemerintah Kerajaan Belanda. Bahkan sebaliknya mereka bermaksud menjadikan kembali wilayah Indonesia sebagai bagian dari Kerajaan Belanda. Di lain pihak, bangsa Indonesia sudah bulat hendak mempertahankan kemerdekaan sehingga melahirkan apa yang disebut dengan perang kemerdekaan. Bagi bangsa Indonesia, perang kemerdekaan bukan hanya kisah sentral dalam sejarah bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai unsur yang kuat dalam persepsi bangsa Indonesia dalam mencari identitas diri. Selain itu, perang kemerdekaan bertujuan juga untuk melengkapi dan menyempurnakan proses penyatuan dan kebangkitan nasional yang telah dimulai empat dasawarsa sebelumnya. Di lain pihak, bagi Belanda, perang kemerdekaan merupakan ajang penghancuran sebuah negara merdeka yang dipimpin oleh orang-orang yang bekerja sama dengan Jepang.

Mereka berusaha untuk membangun kembali suatu rezim kolonial yang menurut keyakinan mereka telah berdiri sejak 350 tahun yang lalu (Ricklefs, 1991: 317-318).

Dengan demikian, Belanda menganggap wilayah Indonesia masih sebagai wilayah jajahannya dan merasa memiliki kekuatan hukum untuk memberangus setiap gerakan yang ingin mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I ke wilayah Republik Indonesia. Agresi Militer I ini merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Lingga-jati yang telah ditandatangani pada 10 November 1946. Perjanjian baru ditandangani tanggal 17 Januari 1948 di atas Kapal Renville, sehingga kemudian perjanjian itu dikenal dengan sebuatan Perjanjian Renville. Tidak puas dengan itu, pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II ke wilayah Republik Indo-nesia. Meskipun Presiden Soekarno dan Wapres Moh. Hatta berhasil ditangkap, namun eksistensi NKRI tetap terjaga mengingat sebelumnya telah dibentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah pimpi-nan Mr. Sjafruddin Prawiranegara.

Apa yang dilakukan oleh K. H. Abdul Halim dalam menghadapi serangan militer Belanda itu? Sebagai seorang ulama dan pemimpin, K. H. Abdul Halim tidak hanya ikut-ikut mengungsi mengamankan diri dan keluarganya. Ia ikut bergerilya bersama para pejuang lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan basis di sekitar kaki Gunung Ciremai. Dalam aksi gerilyanya itu, K. H. Abdul Halim langsung memimpin anak buahnya menghadang pergerakan militer Belanda di wilayah Keresidenan Cirebon. Pada masa itulah, ia kemudian diangkat sebagai “Bupati-Masyarakat” Ma-jalengka oleh Residen Hamdani. Sebagai bupati masyarakat, tugas pokoknya adalah menjadi pen-ghubungan antara Bupati Mr. Makmun dengan seluruh lapisan masyarakat Majalengka. Atas jasanya, komuni-kasi antara rakyat Majalengka dan pemimpinnya men-jadi tidak terputus sehingga rakyat Majalengka pun dapat mengambil bagian dalam perjuangan memper-tahankan kemerdekaan dari rongrongan Belanda (Akim, 1964: 40; Hidajat, 1967: 19; Lubis, 2007: 20).

Dengan peran seperti itu, militer Belanda ke-mudian menyerang Pasirayu, tempat tinggal K. H. Abdul Halim. Di tempat inilah, ia menyiapkan kader-kader bangsa yang memiliki jiwa nasionalis dan mandiri. Oleh Belanda, tempat itu dianggap sebagai pusat pertahanan TNI dan laskar PI untuk wilayah Majalengka. Serangan Belanda itu mengakibatkan sebagian bangunan di kompleks Santi Asromo hancur, yakni sebagian ruangan yang dijadikan madrasah dan sebagian bangunan asrama san-tri putra (Wawancara dengan Muhammad Mukri dan Abdul Fatah, 30 Maret 2008). K. H. Abdul Halim kemudian ditangkap oleh Belanda dan diinterograsi Nefis, tetapi penangkapan itu tidak menjadikan dirinya mau bekerja sama dengan Belanda. Ia tetap berjuang demi tegaknya proklamasi kemerdekaan meskipun anak dean menantunya ditawan pihak Belanda. Ia kemudian men-jadi penyuplai logistik TNI sehingga mereka tidak pernah kekurangan makanan meskipun dikepung oleh tentara Belanda (Hidajat, 1967: 19).

Demikian juga terhadap gerakan H. Sarip di Buru-julwetan, Jatiwangi tahun 1947, sangat dimungkinkan K. H. Abdul Halim menentang gerakan tersebut. Gerakan H. Sarip merupakan suatu gerakan separatis yang bersifat millenaristis dan mencoba mengajak rakyat Majalengka untuk mendukung upaya Belanda mengembalikan kekuasaannya di daerahnya. Ia mengatakan bahwa pada tanggal 12 Rajab akan terjadi peperangan hebat dan semua orang yang salah akan mengalami kekalahan. Para leluhurnya akan membantu dalam peperangan itu sam-pai tegaknya pemerintahan baru yang dijalankan oleh orang Belanda. Orang Belanda yang membangun pemer-intahan baru itu bukanlah orang Belanda yang dulu menjajah Indonesia, melainkan para leluhurnya yang menjelma menjadi orang Belanda. Oleh karena yang memerintah itu para leluhurnya, kemakmuran akan segera dirasakan oleh segenap rakyat Majalengka (Indonesia,1945-1949). Dengan tidak adanya dukungan K. H. Abdul Halim, para ulama dan rakyat pun tidak mendukung gerakan H. Sarip sehingga gerakannya seumur jagung. K. H. Abdul Halim malah selalu menganjurkan rakyat untuk terus berjuang demi mempertahankan proklamasi ke-merdekaan dan keutuhan NKRI.

Itu perjuangan K. H. Abdul Halim di bidang militer dalam menghadapi agresor Belanda. Tidak hanya itu, K. H. Abdul Halim pun berjuang lewat pemikirannya. Belanda tidak hanya menyerang Indonesia secara mili-ter, tetapi menyerang juga secara politis. Dibuatlah suatu strategi memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Belanda merencanakan menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara federal yang didalamnya berisi negara-negara bagian bentukan Belanda. Negara-negara bagian inilah yang nantinya dikendalikan oleh Belanda sehingga kekuasaan Belanda akan tetap eksis di Indone-sia.

Demikianlah, di Jawa Barat pun Belanda membentuk sebuah negara yang bernama Negara Pasundan. Mengenai Negara Pasundan, proses pembentukan dan perkembangannya terjadi dalam dua versi yang berbeda. Negara Pasundan pertama didirikan oleh R. A. A. Mu-hammad Musa Suria Kartalegawa yang diawali dengan mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP) pada tanggal 18 November 1946 di Bandung. PRP kemudian menda pat dukungan dari para pembesar sipil dan militer Belanda dan berusaha untuk mencari simpati rakyat Jawa Barat dengan berbagai cara, seperti memunculkan isu kesundaan, membagi-bagikan uang, makanan, dan pakaian, memaksakan keanggotaan kepada rakyat Jawa Barat dengan menggunakan kekuasaan Belanda, dan memperlihatkan kekuatannya dengan melakukan tindak kekerasan dan penyerobotan. Merasa PRP telah kuat, pada tanggal 4 Mei 1947, Kartalegawa mem-proklamirkan Negara Pasundan sekaligus mengangkat dirinya sebagai presiden dan jabatan perdana menteri diserahkan kepada Mr. Katamso (Sewaka, 1955: 91).

Eksistensi Negara Pasundan versi Kartalegawa ti-dak berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Negara ini tidak mendapat dukungan dari tokoh masyarakat Jawa Barat, bahkan keluarganya pun tidak mendukung tindakan politik Muhammad Musa Suria Kartalegawa tersebut. Keberadaannya semakin terpuruk ketika Belanda menarik dukungannya karena keberadaan Ne-gara Pasundan tidak memberikan keuntungan politik signifikan terhadap kepentingan politik Belanda (Yong Mun Cheong dalam Zuhdi, 1995: 130).

Segera setelah Belanda menarik dukungannya kepada Kartalegawa, mereka memikirkan kembali untuk membentuk Negara Pasundan versi baru. Diawali den-gan menyelenggarakan Konferensi Jawa Barat I dari tanggal 13-18 Oktober 1947, proses pembentukan Negara Pasundan segera dimulai. Dua bulan kemudian, tanggal 16-20 Desember 1947, diselenggarakan Konferensi Jawa Barat II yang memutuskan akan segera dibentuk pemerintahan sementara di Jawa Barat, mengingat Gubernur Sewaka berada di daerah pengungsian, yakni di Tasikmalaya. Keberadaan pemerintah sementara di-kukuhkan dalam Konferensi Jawa Barat III yang dise-lenggarakan pada tanggal 23 Februari-5 Maret 1948 yang memutuskan

1. Pemerintahan sementara Jawa Barat harus diartikan sebagai Negara Jawa Barat.
2. Penunjukkan R. A. A. Muharam Wiranatakusumah sebagai Wali Negara Jawa Barat.
3. Menetapkan Konferensi Jawa Barat III sebagai Par-lemen Jawa Barat Sementara (Ekadjati, 1995: 15; In-donesia, 1953: 161).

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, negara bentukan Recomba ini berubah nama menjadi Negara Pasundan. Sebagai sebuah negara, berbagai kelengkapan kenegaraan segera dibentuk, yakni parlemen dan kabinet. Parlemen Pasundan diketuai oleh R. T. Juwarsa, sedangkan Kabinet Pasundan dipimpin oleh R. Adil Puradiredja sebagai perdana menteri merangkap menteri dalam negeri. Sejak saat itu, di Jawa Barat berdirilah Negara Pasundan sebagai negara tandingan bagi Republik Indonesia.

Namun demikian, perkembangannya pun tidak se-jalan dengan harapan Belanda ketika membentuk negara tersebut. Maskipun mampu bertahan sampai melebur ke dalam Republik Indonesia Serikat sejak 27 Desember 1949 sampai 8 Maret 1950, rakyat Jawa Barat tidak se-cara total mendukung keberadaan Negara Pasundan. Rakyat Jawa Barat memandang bahwa pembentukan Negara Pasundan telah keluar dari cita-cita kebangsaan mereka sesuai dengan amanat Proklamasi 17 Agustus 1945. Mereka lebih memilih untuk mempertahankan ek-sistensi Republik Indonesia di Jawa Barat, meskipun ha-rus berhadapan dengan kekuatan militer Belanda (Sugardo, 1948: 14). Anggapan bahwa eksistensi Pemer-intah Propinsi Jawa Barat telah berakhir seiring dengan penangkapan Gubernur Sewaka tidak terbukti karena kepemimpinannya dilanjutkan oleh Oekar Bratakoesoemah.

Dalam situasi politik seperti inilah, K. H. Abdul Halim tampil ke depan untuk mengembalikan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun ke-beradaan Negara Pasundan dalam periode 1949-1950 diakui oleh hukum, karena pada waktu itu Republik Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat, K. H. Abdul Halim tetap memandang eksistensinya telah keluar dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agus-tus 1945. Sejalan dengan pemikirannya yang diutarakan dalam sidang BPUPK yang menginginkan bentuk ke-satuan untuk negara Indonesia merdeka, K. H. Abdul Halim berupaya untuk sesegera mungkin membubarkan Negara Pasundan dan kembali melebur ke Republik Indonesia.

Untuk mewujudkan harapannya itu, K. H. Abdul Halim melakukan kontak komunikasi dengan rekan-rekan seperjuangannya di Bandung seperti Kyai Ahmad Hasan, H. Zamzam, Isa Anshari, Ardiwinangun, Achsi, dan lain-lain. Tidak hanya sekali K. H. Abdul Halim mela-kukan diskusi dengan mereka mengenai eksistensi RIS dan Negara Pasundan. Setelah sekian lama melakukan diskusi dan berkali menempuh perjalanan Majalengka-Bandung, pada akhirnya mereka sepakat untuk membentuk sebuah organisasi yang bernama Gerakan Muslimin Indonesia (GMI) di Bandung. GMI dibentuk dengan maksud memelopori gerakan menentang federalisme, mendukung unitarisme, dan menentang keberadaan Negara Pasundan, sebagai salah satu negara bagian RIS. Oleh rekan seperjuangannya, K. H. Abdul Halim ke-mudian ditetapkan sebagai Ketua Umum GMI dan berkewajiban melaksanakan persiapan untuk suatu gerakan membubarkan Negara Pasundan (Hidajat, 1967: 29). Pada akhir tahun 1949 dan awal 1950, GMI menye-lenggarakan Rapat Akbar Pembubaran Negara Pasundan di Bandung. Rapat akbar itu tidak hanya dihadiri oleh kaum muslimin yang tinggal di Bandung, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa Barat. Rapat akbar itu berhasil merumuskan sebuah mosi atau pernyataan yang menolak federalisme dan menuntut pemerintah untuk segera menerapkan kembali unitarisme. Sebagai konse-kuensi penolakan itu, GMI menolak keberadaan Negara Pasundan di Jawa Barat dan menginginkan agar sesegera mungkin membubarkan Negara Pasundan serta wilayahnya harus dilebur ke wilayah Republik Indonesia. K. H. Abdul Halim kemudian ditunjuk dalam rapat akbar itu sebagai ketua delegasi yang akan menyampai-kan mosi tersebut kepada R. Sewaka sebagai Komisaris RIS untuk Negara Pasundan (Hidajat, 1967: 20).

Rapat akbar dan mosi dari GMI yang dimotori oleh K. H. Abdul Halim secara langsung atau tidak telah membuat gerakan unitarisme di Negara Pasundan semakin menguat. Berbagai kalangan masyarakat menuntut agar wilayahnya dikembalikan ke Republik Indonesia. Pun-caknya terjadi pada tanggal 8 Maret 1950 ketika rakyat Jawa Barat berdemonstrasi secara besar-besaran di Bandung agar Negara Pasundan dibubarkan dan seluruh wilayahnya dimasukkan ke wilayah Republik Indonesia. Perlu diingat bahwa ketika RIS berdiri, Republik Indonesia merupakan salah satu negara bagian dengan ibu-kotanya di Yogyakarta. Akibat tekanan dari berbagai lapisan masyarakat, pada akhir Maret 1950, Negara Pasundan pada akhirnya dibubarkan dan menyatakan diri melebur ke wilayah Republik Indonesia. Pembubaran Negara Pasundan diikuti dengan pembentukan kembali Propinsi Jawa Barat sebagai bagian dari RI dan Sewaka kemudian diberhentikan sebagai Komisaris RIS dan selanjutnya ditunjuk sebagai Gubernur Jawa Barat (Sewaka, 1955: 192).
Sikap serupa ternyata ditunjukkan pula oleh rakyat Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST), sehingga pada tanggal 8 April 1950 dise-lenggarakan konferensi RIS-NIT-NST. Pada tanggal 12 Mei 1950, kedua negara bagian itu menyerahkan man-datnya kepada PM RIS, Moh. Hatta untuk mempersiapkan peleburannya ke wilayah RI. Pada akhirnya, tanggal 19 Mei 1950 tercapailah kesepakatan antara RIS dan RI untuk membentuk kembali negara kesatuan bernama Republik Indonesia. Tepat pada peringatan ke-5 Kemer-dekaan RI tanggal 17 Agustus 1950, UUD Sementara diberlakukan yang menandai berakhirnya RIS dan tegaknya kembali NKRI (Poesponegoro dan Noto-susanto, 19906: 209-210).

Dengan berlakunya UUD Sementara, Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali berdiri, tetapi dengan sistem pemerintah yang berbeda dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Periode ini kemudian dikenal juga sebagai masa demokrasi parlementer, karena sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem parlementer. Berdasarkan sistem ini, presiden hanya berkedudukan sebagai kepala negara dan masalah pemerintahan dijalankan sepenuhnya oleh kabinet di bawah pimpinan seorang perdana menteri.

Pada tahun 1955, diselenggarakan pemilihan umum untuk legislatif dan konstituante. Dalam pemilu itu, muncul sebagai pemenangnya empat partai besar yaitu Masyumi, PNI, Nahdlatul Ulama, dan PKI. Terkait dengan pemilu untuk anggota Dewan Konstituante, K. H. Abdul Halim terpilih menjadi anggota yang dewan itu yang tugas pokoknya menyusun undang-undang dasar yang akan mengganti UUD Sementara. Namun sayang, tugas-tugas kenegaraan yang diembannya itu tidak da-pat dijalankan secara optimal seiring kesehatannya yang menurun. Sejak tahun 1956, K. H. Abdul Halim terkena penyakit gula (diabetes) yang mengharuskan dirinya mengurangi aktivitas politiknya. Meskipun demikian, sampai Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit tanggal 5 Juli 1959, K. H. Abdul Halim masih tercatat sebagai anggota Dewan Konstituante sebagai wakil Masyumi (Hidajat, 1967: 20).

Ketika negara dilanda gerakan separatisme, di Jawa Barat pun muncul gerakan yang berusaha untuk mendirikan Negara islam Indonesia. Gerakan ini kemudian dikenal dengan DI/TII di bawah pimpinan R. M. Kartosuwiryo. Dalam perkembangannya, gerakan DII/TII tidak hanya di terjadi di Jawa Barat, melainkan juga menyebar ke luar Jawa, seperti Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi. Terhadap gerakan DII/TII, K. H. Abdul Halim tidak pernah menyetujuinya, apalagi ambil bagian dalam gerakan separatisme itu. Bagi K. H. Abdul Halim, apa yang dilakukan oleh Kartoswiryo merupakan kesalahan yang tidak dapat ditoleransi. Kekerasan, kezaliman, dan lain-lain bukanlah watak agama Islam. Sesuai dengan sifatnya, dia kemudian memilih untuk menghin-dar berkonfrontasi langsung dengan DII/TII. Sebaliknya, K. H. Abdul Halim selalu menyambut dan memberikan informasi tentang keberadaan DI/TII pada saat TNI mendatangi kampung halamannya (Wawancara dengan Abdul Fatah, yang tanggal 30 Maret 2008).

next

Rabu, 12 April 2017

Proklamasi Kemerdekaan

Proklamasi Kemerdekaan
bookcyrcle.com - Pada 16 Agustus 1945, situasi politik di Jakarta semakin memanas karena adanya perbedaan pendapat antara kelompok Soekarno-Hatta dan kelompok pemuda menyangkut teknis pelaksanaan pengumuman prokla-masi. Soekarno-Hatta menginginkan pengumuman proklamasi dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 1945 di hadapan sidang PPKI. Sementara itu, kelompok pemuda menginginkan pengumuman proklamasi harus segera dilakukan tanpa melibatkan PPKI, karena badan itu bentukan Jepang. Seandainya proklamasi itu dilakukan di depan PPKI, mereka khawatir kemerdekaan Indonesia akan dicap sebagai pemberiaan Pemerintah Militer Jepang. Alasan lain yang dikemukakan para pemuda adalah sejak tanggal 14 Agustus 1945 Balatentara Jepang telah menyerah kepada Pasukan Sekutu sehingga tidak memiliki kekuasaan apa-apa lagi dan dengan sendirinya kewenangan Jepang untuk memerdekakan Indonesia pun sudah tidak dimiliki lagi. Perbedaan pendapat tersebut semakin tajam sehingga terjadilah peristiwa Rengasdengklok yaitu tindakan perwira Peta yang menga-mankan Soekarno-Hatta dari situasi politik yang tidak menentu ke Rengasdengklok (Wirasoeminta, 1995).

Setelah mengetahui keberadaan Soekarno-Hatta, pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB tanggal 16 Agus-tus 1945, Ahmad Soebardjo berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno-Hatta dan mem-berikan jaminan kepada para perwira Peta bahwa kese-lamatan Soekarno-Hatta selama berada di Jakarta akan terjamin. Tindakan Ahmad Soebardjo itu didorong oleh situasi yang sangat mendorong untuk segera diambil keputusan politik menyangkut masalah kemerdekaan Indonesia. Mengingat kapasitas Soekarno-Hatta sebagai pemimpin nasional utama, keputusan politik itu hanya dapat dilakukan oleh mereka berdua.

Setibanya di Jakarta, Soekarno-Hatta segera men-ghubungi Somubucho Mayor Jenderal Nishimura untuk mengetahui sikap Pemerintah Militer Jepang berkenaan dengan rencana kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Mayor Jenderal Nishimura diketahui bahwa Pemerintah Militer Jepang mulai tang-gal 16 Agustus 1945 pukul 12.00 waktu Jawa, sudah menjadi alat Sekutu dan diperintahkan untuk tidak men-gubah keadaan politik apapun juga. Dengan perkataan lain, Pemerintah Militer Jepang tidak mungkin melanjut-kan rencana pemberiaan kemerdekaan kepada Indone-sia karena kewenangan mereka untuk telah dicabut oleh Sekutu yang memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Sikap Pemerintah Militer Jepang tersebut mela-hirkan keyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia harus dilakukan tanpa bantuan Jepang. Hal tersebut mendorong bagi Soekarno-Hatta untuk segera menyelenggarakan rapat persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diselenggarakan di rumah Marsekal Muda Maeda seorang pembesar Angkatan Laut Jepang yang simpati terhadap perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Rapat yang dilaksanakan sampai menjelang subuh tanggal 17 Agustus 1945, berhasil mengambil keputusan untuk membentuk panitia kecil terdiri atas Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, dan Ahmad Soebardjo untuk merumuskan teks proklamasi. Proses perumusan teks proklamasi ini disaksikan oleh Soekarni, B. M. Diah, Mbah Diro, Sajuti Melik, dan beberapa orang Jepang yang berada di luar ruangan. Setelah naskah proklamasi selesai disusun dan disetujui oleh peserta rapat, pada pagi harinya teks proklamasi ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pembacaan prokla-masi kemerdekaan Indonesia dibacakan di hadapan rakyat pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di kediaman Ir. Soekarno Jln. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Sebelum membacakan proklamasi kemerdekaan, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan yang singkat.

Saudara-saudara sekalian! Saya telah minta sau-dara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpu-luh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah ber-juang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak ber-henti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang ber-ani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi ma-lam telah mengadakan musyawarat dengan pe-muka-pemuka rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita. Saudara-Saudara! Dengan ini kami menyata-kan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan ke-merdekaan Indonesia! Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggara-kan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05
Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta


Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita! Negara Merdeka, negara Republik Indonesia merdeka, kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu (Poesponegoro dan Noto-susanto, 19906: 93-94).

Sementara itu, kabar tentang akan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 telah diketahui oleh Penghulu Lubis yang berkedudukan sebagai Wakil Kepala Bagian Penyiaran Kantor Berita Domei Jakarta dari seorang kurir utusan Soekarni. Den-gan menggunakan stempel perwira Jepang, Penghulu Lubis segera meneruskannya ke Bagian Morse Kantor Berita Domei Jakarta disertai catatan singkat ”untuk di-siarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 waktu Indonesia”. Berita yang diterima oleh bagian morse itu dapat ditangkap oleh Bagian Morse Kantor Pos, Telepon, dan Telegram (PTT) Bandung dan Sutoko sebagai Wakil Kepala Bagian Telegram segera memerin-tahkan untuk mengirimkannya ke seluruh kantor PTT di Indonesia (Suwardjo et al., 1984: 42).

Langkah awal untuk menyambut Kemerdekaan In-donesia adalah pembentukan pemerintahan daerah lengkap dengan organ pendukungnya. Pembentukan pemerintahan daerah didasarkan pada keputusan rapat PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa untuk sementara waktu wilayah Republik Indo-nesia dibagi menjadi delapan daerah propinsi dan tiap propinsi dibagi lagi menjadi beberapa kabupaten dan kota otonom. Kepala pemerintahan daerah (gubernur, residen, bupati, dan walikota) akan dibantu oleh Komite Nasional Daerah setempat. Kedelapan propinsi itu adalah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Mengacu pada Ketetapan PPKI tersebut, maka pemerintahan Ma-jalengka Si menjelma menjadi Kabupaten Majalengka dipimpin oleh R. A. Umar Said sebagai bupati dan berada di bawah Keresidenan Cirebon Propinsi Jawa Barat.

Pada sidang yang sama, Rancangan Pembelaan Ne-gara yang telah dirumuskan oleh K. H. Abdul Halim dalam sidang BPUPK ditolak oleh PPKI. Penolakan terse-but didorong oleh suatu kenyataan bahwa rancangan itu mengandung politik perang sehingga tidak dapat diter-ima oleh anggota PPKI. Demikian juga lembaga-lembaga kemiliteran yang dibentuk Jepang akan segera dibubar-kan karena tidak memiliki kepastian hukum interna-sional. Meskipun pemikiran K. H. Abdul Halim dan kawan-kawannya ditolak PPKI, namun ada juga bagian-bagian dari rancangan itu yang diterima PPKI. Setidak-tidaknya, PPKI memandang perlu dibentuk alat pertahanan yang sebaik-baiknya guna mengamankan kedaulatan negara (Poesponegoro dan Notosusanto, 19906: 99).

Pada tanggal 19 Agustus 1945 (malam hari), Presiden Soekarno melakukan pembicaraan dengan Wapres Moh. Hatta, Mr. Sartono, Suwirjo, Oto Iskandardinata, Sukardjo Wirjopranoto, dr. Buntaran, Mr. A. G. Pring-godigdo, Sutardjo Kartohadikusumo, dan dr. Tajuluddin. Inti pembicaraan itu adalah membahasa nama-nama calon yang akan diangkat menjadi anggota KNIP. Mereka menyepakati bahwa KNIP itu akan beranggotakan 60 orang dan disepakai pula bahwa tanggal 29 Agustus 1945, KNIP akan menggelar rapat pertama di Gedung Komidi (sekarang Gedung Kesenian), Pasar Baru, Jakarta.

Hasil pembicaraan di atas oleh Soekarno dibawa dalam sidang PPKI pada tanggal 22 Agustus 1945. Sidang menerima pembentukan KNIP sebagai penjelamaan kebulatan tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia untuk menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia yang ber-dasarkan kedaulatan rakyat. Sesuai dengan rencana, Presiden Soekarno kemudian mengangkat K. H. Abdul Halim bersama dengan 60 orang anggota lainnya sebagai anggota KNIP. Pada tanggal 29 Agustus 1945, Komite Nasional Indonesia Pusat menyelenggarakan musy-awarah di Jakarta. Tujuan musyawarah ini adalah untuk membulatkan tekad mempertahankan kemerdekaan sebagai bagian perjuangan panjang bangsa Indonesia. Me-lalui musyawarah itu, dihasilkan mosi rakyat Indonesia yang ditujukan kepada rakyat Indonesia dan masyarakat internasional. Intisari dari mosi rakyat Indonesia itu adalah:

  1. menuntut pengakuan Kemerdekaan Indonesia dari seluruh dunia sebagai syarat bagi terwujudnya perdamaian internasional;
  2. mewajibkan rakyat Indonesia untuk menyempurna-kan kemerdekaan dengan cara melakukan pemban-gunan ekonomi yang berlandaskan pada keadilan, segera membentuk pemerintahan daerah, dan men-jalankan semua ketetapan yang terkandung di dalam mosi ini (Raliby, 1953: 495).
Selain membentuk KNIP, di daerah pun dibentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Kedudukannya dalam struktur pemerintahan daerah cukup kuat karena tujuan pembentukan KNID sejalan tujuan pem-bentukan KNIP. Oto Iskandardinata dan Mr. Kasman Sin-godimedjo menegaskan bahwa tujuan pembentukan Komite Nasional adalah
Untuk mendapatkan tenaga yang sebulat-bulatnya dari seluruh rakyat dan Komite Nasional harus memperlihatkan kebulatan cita-cita rakyat Indone-sia yang merdeka dan mampu menjadi benteng yang kokoh untuk membangun negara (Tjahaja, 25 Agustus 1945).

Untuk Propinsi Jawa Barat, terlebih dahulu KNID dibentuk di tingkat keresidenan karena pemerintahan propinsi belum berperan optimal, keadaan politik yang belum stabil, dan keamanan yang masih penuh ketidak-pastian (Sjafrudin et al., 1993: 395). Kedudukannya dalam struktur pemerintahan daerah semakin jelas den-gan ditetapkannya UU No. 1 Tahun 1945 tanggal 21 Ok-tober 1945 yang menetapkan KNID sebagai Badan Per-wakilan Rakyat dan bersama-sama dengan kepala daerah menjalankan pemerintahan sehari-hari. Tidak semua anggota KNID menjadi pelaksana pemerintahan sehari-hari, melainkan paling banyak lima orang yang dikukuhkan oleh KNID setempat. Mereka inilah yang disebut sebagai Badan Pekerja atau Badan Eksekutif KNID dan dibawah pimpinan kepala daerah setempat bertugas menjalankan roda pemerintahan sehari-hari (Raliby, 1953: 541).

Pada awal September 1945, KNID Keresidenan Ci-rebon berhasil dibentuk dengan Dr. Soedarsono sebagai ketuanya. Sebagai tokoh pejuang dan perintis kemer-dekaan, K. H. Abdul Halim pun kemudian diangkat seba-gai anggota KNID Keresidenan Cirebon. Sesuai dengan aturan perundang-undangan, KNID Keresidenan Cirebon memilih anggotanya untuk duduk di Badan Pekerja KNID. Tiga orang terpilih menjadi anggota Badan Pekerja, yakni K. H. Abdul Halim, Ir. Setiadi, dan Sostrosuwirjo (Hidajat, 1967: 19). Ketiga orang anggota KNID beserta dengan Residen Murdjani, yang menjadi pemim-pinnya, berkedudukan sebagai Badan Eksekutif yang menjalankan pemerintahan sehari-hari di wilayah Keresidenan Cirebon.
A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter