Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label Children's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Children's. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2017

Sang Raja Pecinta Dogeng

Sang Raja Pecinta Dogeng
bookcyrcle.com - Tersebutlah di negeri Rusia ada sebuah kerajaan yang dipimpin seorang raja yang gemar mendengar dongeng. Karena itu dia mempekerjakan khusus seseorang yang tugasnya hanya mendogeng pada raja setiap harinya.

    Karena setiap hari mendongeng, maka lama-lama si pendongeng kehabisan bahan cerita. Karena itulah raja membuat sayembara untuk mencari pendongeng yang kreatif dan andal. Mereka yang terpilih menjadi pendogeng istana, akan diberi hadiah menjadi pendongeng istana sekaligus dinikahkan dengan putrinya.

    Yang dicari raja terutama adalah orang yang memiliki dogeng asli dan belum pernah diceritakan sebelumnya oleh orang lain. Tentu saja tak mudah mencari orang seperti ini. Tapi nyatanya orang berduyun-duyun mengikuti sayembara yang diselenggarakan baginda raja.

    Di belahan lain negeri itu, hiduplah seorang pemuda yang hidupnya serba kekurangan. Bisa dibilang pemuda itu hidup dalam kemiskinan. Sebenarnya pemuda tersebut bukanlah anak yang malas dan tidak cakap dalam bekerja. Tapi ia sulit mendapatkan pekerjaan yang upahnya memadai karena kedua orangtuanya yang tewas akibat peperangan, tak memiliki tanah. Mereka adalah rakyat biasa yang miskin. Jadi ia kini harus menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi buruh dengan bayaran apa adanya. 

    Suatu hari ia mendapatkan ejekan dari tetangganya. "Mengapa tidak ikut sayembara? Siapa tahu kamu menang. Kalau kamu berhasil menikah dengan putri raja, nasibmu akan berubah drastis menjadi orang yang makmur dan terhormat." 

    Tapi pemuda itu sama sekali tidak tersinggung. Ia malah menanggapi kabar itu dengan serius. Ia merasa memiliki kemampuan mendogeng. Ia berharap kelak dongengannya bisa menarik perhatian raja dan nasibnya berubah. 

    "Okey aku akan daftar mengikuti sayembara itu. Kalau aku menang, nasibku akan berubah dan orang tak akan lagi memandang rendah diriku. Tapi kalau aku tidak menang, setidaknya aku bisa jalan-jalan ke istana, serta dapat makan gratis di sana." Ide yang sangat cemerlang sekali, pikirnya dalam hati sambil tertawa-tertawa sendirian.

    Namun pemuda itu tak mau ikut sayembara tanpa bekal sama sekali. Ia berpikir harus latihan dulu sebelum mengikuti sayembara. Karena itulah ia rajin berkeliling kampung. Setiap kali menjumpai kerumunan orang, ia akan bergabung. Setelah itu ia selalu melontarkan cerita-cerita lucu. Dan ternyata cerita-ceritanya itu mampu memancing tawa siapa saja yang mendengarnya.

    Dalam kesempatan lainnya, ia melontarkan cerita yang serius. Dan ternyata orang-orang dengan senang hati menyimak ceritanya. Ketika ia mengisahkan dongeng sedih, orang-orang dibuatnya menangis. Bahkan mereka selalu minta pemuda itu mendongeng lagi setiap sebuah cerita sudah selesai.

    Upaya pemuda itu tidak berhenti sampai di situ. Di sepanjang perjalanan menuju tempat sayembara, ia selalu menyempatkan diri mendogeng di tengah kerumunan orang. Karena sambutannya selalu baik, pemuda itu makin yakin akan memenangkan sayembara.

    Suatu hari sampailah pemuda tersebut di istana kerajaan. Walau dengan pakaian lusuh dan penuh tambalan, dengan percaya diri, pemuda itu pun menghadap raja. Sang rajapun bertanya, "Siapa yang membawamu kesini, dan ada kerperluan apakah pemuda desa?" 

    "Baginda, hambamu yang hina ini ingin mengikuti sayembara yang tuan selenggarakan," jawab pemuda miskin itu.

    "Baiklah apakah kamu sudah siap mendongeng di hadapanku sekarang," sambut raja yang tak  mau membeda-bedakan orang itu.

    "Hamba dari perjalanan yang sangat jauh baginda. Hamba sangat lapar dan capai. Kalau raja berkenan, sudilah kiranya saya diperkenankan beristirahat dulu," jawab pemuda tersebut. 

    "Baiklah Nak, sekarang istirahatlah di tenda yang disediakan untuk para peserta sayembara. Kalau badanmu sudah segar kembali, segeralah menghadap padaku," ujar raja. Ia pun memerintahkan pada abdinya untuk mengantar anak muda itu ke tendanya dan menjamunya dengan sebaik-baiknya.

    Raja itu benar-benar adil dan bijaksana. Baginya semua orang sama saja di hadapannya dan boleh mengikuti sayembaranya. Dia berpikir memang takdir sering membuat orang jatuh miskin. Namun takdir sewaktu-waktu bisa berubah bila orang yang bersangkutan mau berusaha. Sepeti pemuda itu. Sekarang memang dia miskin, tapi nasibnya akan berubah drastis bila bisa memenangkan sayembara. Jika pemuda itu menang, jejaknya sebagai orang miskin dan orang yang selalu dilecehkan dengan sendirinya akan hilang. Baginda raja orangnya selalu berpikir positif.

    Setelah perutnya kenyang dan cukup istirahat, pemuda tersebut menghadap raja dan menyatakan kesiapannya untuk bercerita.

    Sang rajapun menyambutnya dengan tangan terbuka. "Mendongenglah nak, aku sudah tidak sabar mendengar ceritamu," kata raja.

    Mulailah pemuda ini bercerita tentang kisah hidupnya yang serba kekurangan. Setiap harinya ia selalu kekurangan makanan dan pakaian. Karena tidak memiliki rumah ia selalu mengembara. Ia sering harus tidur di tanah lapang, di atas rerumputan, di semak-semak atau menumpang pada rumah orang yang mau berbaik hati padanya.

    Di mana-mana ia selalu dihina dan dijadikan bahan tertawaan. Karena itulah ia sering merasa sedih dan meratapi nasibnya. Tapi suatu saat ia mendengar kabar raja akan mengadakan sayembara yang memberinya harapan untuk mengubah nasib. Karena itu sebelum ikut sayembara ia latihan dulu.

    Pemuda itu bercerita dengan gaya yang memikat sehingga raja menyimak ceritanya sampai habis. Raja tampak sekali tersentuh dengan ceritanya hingga beberapa kali menitikkan air mata. Tapi sesekali raja mengacungkan jempolnya, seperti ketika ia mendengar anak itu latihan keras sebelum mengikuti sayembara.

    Bagi raja apa yang diceritakan pemuda miskin itu adalah cerita yang unik, yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Ceritanya pun sangat menyentuh hati nurani sang paduka. Ia sudah bosan dengan cerita-cerita sebelumnya tentang raja yang bijaksana, pangeran yang tampan, putri yang cantik, kehidupan istana yang megah, dan sebagainya yang bersifat klise.

    Setelah mendengarkan cerita dari semua peserta, raja memutuskan cerita yang dibawakan pemuda miskin itulah yang terbaik dan memenangkan sayembara. Ia tak peduli dengan suara-suara sumbang terhadap keputusannya menikahkan putrinya dengan pemuda miskin. 

    Baginya meski miskin, dengan otak yang cemerlang dan kemampuan bercerita yang bagus, pemuda itu memiliki masa depan yang baik. Raja berpikir pemuda yang cerdas itu kelak akan bisa membawa kerajaannya menjemput masa kejayaannya. Karena itu dia tak memasalahkan kondisi pemuda itu sekarang. 

    Namun pemuda merasa bakal sulit diterima menjadi menantu raja. Karena itu dia berkata, "Tidak usah binggung Baginda Raja, hambapun tidak ingin menikah dengan putri baginda. Hamba tidak layak untuknya. Hamba hanya berharap mendapatkan pekerjaan di istana ini, supaya hamba tidak hidup dalam kemiskinan lagi."

    Sang raja yang bijaksana itu pun berkata, "Dengan memenangkan sayembara ini, putriku telah menjadi hakmu. Kamu jangan merasa rendah diri karena dengan aku angkat dirimu sebagai staf khusus kerajaan, kamu tidak akan menjadi orang miskin lagi. Derajatmu pun akan terangkat sehingga pantas menjadi pendamping hidup putriku," ujar raja sambil tersenyum. 

    Sejak menjadi pendongeng istana dan menikah dengan putri raja, pemuda itu tidak pernah lagi mendengar ledekan dan hinaan darimanapun. Yang ia dengar justru sebaliknya pujian dan pernyataan hormat.

Kamis, 29 Desember 2016

Gadis Penjual Korek Api

Gadis Penjual Korek Api
bookcyrcle.com - Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" "Ibu, belilah korek api ini." "Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.

Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi 'alan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaaaas!" Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak lakilaki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus."

Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.

Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah.

Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.
Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.

Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padaamtungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.
Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!
Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.
Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin.

Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.

"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melompat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' " Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek."

Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga.

Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."
Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahanlahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" "Ke tempat Tuhan berada."

Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini." "Cepat panggil dokter!"
Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.

Selasa, 22 November 2016

Putri Bisu Sebuah Dongeng dari Turki

bookcyrcle.com - Pada zaman dahulu kala ada seorang Raja yang memiliki seorang pangeran bernama Shahzada. Ia memiliki sebuah bola yang terbuat dari emas yang selalu ia mainkan kapan saja.
    Suatu hari saat pangeran sedang duduk di tempat peristirahatannya di halaman istana, lewatlah seorang nenek yang hendak mengambil air dari mata air yang terletak di depan gerbang istana. Timbul keinginan iseng di pikiran Shahzada.
    Dilemparnya guci nenek tua tadi dengan bola emasnya. Guci itu pun pecah berkeping-keping. Tanpa berkata sepatah pun nenek itu mengambil guci lainnya. Namun guci ini pun pecah karena lemparan bola Shahzada.
    Nenek tua itu gemetar menahan marah. Tapi karena segan dengan sang Raja maka ia hanya diam dan pergi ke toko terdekat untuk membeli guci baru. Karena tak punya uang lagi, nenek itu pun membeli dengan cara berhutang. Tapi lagi-lagi Shahzada melempar guci itu dengan bolanya hingga pecah. Kini nenek itu benar-benar murka. Dia mengangkat wajahnya ke arah Shahzada.
    “Camkan kutukanku ini Pangeran! Kau kelak akan jatuh cinta kepada Putri bisu!” kutuknya.
    Pangeran Shahzada tidak mengerti maksud nenek tua tersebut, tapi kata-katanya terus mengganggu pikirannya. Hal itu mempengaruhi kesehatannya, sehingga Shahzada pun jatuh sakit. Puluhan, dokter, tabib dan dukun telah mencoba mengobatinya, namun kesehatannya tak kunjung pulih. Akhirnya suatu malam Raja mendekati putra tunggalnya.
    “Anakku, penyakitmu pasti bukan penyakit biasa. Katakan padaku! Apakah akhir-akhir ini ada peristiwa aneh yang menimpamu?” tanya Raja.
    Shahzada menceritakan kelakuannya saat memecahkan 3 guci seorang nenek dan kemudian mendapatkan kutukan darinya. Lalu Shahzada meminta izin ayahnya untuk pergi mencari Putri Bisu, karena menurutnya hanya wanita itulah yang bisa menyembuhkannya. Dengan berat hati Raja mengijinkan putra kesayangannya pergi dengan ditemani seorang pengawal kepercayaannya.
    Singkat cerita, Shahzada dan pengawalnya mengembara selama enam bulan. Mereka berjalan siang dan malam dan hanya tidur beberapa saat saja setiap malamnya. Akhirnya mereka tiba di sebuah puncak gunung yang tanah dan bebatuannya bersinar seperti cahaya matahari. Dengan nada heran mereka bertanya pada seorang kakek yang kebetulan lewat.
    “Itu karena Putri bisu,” kata si Kakek. “Ia memakai 7 lapis kerudung yang menutupi wajahnya. Tapi sinar kecantikannya tetap memancar dan terpantul di gunung ini.”
    “Dimanakah sang putri berada?” tanya Shahzada.
    “Jika kau terus berjalan lurus selama enam bulan lagi, kau akan tiba di istananya,” kata Kakek. “Tapi perlu kuingatkan anak muda! Putri bisu hanyalah julukan. Karena sang Putri sebenarnya hanya tidak mau berbicara. Banyak sudah pemuda yang mencoba membuatnyai bicara tapi tidak berhasil. Malang bagi mereka, karena kematianlah yang harus mereka terima. Karena itu janganlah mendatangi Putri Bisu.”
    Shahzada tidak gentar mendengar berita tersebut. Ia tetap bertekad untuk menemui sang Putri Bisu.
    Beberapa waktu kemudian mereka tiba di puncak gunung lainnya. Gunung ini pun sangat aneh karena semua tanah dan bebatuannya berwarna merah darah. Sebuah desa tampak terhampar di kaki gunung tersebut.
    “Aku sangat lelah,” kata Shahzada. “Mari kita istirahat dulu di desa di bawah sana. Sekalian kita beli perbekalan.”
    Mereka pun masuk ke sebuah warung makan. Pemiliknya menyambut mereka dengan hangat. Shahzada menanyakan kenapa gunung yang baru saja mereka turuni berwarna merah darah.
    “Oh itu karena Putri Bisu. Meskipun ia memakai 7 lapis kerudung yang menutupi wajahnya, namun warna bibirnya tetap terpancar di gunung tersebut,” kata pemilik warung.
    “Tapi anak muda, aku berharap kau tidak datang ke sana. Sudah banyak pemuda yang mencoba membuat sang Putri berbicara tapi semuanya tidak berhasil. Dan kematian adalah hukuman bagi mereka yang gagal.”
    “Aku tidak takut,” kata Shahzada. “Katakanlah, berapa jauh lagi istana sang Putri?”
    “Tiga bulan perjalanan lagi kau akan sampai di istananya,” kata pemilik warung.
    Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, pangeran Shahzada dan pengawalnya melihat sebuah gunung lagi. Di puncaknya berdirilah istana yang sangat megah. Istana Putri Bisu.
    Istana Putri Bisu jika dilihat dari dekat ternyata sangat mengerikan karena dindingnya dibangun dari tulang belulang manusia.
    “Kita harus menyusun rencana yang matang untuk bisa membuat sang Putri bicara, atau tulang belulang kita juga akan menjadi bagian dari dinding istana ini,” kata Shahzada. “Mari kita cari penginapan terlebih dulu untuk berpikir!”
    Esoknya Shahzada dan pengawalnya pergi berjalan-jalan untuk mencari ide. Di sebuah pasar ia melihat seekor burung bulbul yang cantik. Shahzada segera membelinya dan membawanya ke kamarnya. Suatu ketika saat Shahzada sedang melamun sendirian, ia mendengar seseorang menyapanya.
    “Apa yang kau pikirkan wahai Pangeran?”
    Shahzada terkejut karena tidak ada orang lain di kamarnya. Ia kemudian menyadari bahwa burung bulbulnya yang berbicara.
    “Subhanalloh, ini pasti mukjizat Alloh,” pikir Shahzada.
    Ia menceritakan perjalanannya untuk menemui putri Bisu dan kesulitannya menemukan cara untuk membuat sang Putri bicara.
    “Jangan khawatir Pangeran, aku akan membantumu. Sang putri memakai 7 lapis kerudung. Tidak ada seorang pemuda pun yang pernah melihat wajahnya, demikian pula sang Putri tidak pernah bisa melihat pemuda yang menemuinya,” kata Bulbul.
    “Besok bawalah aku ke istana. Dan jika kau telah berada di kamar sang Putri, taruhlah aku di bawah tiang lampu. Lalu sapalah sang Putri. Ia pasti tidak akan menjawabmu. Nah, katakan bahwa karena sang Putri tidak mau menjawab maka kau akan berbicara dengan tiang lampu saja. Dan aku akan menjawabnya,” sambung Bul Bul.
    Maka Shahzada, Bulbul dan pengawalnya pergi menemui ayah putri Bisu di istananya. Ia meminta izin untuk mencoba membuat sang putri berbicara. Shahzada dan Bulbul kemudian diantar ke kamar sang Putri.
    “Selamat sore Putri,” kata Shahzada.
    Putri Bisu tentu saja tidak menjawab.
    “Baiklah karena kau tidak berkenan menjawab, maka aku akan berbicara dengan tiang lampu saja. Mungkin ia lebih punya perasaan daripada anda,” kata Pangeran.
    “Apa kabar?” tanya Pangeran kepada tiang lampu.
    “Kabarku baik. Setelah bertahun-tahun akhirnya ada seseorang yang mau berbicara denganku,” kata Bulbul seolah-olah tiang lampu yang menjawab. “Allah mengirimmu ke sini dan membuatku bahagia. Maukah kau mendengar ceritaku?”
    “Tentu!” kata Shahzada.
    “Alkisah ada seorang Shah yang memiliki seorang putri. Tiga orang pemuda telah mengajukan lamaran untuk si gadis kepada Shah. Shah lalu berkata kepada ketiga pemuda tersebut: ‘Siapapun yang memiliki keahlian yang tidak biasa maka ialah yang berhak menikahi putriku.’
    Pemuda-pemuda itu lalu pergi untuk mencari guru. Mereka pergi ke arah yang berbeda. Namun sebelumnya mereka berjanji untuk saling bertemu lagi di sebuah mata air setelah sekian bulan.
    Pemuda pertama belajar berlari cepat. Jika ia berlari, perjalanan 6 bulan bisa ditempuhnya dalam waktu setengah jam saja. Pemuda kedua belajar cara menghilang. Dan pemuda ketiga belajar meracik obat.
    Ketiganya kembali dalam waktu yang hampir bersamaan. Pemuda yang bisa menghilang mengatakan bahwa putri Shah sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal 2 jam lagi.
    Pemuda ketiga segera menyiapkan ramuan dan pemuda pertama secepat kilat membawanya kepada si gadis. Ramuan itu sangat manjur. Si gadis tidak jadi meninggal dan Shah segera memanggil ketiga pemuda tersebut.
    Nah Pangeran, menurutmu pemuda mana yang pantas mendapatkan si gadis? Menurutku pemuda yang bisa menghilang,” kata Bul Bul.
    “Tidak! Menurutku pemuda yang meracik obatnya,” kata Shahzada.
    Mereka pun berdebat seru dan saling mempertahankan pendapatnya.
    Putri Bisu berkata dalam hatinya, “Tidak ada yang ingat dengan jasa pemuda yang telah mengantarkan obatnya.”
    Akhirnya karena tidak sabar mendengar perdebatan mereka, Putri berteriak: “Dasar bodoh! Aku akan memberikan gadis itu kepada si pembawa obat. Tanpa dia gadis itu pasti sudah mati!”
    Raja segera diberi tahu bahwa Putri Bisu telah mau berbicara. Tapi Putri dengan marah berkata bahwa ia telah ditipu dan ia hanya mau mengaku kalah jika Shahzada bisa membuatnya berbicara sebanyak tiga kali. Karena geram, putri pun menghancurkan tiang lampu di kamarnya.
    Sore berikutnya, Shahzada dan Bulbul kembali menemui sang putri di kamarnya. Kali ini Shahzada meletakan sangkar Bulbul di dekat salah satu dinding.
    “Selamat sore Putri,” sapa Shahzada.
    Putri tidak menjawab sepatah kata pun.
    “Baiklah. Karena kau tidak mau menjawab, mungkin lebih baik jika aku mengobrol dengan dinding saja. Apa kabarmu dinding?” kata Shahzada.
    “Sangat baik,” jawab Bulbul yang pura-pura menjadi dinding. “Aku senang kau mengajakku bicara. Bagaimana kalau aku menghiburmu dengan sebuah cerita?”
    “Dengan senang hati,” kata Shahzada.
    “Di sebuah kota tinggalah seorang wanita yang dicintai oleh 3 orang pria sekaligus. Ketiga pria itu adalah: Baldji anak si pembuat madu, Jagdji anak si pembuat lemak, dan Tiredji anak si penyamak kulit. Mereka sering mengunjungi si wanita, namun tidak pernah saling bertemu karena mereka selalu berkunjung pada waktu yang berbeda.
    Suatu hari, saat si wanita sedang menyisir rambutnya, ia melihat sehelai uban di kepalanya. Ia pun spontan berteriak, 'Celaka! Aku sudah mulai tua. Aku harus segera memutuskan dengan siapa aku akan menikah.'
    Kemudian ia mengundang ketiga teman prianya untuk datang pada jam yang berbeda. Yang pertama datang adalah Jadgji dan ia menemukan bahwa wanita pujaannya sedang berurai air mata.
    Ia bertanya kenapa dan si wanita menjawab, ‘ Ayahku telah meninggal dan aku telah menguburkannya di kebun belakang, tapi arwahnya selalu menghantuiku. Jika kau mencintaiku, maukah kau berpura-pura menjadi hantu. Pakailah kain sprei ini dan berbaringlah selam 3 jam di kuburan. Maka ia tidak akan menghantuiku lagi.’
    Wanita itu menunjuk sebuah lubang kubur yang telah sengaja ia buat dan Jadgji tanpa ragu-ragu memakai kain sprei itu untuk menutupi tubuhnya dan berbaring di dalam lubang kubur tersebut.
    Lalu datanglah Baldji yang juga menemukan wanita itu sedang menangis. Si wanita mengulangi ceritanya tentang kematian ayahnya, lalu memberi Baldji sebuah batu besar; ‘Jika hantu itu datang, pukullah dengan batu ini,’ katanya.
    Terakhir datanglah Tiredji. Dia juga bertanya kenapa ia menangis. ‘Bagaimana aku tidak sedih,’ kata si wanita. ‘Ayahku telah meninggal dan telah aku kuburkan di kebun belakang. Tapi ternyata ia punya musuh seorang penyihir dan ia bermaksud mengambil mayat ayahku. Lihat, ia bahkan sudah membongkar kuburannya. Jika kau bisa mengambil mayat ayahku maka aku akan selamat tapi jika tidak…’ Si wanita kembali menangis.
    Tiredji segera pergi ke kebun belakang untuk mengambil mayat yang tidak lain adalah Jadgji. Tapi Baldji mengira ada dua hantu yang datang dan memukul Jadgji serta Tiredji. Sementara Jadgji mengira hantu ayah si wanitalah yang memukulnya. Ia melemparkan sprei yang ia pakai dan menubruk Baldji. Mereka bertiga terkejut begitu menyadari keadaan yang sebenarnya dan bersama-sama menuntut penjelasan dari si wanita.
    Nah Pangeran, menurutmu siapa yang berhak menjadi suami si wanita? Menurutku Tiredji!” kata Bulbul.
    Menurut Shahzada, Baldji lebih berhak karena berada dalam posisi yang lebih berbahaya.
    Mereka berdebat seru, saling mempertahankan pendapatnya. Putri Bisu yang juga mendengarkan cerita Bulbul sangat kecewa karena mereka melupakan peran Jadgji dan ia segera berteriak mengemukakan pendapatnya.
    Raja gembira mendengar putrinya berbicara. “Tinggal satu kali anak muda,” katanya pada Shahzada.
    Sementara sang Putri sangat kesal karena telah dua kali keceplosan. Maka untuk melampiaskan amarahnya ia segera memerintahkan untuk menghancurkan dinding tempat Bulbul bersandar semalam.
    Hari ketiga dan merupakan hari penentuan, Shahzada dan Bulbul kembali datang ke kamar sang Putri. Kali ini Shahzada meletakkan Bulbul di belakang pintu kamar Putri. Seperti biasa Putri menolak membuka mulutnya dan kali ini bahkan ia memunggungi Shahzada. Maka Shahzada berpura-pura mengajak bicara pintu. Seperti hari-hari kemarin, Bulbul menceritakan sebuah cerita.
    "Alkisah ada seorang Tukang kayu, seorang Penjahit, dan seorang Sakti yang berkelana bersama. Di sebuah kota, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah toko dan memulai usaha bersama. Suatu malam saat yang lainnya sedang tidur, Tukang kayu terbangun. Karena tidak bisa tidur lagi, ia iseng memahat sebongkah kayu menjadi sebuah patung wanita yang sangat cantik. Saat patungnya selesai, ia kembali mengantuk dan segera pergi tidur. Tidak berapa lama si Penjahit terbangun. Melihat ada sebuah patung wanita cantik di tengah kamar mereka, ia tergoda untuk membuatkan sehelai pakaian yang sangat indah. Setelah selesai, ia memakaikannya dan kembali tidur.     Menjelang pagi si Orang sakti bangun. Ia begitu terpesona melihat patung wanita cantik berpakaian indah tersebut. Maka ia memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan patung tersebut. Allah SWT mengabulkan permintaannya dan patung itu menjelma menjadi seorang wanita yang mempesona. 

                 Cerita tentang Ayam
    Ketika Tukang kayu dan Penjahit bangun serta melihat wanita cantik yang berasal dari patung tersebut, mereka berebut karena masing-masing merasa berhak memilikinya. Nah Pangeran, siapa menurutmu yang paling berhak? Menurutku Tukang kayu,” kata Bulbul.
    “Tidak bisa, menurutku si Penjahit,” kata Shahzada.
    Mereka kembali berdebat seru. Putri bisu bangkit dari tempat duduknya dan dengan marah ia berteriak; “Kalian semua bodoh! Orang sakti itulah yang paling berhak! Wanita itu berhutang nyawa padanya!”
    Tanpa sadar Putri Bisu sudah keceplosan tiga kali. Ini artinya Shahzada berhak menikahi sang Putri karena ia telah tiga kali membuat Putri Bisu Berbicara. Maka kemudian pesta pernikahan akbar pun digelar selama 40 hari 40 malam. Shahzada secara khusus memanggil nenek yang ia pecahkan kendinya untuk tinggal di istana. Mereka semua hidup bahagia.

Kamis, 11 Agustus 2016

Akhir Persahabatan Kucing dan Tikus

Akhir Persahabatan Kucing dan Tikus
Dahulu kala, kucing dan tikus itu bersahabat. Mereka hidup rukun dan damai di sebuah rumah sederhana. Kemanapun kucing berada di situlah si tikus bisa dijumpai. Mereka bermain bersama dan mencari makanan bersama, dan menyantapnya bersama. Si kucing menjadi pelindung tikus yang memang bertubuh kecil. Sebaliknya tikus sangat menghormati kucing. 

Setiap ada hewan yang berusaha mencederai si tikus maka si kucing yang pertama kali melindunginya. Sebaliknya tikus sering memberitahu kucing bila anjing yang menjadi musuh kucing, datang ke arah sahabatnya itu. Bahkan pernah ketika kepergok anjing, tikus membantu kucing menyelamatkan diri. Caranya, dia menggigit kaki anjing, lalu lari sekencang-kencangnya sehingga anjing melupakan kucing dan ganti mengejarnya.
Walaupun mereka bersuaha selalu mencari makanan bersama-sama, tapi mereka boleh mencari makanan sendiri. Tentu saja dengan catatan apabila mendapatkan makanan harus dibagi di antara mereka berdua. Itulah yang membuat mereka selalu hidup damai dan rukun. 

Suatu malam, perut si tikus keroncongan. Ia ingin mengajak si kucing untuk mencari makanan. Namun si kucing ternyata telah tertidur pulas. Ia tidak ingin membangunkannya. Ia tak ingin mengusiknya. Maka si tikus pergi sendirian mencari makanan. Ia berjalan kemana saja tanpa tujuan. Ia berharap bisa mendapatkan sepotong makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.


"Aduh, harus kemana lagi aku mencari makanan?" tanya si tikus dalam hati. "Hampir sepanjang jalan aku tidak menemukan sepotong makananpun....duhh lapar sekali." Si tikus semakin bersedih. Perutnya makin terasa lapar. Namun ia tetap berusaha mencari makanan kemana saja.


Tiba-tiba si tikus berteriak kegirangan karena di perempatan jalan ia menemukan sepotong daging yang ukurannya cukup besar.
"Horee...akhirnya aku mendapatkan makanan!" teriak si tikus. "Wah besar sekali ukurannya...bisa untuk jatah makan selama seminggu, nih." Kemudian ia cepat-cepat menyeret daging tersebut untuk dibawanya pulang. Meskipun dengan susah payah, namun si tikus melakukannya dengan penuh kegembiraan. Sehingga rasa capek, lelah dan lapar tidak dirasakannya. Sepanjang jalan ia menyeret potongan daging dengan nafas terengah-engah. Sesekali ia istirahat sambil bernyanyi-nyanyi. Akhirnya, setelah sampai di depan rumah si tikus berteriak-teriak memanggil si kucing.


 "Hoiii....sahabatku kucing...ayo kemari....ada kabar gembira untukmu...!" teriak si tikus. "Hoii...bangun...ada kabar gembira, nih!"
 Si kucing terkejut mendengar teriakan si tikus. Ia segera menghampiri temannya. "Wow...sepotong daging segar...mantab," pikir si kucing. "Kebetulan sudah sebulan ini aku tidak pernah makan daging. Sekarang aku akan menikmati daging yang dibawa si tikus," pikir si kucing mulai timbul rasa serakahnya.
"Wah...daging segar...terima kasih sahabatku," kata si kucing kepada si tikus.
"Lho...lho...lho...apa maksudmu dengan ucapan terima kasih itu, kucing?" tanya si tikus.
"Ah tidak...maksudku...terimakasih kamu telah mendapatkan sepotong daging...dan daging itu juga untuk aku khan?"


"Iya...kan selama ini kita selalu makan bersama-sama... Siapapun yang mendapatkan makanan......... tidak untuk dihabiskan sendiri.......kita harus menikmatinya bersama-sama.......benar, khan?" kata si tikus.


 "Iya  ya...," jawab si kucing sambil terus memperhatikan sepotong daging segar yang dibawa si tikus. "Okey kalau begitu mari kita bagi sesuai dengan kondisi tubuh kita masing-masing ya. Ayo berikan daging itu, Tikus...biar aku yang bertugas membaginya."


 Kemudian si tikus memberikan daging yang dibawanya kepada si kucing untuk dibagi. Si kucing lalu mengambil pisau dan berusaha memotong daging di hadapannya. Setelah daging terpotong menjadi dua, lalu si kucing dan si tikus memperhatikan ukuran dagingnya.


"Wah...ternyata untuk ukuran tubuhmu daging bagianmu terlalu besar, Tikus," kata si kucing. "Harus dipotong, nih agar bagianmu tidak terlalu banyak." Kemudian si kucing memotong sedikit daging milik si tikus. Namun si kucing bertindak curang, ternyata potongan sisa daging yang telah dipotongnya tidak ditambahkan ke potongan daging miliknya, namun langsung dimakannya.


 "Waduh...kini daging bagianku yang kelihatannya agak besar, sabar ya saya potong dulu daging bagian saya agar ukurannya seimbang dengan punyamu," kata si kucing sambil memotong dagingnya untuk disesuaikan dengan ukuran daging milik si tikus. Dan kali ini si kucing berbuat curang lagi. Potongan daging langsung dimakannya juga. Berkali-kali si kucing berbuat begitu di hadapan si tikus. Akhirnya potongan daging milik si tikus dan si kucing makin bertambah kecil. Tapi tidak satupun bagian daging yang telah dipotong masuk ke mulut tikus karena semuanya dimakan kucing.

Jelas tampak sekali si kucing telah berbuat curang terhadap si tikus. Dan hal itupun telah disadari juga oleh si tikus tapi ia dia diam saja sambil menyusun siasat agar si kucing menghentikan perbuatannya. 


 Ketika si kucing merasa kehausan setelah berkali-kali makan potongan-potongan daging maka ia minta ijin si tikus untuk mengambil air minum. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tikus. Ia segera mengambil cabe rawit, lalu mengoles-oleskan cabe rawit ke potongan daging milik si kucing. Setelah itu si tikus kembali ke tempat duduk semula sambil menunggu si kucing keluar.


 "Nah...kini rasa hausku telah hilang," kata si kucing. "Dan sekarang pembagian daging ini kita lanjutkan yaa...O ya kelihatannya daging bagianku tidak sama dan terlalu besar dibanding dengan milikmu...oke saya potong ya..." Lalu si kucing segera memotong daging miliknya. Dan seperti kejadian sebelumnya, ia langsung memasukkan potong daging tersebut ke dalam mulutnya. Si kucing tidak sadar bahwa potongan daging miliknya telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.


"Wuaahhh aduh...oooo...aaaa...oooo...aaaa....pedas...pedas......pedas...ada apa dengan daging ini?  Ampun..ampun....ampuunnnn....panas.....panasss......" demikian teriak si kucing sambil berlari kesana kemari merasakan mulutnya kepedasan akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.


"Hahahahahaha....itulah hukuman bagi si curang!" teriak si tikus sambil tertawa terbahak-bahak dan membawa lari sisa potongan daging yang telah berukuran kecil akibat dipotong-potong oleh si kucing. 


Walaupun tinggal sedikit saja, si tikus tetap bersyukur karena masih bisa menikmati sisa daging segar yang telah ditemukannya.  Kini ia berusaha lari sejauh-jauhnya meninggalkan si kucing yang telah melanggar komitmen dan telah mencuranginya.

Sebaliknya si kucing terus berteriak-teriak menahan rasa panas di mulutnya. Ia terus berlari kesana kemari namun rasa panas  di mulutnya masih belum hilang juga.
"Awas kamu tikus...aku akan mencarimu kemana saja kamu lari. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan kamu bila aku berhasil menemukanmu! Aku akan terus mencarimu sampai ketemu!" 


 Dan akhirnya mulai saat itu, si tikus senantiasa menghindar dan berlari menjauh apabila bertemu si kucing. Si tikus takut menemui si kucing karena khawatir si kucing akan melampiaskan kemarahan padanya.

Rabu, 03 Agustus 2016

Cerita tentang Ayam

Cerita tentang Ayam
Kokok Ayam di Pagi Hari
Dimas tiba-tiba terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara kokok ayam dari belakang rumahnya yang begitu nyaring. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 04.00. Dengan malas-malasan dan mata masih terasa berat, dia memaksakan diri turun   dari ranjang dan keluar dari kamar.

Ia melihat ayah dan ibunya bersiap-siap untuk shalat. Begitu juga kakak perempuannya, Diah. Dimas yang masih duduk di kelas 2 SD kebingungan apa yang harus ia lakukan pada jam-jam sepagi itu. Ia pun bergegas menuju halaman belakang rumah untuk melihat ayam yang telah membangunkannya.


Ia melihat ayam-ayam peliharaan orangtuanya sudah pada keluar dari kandang. Ada satu ekor jago dan 2 ekor betina dan sepuluh ekor anak ayam. Dimas senang melihat ayam-ayam itu. 


Ia ingin memberi makanan pada ayam-ayam itu.
Ia pun menemui ayahnya dan bertanya, “Ayah aku ingin memberi makan ayam-ayam kita. Biasanya ayam-ayam itu dikasih makan apa? Dan dimana ayah menyimpannya?”
“Makanan ayam-ayam itu butiran jagung kering. Kamu ambil saja di bagian paling bawah lemari yang ada di dapur,” jawab ayah.


Dimas pun bergegas mengambil biji jagung sesuai petunjuk ayahnya. Dan setelah mendapatkannya, ia bergegas ke halaman belakang rumah. Begitu melihat ayam-ayam itu ada di hadapannya, ia menaburkan biji-biji jagung dan ayam-ayam itupun berhamburan berebut makanan.


Dimas senang sekali melihat ayam-ayam itu makan dengan lahap. Ia merasa senang sekali melakukannya. Dan tiba-tiba rasa ingin tahunya terusik. Ia ingin melihat ayam bertelur dan saat-saat telur itu menetas. Tapi itu tak mungkin karena telur-telur itu baru saja menetas dan menjadi anak ayam.


Selesai memberi makan ayam, Dimas segera pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, ia mempersiapkan peralatan sekolahnya dan memakai seragam. Ketika ia pergi ke meja makan, ia belum melihat keluarganya ada di sana. Dan ia lihat ibunya tengah memasak dan menyiapkan sarapan di dapur. “Rupanya masih terlalu pagi untuk sarapan,” kata Dimas dalam hati. Untuk mengisi waktu, ia menonton televisi.


Sekitar 20 menit kemudian, makanan dan minuman telah siap di meja makan. Ayah, ibu dan kakaknya pun sudah ada di meja makan. Dengan riang, Dimas bergegas untuk bergabung bersama mereka, menikmati sarapan.


Ketika sarapan, untuk memuaskan rasa ingin tahunya, ia melontarkan pertanyaan pada ayahnya, “Ayah, kenapa ayah memelihara ayam, padahal kita kan tinggal di kota? Aku perhatikan para tetangga nggak ada yang pelihara ayam. Rumah-rumah mereka penuh bangunan, nggak seperti rumah kita yang masih ada halaman dan pohonnya.”


“Sejak kecil ayah suka memelihara ayam dan ayah suka membantu kakekmu untuk beternak ayam. Karena itulah ketika punya rumah sendiri, ayah menyisahkan lahan rumah ini untuk meletakkan kandang ayam. Itu juga untuk mengingatkan ayah bahwa ayah sudah jadi orang sukses sekarang ini berkat memelihara ayam,” ujar sang ayah tersenyum.
“Bagaimana ceritanya kok bisa begitu Ayah?” tanya Dimas.


“Ayam-ayam itu selalu membangunkan ayah pagi-pagi sekali. Bangun pagi itu sangat baik bagi kesehatan dan bisa untuk membangun kebiasaan yang bagus. Kamu tahu, Nak, udara pagi itu masih segar dan bersih. Dulu ketika ayah masih sekolah, begitu bangun ayah langsung wudhu dan shalat kemudian pergi ke halaman belakang rumah untuk membersihkan kandang dan memberikan makan ayam. Setelah itu ayah mandi,” kata ayah.


Setelah berhenti sejenak untuk memasukkan makanan ke mulut, ayah meneruskan ceritanya, “Setelah mandi, ayah memeriksa apakah masih ada pelajaran kemarin yang belum dipahami atau apa ada PR yang belum dikerjakan. Ayah juga tak lupa memeriksa jadwal pelajaran hari itu dan mempersiapkan buku dan peralatan sekolah yang dibutuhkan. Setelah itu baru berangkat sekolah. Dengan cara seperti itu ayah selalu siap jika ada ulangan atau ujian dan ayah selalu mendapatkan nilai bagus. Oh, ya ayah juga punya kebiasaan setelah shalat Maghrib selalu belajar dan mengerjakan PR,” kisah ayah.
“Apa ayah tidak pernah nonton televisi. Itu kan perlu untuk hiburan ayah?” tanya Dimas.
“Biasanya setelah belajar, ayah nonton televisi. Itupun hanya sampai pukul 09.00. setelah itu biasanya ayah belajar lagi sekitar 1 jam dan kemudian tidur,” lanjut ayah.
“Terus apa yang dilakukan ayah setelah pulang sekolah?” tanya Dimas.


“Ayah berganti pakaian dan membasuh muka dan membersihkan kaki tangan dulu, lalu shalat. Setelah itu ayah periksa ayam-ayam di kandang, barangkali ada yang sakit. Kalau ada yang sakit, ayah langsung lapor ke kakekmu biar segera diobati,” ujar ayah tersenyum.


“Apa ayam punya kakek banyak ayah?” tanya Dimas.
“Karena kakekmu bekerja sebagai peternak ayam, jumlah ayamnya ratusan ekor. Dan ayah sudah bantu kakek sejak SD,” ujar ayah.


“Apakah penghasilan dari beternak cukup untuk menghidupi keluarga ayah?” tanya Dimas.
“Buktinya anak-anak kakek seperti ayah ini selalu cukup sandang dan pangan, dan semuanya bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi,” ujar ayah.


“Ayah kalau begitu, mulai besok aku mau membantu kasih makan ayam ya?” pinta Dimas.
“Boleh. Tapi yang paling penting, apa yang harus kamu lakukan di pagi hari biar tubuhmu selalu sehat dan kamu bisa berprestasi di sekolah. Jangan lupa biasakan olah raga di pagi hari,” tutur ayah.
A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter