Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Tampilkan postingan dengan label Business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Business. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juni 2017

Inilah Sosok Sam Walton

Inilah Sosok Sam Waltonbookcyrcle.com - Sam Walton dikenal sebagai pebisnis Amerika, yang mendirikan kelompok ritel Wal-Mart.  Jaringan toko diskonnya telah meluas ke seluruh dunia dalam rentang waktu lebih dari 30 tahun.    
    Konglomerasi ritel itu akhirnya menjadi perusahaan terbesar dunia menjelang tahun 2010. Walton turun sebagai CEO pada tahun 1988  pada usia 70 tahun. Tapi ia tetap aktif di perusahaan hingga kematiannya pada tahun 1992.
    Sebagai seorang pebisnis pionir, Sam melakukan bisnis ritel dengan cara melawan arus. Kalau umumnya supermarket berlokasi di kota, ia membuktikan toko-toko diskon yang didirikan di wilayah pedesaan kecil dapat berkembang dengan baik.
    Sam Walton dilahirkan pada 29 Maret 1918 di Kingfisher, Oklahoma. Ia adalah putra pertama dari Thomas Walton, seorang bankir dan istrinya, Nancy Lee. Ketika Sam masih kecil keluarganya pindah ke Missouri, dimana ia dibesarkan.
    Di sekolah Sam Walton dikenal sebagai murid yang pandai dan atlet yang baik. Ia bermain untuk tim football SMA-nya dan anggota pramuka. Saat kelulusannya dari Sekolah Tinggi Hickman di Columbia, Missouri, pada tahun 1936, teman sekelasnya menyebutnya anak "laki-laki yang serba bisa". Sesudah sekolah tinggi, Walton tetap dekat dengan rumah dan  terdaftar di University of Missouri di Columbia, di mana ia lulus dengan meraih gelar di bidang ekonomi pada tahun 1940.
    Setelah lulus kuliah, Walton untuk pertama kalinya bersentuhan dengan dunia ritel ketika mengambil pekerjaan di Des Moines bersama J.C. Penney Company, yang saat itu masih menjadi toko ritel kecil.
    Sesudah bertugas sebagai kapten angkatan perang dalam unit intelejen selama Perang Dunia II, Walton kembali pada  kehidupan pribadi. Pada tahun 1945 dengan menggunakan dana pinjaman sebesar $25,000 dari ayah tirinya ia mendirikan toko pertamanya, waralaba Ben Franklin franchise di Newport, Arkansas.
    Dalam waktu kurang dari dua dekade, Walton, yang bekerja bersama adik laki-lakinya, James, berhasil membangun 15 toko Ben Franklin. Tapi kekecewaan terhadap manajemen kelompok usahanya muncul, khususnya karena mengabaikan dorongan Walton untuk ekspansi pada komunitas pedesaan. Itulah yang mendorongnya pecah kongsi dengan saudaranya.
    Pada tahun 1962 Walton membuka toko Wal Mart pertamanya di Rogers, Arkansas. Sukses terjadi begitu cepat. Menjelang tahun 1976 Wal-Mart menjadi perusahaan perdagangan publik dengan nilai saham $176 juta. Menjelang awal 1990-an, harga saham Wal-Mart telah melonjak menjadi $45 milyar.
    Pada tahun 1991 Wal-Mart melampaui Sears, Roebuck & Company untuk menjadi peritel terbesar di negara itu. Waltonlah yang berperan dalam kesuksesan itu. Dengan visinya tentang toko ritel diskon di wilayah pedesaan ia memberikan tuntutan keras pada bawahannya. Walton, yang sering mulai bekerja pada pukul 04.30 pagi, menuntut hasil yang tinggi dari bawahannya, dan tidak takut untuk melakukan perombakan personil apabila target tidak terpenuhi.
    Bahkan dalam cengkeraman resesi, toko-toko Walton terbukti sukses. Pada tahun 1991, ketika negara dilanda penurunan ekonomi, penjualan Wal Mart malah meningkat lebih dari 40%. Tapi sukses itu juga membuat Wal-Mart menjadi sasaran kemarahan para pemilik toko kecil di daerah pinggiran dan penduduk lainnya. Mereka menuduh kelompok ritel Wal Mart telah menghancurkan usaha mereka. Walton mencoba menghadapi mereka dengan menjanjikan pekerjaan dan sumbangan untuk kegiatan amal pada masyarakat setempat.
    Pemburu dan orang lapangan yang gigih itu, Walton, digambarkan sebagai sosok yang sederhana sampai kematiannya. Kendaraan pilihannya adalah mobil Ford pickup merah tahun 1985. Dengan istrinya Helen, yang dinikahinya pada tahun 1943, ia tinggal di rumah yang sama di Bentonville, Arkansas, sejak 1959. Pasangan ini memiliki empat anak: S. Robson, John, James dan Alice.
    Pada tahun 1985 majalah Forbes menyebut Walton sebagai orang terkaya di Amerika Serikat. Pemberian gelar ini membuat pengusaha ritel ini tidak senang. "Semua keributan tentang kekayaan bersih seseorang hanyalah tindakan bodoh, dan itu membuat hidup saya jauh lebih kompleks dan sulit," katanya.
    Pada bagian akhir kehidupannya, Walton menderita dua jenis penyakit kanker: leukemia dan kanker tulang sumsus. Ia meninggal karena penyakit tersebut pada 5 April, 1992, di Rumah Sakit the University of Arkansas Medical Sciences Hospital di Little Rock, Arkansas. Namun sebulan sebelum kematiannya, Walton mendapatkan gelar kehormatan dari President George H.W. Bush berupa Medali Kebebasan kepresidenan.

Rabu, 07 Juni 2017

Menguji Keberaniannya Nekat keluar Sekolah di Usia Muda

Menguji Keberaniannya Nekat keluar Sekolah di Usia Muda
Ada seorang pengusaha yang banyak menginspirasi kalangan anak muda. Namanya Sir Richard Branson. Jika melihat sosoknya yang terkesan sederhana, namun cukup modis dengan rambut gondrong khas anak muda, agak sulit membayangkan kalau ia adalah sosok pengusaha sukses. Namun jangan melihat tampilan luarnya, perhatikan jejaknya yang luar biasa.
    Richard Branson lahir di London, Inggris, pada 18 Juli 1950. Ia sudah mencoba berbisnis saat usia muda. Namun langkah paling drastis dimulai saat ia memutuskan keluar dari SMA saat usianya menginjak 15 tahun.   
    Dia menderita disleksia, sebuah penyakit keturunan yang menyebabkan seseorang sulit mengeja atau mengolah kata dalam otaknya pada umur 16 tahun. Penyakit ini juga membuatnya sulit untuk mengerti pelajaran, dan perlu anda tahu, penyakit ini tidak bisa disembuhkan secara total. Ini berarti sampai saat ini Richard Branson masih mengalaminya walaupun tidak terlalu sering.
    Branson keluar dari sekolahnya pada umur 15 tahun karena penyakit tersebut. Dia tidak bisa konsentrasi terhadap apa yang dipelajarinya. Gurunya sendiri mengira bahwa Branson adalah anak yang malas, karena dia selalu gagal dalam menjalani sebuah test. Sebelum dia keluar dari sekolah, kepala sekolahnya sempat berkata kepadanya bahwa dia mungkin akan berada di penjara atau menjadi seorang miliarder sukses karena penyakitnya tersebut.
    Namun drop out seklah ada juga hikmahnya. Saat berkunjung ke Indonesia tahun lalu dan berceramah di depan sejumlah pengusaha, ia mengungkapkan dengan tak “dilabeli” sebagai produk sekolahan yang sukses, ia jadi nothing to lose untuk melakukan sesuatu. Gagal tak apa-apa, sukses tentu luar biasa. Apalagi dengan usia yang masih muda, jika gagal ia masih ada waktu untuk bangkit. Karena menurutnya, kehidupan sebenarnya dimulai saat usia seseorang berusia 24 tahun.
    Meski begitu ia tak menyarankan agar setiap anak muda keluar dari sekolahnya untuk memulai bisnis. Poinnya adalah “keberanian“. Ia menguji keberaniannya dengan keluar sekolah di usia muda. Tetapi orang lain bisa melakukan cara berbeda. Mungkin sekolah jalan, keberanian juga tumbuh. Terlepas dari hal itu, apa yang dilakukannya sangat inovatif.
    Setelah memutuskan drop-out, di usianya yang ke-16 tahun, Charles Branson mendirikan majalah bernama Student. Majalah ini ia dirikan untuk menyuarakan anti perang Vietnam.  Empat tahun kemudian, pada tahun 1970, ia mendirikan perusahaan yang menjual rekaman musik yang dijual dengan cara order via mail. Tahun berikutnya membangun gerai Virgin Records and Tapes, yang ia dirikan di lantai dua 24 Oxford Street, London. Gerai ini kemudian menjadi Virgin Megastore yang menjual aneka rekaman musik.
    Setelah itu ia mendirikan Virgin Music yang kelak menjadi andalan sejumlah pemusik dunia untuk merekam lagu-lagu mereka dan mengedarkannya ke seluruh dunia. Di antara musisi yang mempercayakan pada perusahaannya adalah grup kenamaan Inggris Genesis dan Phil Collins, Janet Jackson, The Rolling Stones, dan sebagainya.
    Sukses dengan dunia musik, Branson melirik dunia penerbangan dengan mendirikan Virgin Atlantic Airways. Sempat hampir bangkrut, namun perusahaan ini sekarang menjadi pesaing maskapai kenamaan di Inggris.
    Dia adalah satu-satunya entrepreneur yang sudah membangun delapan perusahaan berbeda bernilai milyaran dolar dalam delapan industri berbeda, dan dia melakukan semua itu tanpa latar belakang pendidikan bisnis.
    “Saya akan selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi pada hidup dan karir saya sekarang jika saya mengejar pendidikan cukup lama untuk mempelajari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam bisnis.” Seperti yang ditulisnya dalam buku barunya, Like a Virgin: Secrets They Won’t Teach You at Business School.
    Namun tahukah selama menjalankan bisnis Richard Branson mengalami kendala dengan penyakit disleksianya. Penyakit ini membuatnya harus sedikit mengubah cara komunikasinya kepada para pelanggannnya. Ketika dia mendirikan sebuah perusahaan baru, dia ingin memastikan bahwa dia mengerti bagaimana iklan dan strategi marketing dari perusahaan barunya itu.
    Dia pun menyuruh karyawannya untuk membaca presentasi dari kampanye marketing-nya dengan suara keras. Jika dia dapat menangkap dengan cepat strategi marketing yang dibacakannya tersebut, dia yakin orang biasa yang akan menjadi calon pelanggannya diluar sana juga pasti akan mengerti dengan mudah.
    Sampai saat ini, Richard Branson masih melakukan hal yang sama pada iklan marketingnya. Dia pun lebih memilih kata-kata biasa dibanding jargon-jargon sulit di dunia industri. Misalnya untuk bank miliknya, Virgin Money, bank tersebut tidak memakai kata-kata “financial service” atau “leading industry intelligence” sebagai taglinenya, melainkan “better bank for everyone”. Kesederhanaan dan kejelasan dari tujuan perusahaan yang telah dimilikinya telah menciptakan sebuah nilai positif dari Virgin Group.
    Bahkan akibat disleksianya tersebut, sampai saat ini Branson belum paham apa perbedaan dari “net profit” dan “gross profit” yang seharusnya dimengerti oleh para pengusaha sekarang ini. Tapi dengan penyakitnya ini, dia menjadi lebih dekat dengan para karyawannya, karena dia mempercayai mereka untuk melakukan tugas yang sulit dipahami oleh Richard Branson.
    Keterbatasannya ini membuat dia belajar untuk menghormati orang lain yang lebih mampu melaksanakan tugas spesifik yang dia tidak bisa lakukan. Branson juga telah berhasil merekrut orang -orang yang mampu menjalankan bisnisnya tersebut dan dapat berpikir kreatif dan strategis serta mampu bekerja sama dengan baik.
    Dia pun menyadari bahwa penyakitnya tersebut mampu mendorongnya menuju kesuksesan. Branson juga menemukan fakta bahwa satu dari tiga pengusaha Amerika menderita disleksia, seperti Thomas Edison, Henry Ford, Ted Turner, dan juga Charles Schwab.
    Agatha Christie juga menderita penyakit yang sama. Kenyataannya, ia malah menulis lebih dari 73 judul buku yang membuatnya menjadi pengarang novel misteri nomor satu.
    Bahkan seorang Albert Enstein juga mempunyai masalah dalam mengerti sebuah pelajaran. Namun Richard Branson ingin meyakinkan bahwa anda harus berani untuk menerima bahwa diri anda berbeda. Anda juga harus percaya dengan insting anda dan siap untuk jawaban dari sebuah pertanyaan yang orang lain belum mengetahuinya.
    Saat ini Virgin Group memiliki 360 perusahaan yang bergerak di berbagai unit bisnis seperti layanan panyedia jasa seluler, broadband, TV, radio, keuangan, kesehatan, wisata, dan perjalanan. Bahkan salah satu perusahaannya menyediakan jasa penerbangan ke luar angkasa.
    Dalam perhitungan majalah Forbes, kekayaan Richard Branson ditaksir mencapai US$ 4,2 miliar. Jika dihitung dengan kurs rupiah saat ini, berarti sekitar Rp 35,7 triliun! Dalam segala keterbatasannya, sungguh luar biasa prestasi yang telah diukir Richard Branson selama 46 tahun ini.

Senin, 16 Januari 2017

Tips & Trik Memulai Bisnis Rumahan yang Menguntungkan

Tips & Trik Memulai Bisnis Rumahan yang Menguntungkan
bookcyrcle.com - Bisnis itu tak mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Bagi mereka yang menempatkan kesulitan menjadi tantangan yang harus ditaklukkan, berarti jalan sukses telah dimulai. Kesuksesan hanya bisa dicapai dengan kerja keras, langkah cerdas, dan semangat pantang menyerah. Selain itu pengusaha harus mengelola usahanya dengan benar agar usahanya berjalan dengan baik dan menguntungkan. Kalau salah jalan, bisa menyebabkan terjadinya kebangkrutan.

Faktanya, menurut Statistic Dari Small Business Administration (SBA) 50% usaha baru gagal (di tahun pertama), 47,5% usaha baru lainnya gagal (dalam kurun waktu  5 tahun). Usaha yang berhasil hanya 2,5%

Lalu kenapa sebagian besar usaha akhirnya menemui kegagalan?  Ini karena pelaku usaha tidak mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Karena itu seorang pengusaha harus terus belajar tentang kiat-kiat untuk mencapai sukses dalam berbisnis. Itu bisa diperoleh dengan banyak bertanya pada pengusaha yang sudah berpengalaman, pengamatan lapangan, baca buku, mengikuti seminar, pelatihan maupun workshop.

Kegagalan atau keberhasilan suatu usaha ditentukan oleh berbagai faktor di antaranya kepemilikan modal, prospek usaha, pengetahuan tentang cara melaksanakan usaha, kemampuan menganalisi perkembangan usahanya, dan kemampuan manajemennya.

Usaha Kuliner

Berbisnis kuliner juga tidak mudah. Apalagi kalau yang dijadikan andalan makanan segar. Makanan yang dijual hari ini harus laku hari ini juga. Kalau tidak maka penjual akan rugi besar karena masakan sudah tak segar lagi atau bahkan keburu basi. Karena itulah banyak penjual makanan yang tergoda untuk memberikan bahan pengawet sehingga jadi membahayakan kesehatan pelanggannya.

Usaha kuliner jadi tak mudah karena persiapan untuk memasak membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Pertama-tama orang harus berbelanja ke pasar dulu untuk membeli bahan-bahan makanan. Selanjutnya memasak. Bila rumah makannya menyediakan menu yang beragam akan lebih repot lagi. Ditambah lagi kalau laris, maka akan dibutuhkan lebih banyak bahan dan tenaga kerja. Tentu kalau sudah begini suatu bisnis menjadi tidak sederhana lagi.

Tapi setiap pekerjaan atau usaha pasti ada saja tantangannya. Karena itu kalau kita ingin asap dapur tetap mengepul dan ekonomi kita mengalami peningkatan mau tidak mau kita harus memulai usaha. 

Lagi pula usaha di bidang kuliner itu juga ada  unsur-unsur kemudahannya. Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan: “Yang namanya urusan makanan itu tak bisa diganggu-gugat. Siapa pun selama masih hidup pasti cari makan. Bekerja apapun tujuannya adalah untuk cari makan."

Ya, anggapan tersebut memang ada benarnya, karena kebutuhan manusia akan makan dan minum sudah menjadi kebutuhan pokok yang sama sekali tidak bisa ditunda-tunda. Dalam kondisi menghemat mungkin Anda bisa mengerem membeli keperluan sekunder, seperti pakaian beserta aksesorisnya. Tapi apakah mungkin kita menuda-nunda kebutuhan akan makan. Kita butuh makan agar bisa tetap hidup dan beraktivitas. Karena itulah kenapa usaha makanan pasti  lebih banyak menyedot pelanggan daripada usaha yang lain.

Karena itulah tak heran bila beberapa tahun belakang ini bisnis makanan bertebaran di mana-mana, mulai dari level pedagang kaki lima, warung rumahan, rumah makan dengan tempat usaha terpisah dari rumah, hingga restoran yang menempati bangunan bagus dan mahal. Mungkin Anda pun kini bisa mulai mencoba hal serupa.
  
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di beberapa daerah di Indonesia, rata-rata pendapatan para pengusaha makanan dan minuman kaki lima dan rumahan berada di atas rata-rata upah minimum regional (UMR). Tentu ini menarik bukan? 

Usaha makanan saat ini memang banyak digemari orang karena omset yang dihasilkannya juga bisa sangat menggiurkan. Banyak orang memilih usaha makanan ini karena usaha ini benar-benar bisa memberikan penghasilan di atas rata-rata.
  
Sejumlah pengusaha terbukti sukses karena bisnis kuliner. Anda pasti menginginkan sukses seperti mereka namun Anda bingung bagaimana memulai bisnis ini. Usaha makanan bisa dilakukan di mana saja. Anda bisa melakukannnya di jalan besar dengan menyewa tempat usaha, di pinggir jalan sebagai PKL, dan bahkan juga bisa di rumah saja.
  
Namun usaha makanan yang seperti apa yang akan kita jalankan, semuanya tergantung modal, lokasi dan kondisi rumah kita, dan selera masyarakat di sekitar tempat usaha kita. Kalau rumah kita di pinggir jalan besar, bangunannya luas apalagi ada lahan parkir yang cukup luas, dan modal juga ada, maka kita akan lebih leluasa menentukan pilihan.
   
Tapi sebaliknya kalau rumah kita di kampung, lokasinya tidak cukup besar, dan modal terbatas, tentunya pilihan juga akan lebih terbatas. Biasanya kita tak bisa menawarkan menu yang muluk-muluk dengan harga yang terlalu mahal. Dan pembelinya mungkin juga terbatas.

Beberapa bentuk usaha kuliner yang bisa kita lakukan di rumah adalah berupa warung atau rumah makan dimana orang bisa makan di tempat atau dibawa pulang. Kemudian bisa juga usahanya dalam bentuk katering di mana penjual menerima pesanan untuk menyediakan makanan setiap hari dalam jangka waktu tertentu. Biasanya konsumen melakukan pembayaran setiap bulan di muka dan makanan diantar oleh pihak katering. Frekuensi pengantaran bisa satu kali, dua kali ataupun tiga kali sehari, tergantung permintaan konsumen.

Berbagai usaha di bidang kuliner bisa dikelompokkan dalam beberapa jenis komoditas berikut ini:
  1. Kelompok usaha yang menjual makanan pokok sehari-hari seperti rumah makan Padang, warung tegal, warung nasi sederhana, nasi goreng atau nasi pecel lele.
  2. Kelompok usaha pengganti makanan pokok, seperti bubur, mie ayam, bakso, soto, sate, atau batagor.
  3. Kelompok usaha jajanan, seperti roti bakar, aneka kue, martabak, pisang bakar, gorengan, cireng, cilok atau somay
  4. Kelompok usaha berbagai macam minuman, seperti es buah, es campur, jus, es kelapa muda, es cendok, es dawet hingga es teh.
  
Dalam praktiknya Anda bisa menggabungkan beberapa jenis komoditas usaha. misalnya menjual makanan pokok sekaligus juga jual minuman dan jajanan. Namun variasi ini tentunya harus disesuaikan dengan jumlah tenaga yang tersedia dan daya beli masyarakat setempat. Daripada menjual banyak menu sekaligus bisa juga dipertimbangkan membuat menu yang berbeda untuk beberapa hari sekali.
   
Salah satu jenis  usaha kuliner yang tidak kalah menariknya adalah katering. Prospek bisnis ini bagus karena semakin banyak saja orang yang karena kesibukan kerja tak sempat masak sendiri. Apalagi kalau kampung Anda termasuk tempat pemukiman menengah dan padat penduduknya.
   
Kelebihan dari katering ini, biasanya tempat usahanya di rumah kita sendiri. Jadi bisa menghemat biaya sewa tempat usaha. Kalau masakan Anda enak dan pelanggan puas, tidak menutup kemungkinan pesanan datang dari mana-mana, tidak hanya sebatas penduduk di lingkungan Anda saja.
   
Jika Anda ingin menjalankan usaha katering, ada banyak jenis katering yang bisa dipilih, yaitu:
  1. Katering pesta adalah katering yang khusus melayani untuk acara pesta misalnya pesta perkawinan, pesta ulang tahun, seminar dan sebagainya.
  2. Katering khusus melayani makanan untuk pegawai perkantoran.
  3. Katering khusus melayani makanan untuk karyawan pabrik.
  4. Katering khusus melayani kebutuhan makanan untuk anak-anak kos.
  5. Katering khusus melayani kebutuhan makan rumah tangga.
   
Namun biasanya katering dimulai dengan melayani kebutuhan rumah tangga. Karena katering jenis ini lebih terjamin pemasarannya. Jika para pelanggan kita puas, bukan tidak mungkin kita mendapatkan order juga dari kantor, industri, dan orang-orang yang sedang memiliki hajatan. Jika masakan anda enak, informasi akan berjalan dari mulut ke mulut yang membuat katering anda menjadi terkenal.


Yang paling penting dalam hal memilih menu yang akan kita tawarkan adalah bahwa kita benar-benar menguasai teknik memasaknya. Sebaiknya kita memilih  masakan yang benar-benar kita kuasai sehingga makanan dijamin enak dan disukai pelanggan. Satu hal yang harus Anda hindari adalah memilih menu hanya karena mengikuti tren masakan yang sedang laku, apalagi bila anda tak begitu pintar memasaknya.

Bagi seseorang yang sedang menganggur, daripada terlalu lama menunggu datangnya pekerjaan, kenapa tidak memulai usaha bikin warung di rumah saja atau mungkin Anda lebih tertarik menjalankan usaha katering yang sederhana? Usaha makanan tak selalu membutuhkan modal besar. Alternatif menu yang dipilih pun sangat beragam tergantung lokasi dan selera masyarakat di sekitarnya.

Usaha warung atau katering juga bisa dilakukan oleh seorang ibu rumah. Daripada lebih banyak nganggur di rumah atau merasa jenuh dengan pekerjaan rumah yang monoton, akan lebih baik kalau nyambi usaha warung atau katering. Ada sejumlah tip dan trik yang harus anda perhatikan bila hendak memulai usaha. 

Berikut ini adalah sejumlah hal yang harus menjadi bahan pemikiran bila kita mau terjun di bisnis kuliner:
1. Modal Usaha
2. Lokasi Usaha
3. Pilihan Menu
4. Pasokan Bahan Baku
5. Target Pemasaran
6. Sumber Daya Manusia
7. Promosi Yang Tepat
8. Perizinan Usaha
9. Sikap dan Perilaku terhadap Pelanggan
10. Ora et Labora (bekerja sambil berdoa)

Modal Usaha
Banyak cara untuk menutupi kekurangan modal, misalnya mencari rekanan yang bisa diajak kerja sama, meminjam kepada sanak famili, teman,  koperasi atau bank melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk pelaku UKM.

Yang paling bagus memang menjalankan bisnis dengan modal sendiri, karena anda tak akan pusing berurusan dengan keinginan pihak lain dan anda dapat fokus dalam hal pemasaran. Namun jika usaha berkembang anda tetap harus berhemat untuk memberikan tambahan modal kelak. Misalkan saja Anda menjalankan usaha keripik singkong dengan modal hanya 10 ribu, Anda goreng dan bungkus menjadi 40 bungkus dengan harga satuan Rp 500, keuntungan yang diperoleh jangan seluruhnya dibelanjakan. Sisihkan separuh keuntungan untuk tambahan modal sehingga produksi Anda bisa terus meningkat.

Bila memilih usaha patungan, sebaiknya Anda membuat surat perjanjian yang mengatur pembagian wewenang dan hasil usaha guna menghindari masalah di kemudian hari.
Bila meminjam dari lembaga keuangan, maka biasakan untuk membuat pembukuan untuk usaha Anda. Catatan keuangan tersebut untuk tahap awal harus mencantumkan rincian modal awal, pemasukan, dan pengeluaran. Hal ini dilakukan agar lembaga keuangan tersebut mengetahui secara pasti perkembangan usaha Anda. Selain itu juga akan tahu apakah usaha itu menguntungkan atau tidak. 

Yang paling penting, apabila kekurangan modal, Anda harus mengubah mindset: Anda adalah yang utama, bukan uang Anda. Banyak orang beranggapan bahwa suatu usaha hanya bisa dimulai jika si pengusaha telah mempunyai sejumlah uang sebagai modal usaha. Anggapan ini tidak salah tapi tentu saja bukan merupakan kebenaran mutlak. Artinya, jangan kemudian mengurungkan niat untuk membuka usaha hanya karena belum ada modalnya. Jika Anda sampai mengurungkan niat tersebut hanya karena modal usaha yang belum mencukupi, maka Anda mengecilkan kapasitas dan peranan Anda sendiri sebagai seorang entrepreneur. 

Sejatinya orang itu sendirilah dan bukan modal yang dimilikinya yang menjadi tonggak berdirinya sebuah usaha. Seorang calon enterpreneur sejati tidak akan mengurungkan niat untuk membuka usaha hanya karena tidak mempunya modal. Sebaliknya, justru ia akan memanfaatkan segala potensinya untuk bisa menghimpun modal yang diperlukan, misalkan dengan memanfaatkan jaringan relasi dan reputasi baik yang dimiliki untuk bisa mendapatkan pinjaman lunak dari kolega atau relasi. Bisa juga dimulai dengan cara menjual jasa, keahlian atau informasi yang notabene tidak perlu terlalu banyak membutuhkan modal namun justru bisa mendatangkan uang.

Hilangkan juga mindset bahwa memulai usaha harus langsung besar dan mapan. Bayangan yang indah-indah mengenai citra diri seorang pengusaha seringkali justru bisa menjadi bumerang yang menyurutkan niat para calon enterpreneur kita untuk memulai membuka usaha. Sebagian besar masyarakat kita masih melihat para pengusaha ini dalam kondisi ketika mereka sudah berhasil serta mempunyai usaha yang besar dan mapan. Ini bisa meracuni para enterpreneur yang beranggapan bahwa jika membuka usaha harus langsung besar dan mapan. Ini tentu saja suatu mindset yang sangat tidak benar. 

Mungkin para calon entrepreneur kurang atau lupa untuk merenungkan kembali kebanyakan dari pengusaha yang telah sukses tersebut dulunya juga merintis usaha dari nol lengkap dengan segala pahit getirnya perjuangan mereka. Kenyataan ini diharapkan bisa menumbuhkan kembali motivasi para entrepreneur sekaligus menepis mindset yang salah tentang usaha yang langsung besar dan mapan.
Lokasi Usaha
Pilihlah lokasi usaha yang banyak dikunjungi atau dilalui banyak orang. Saat menentukan lokasi usaha juga harus memperhitungkan modal yang akan dikeluarkan. Jangan sampai modal Anda terkuras hanya untuk menyewa atau membeli tempat usaha. Anda pun dapat melakukannya tanpa mempunyai tempat usaha tapi dengan menitipkan produk usaha Anda dengan memilih kestrategisan lokasi atau tempat usaha mitra Anda.

Sejumlah lokasi usaha makanan yang strategis antara lain di sekitar sekolah atau kampus, kawasan perkantoran, lingkungan pasar dan mal, perumahan, dan tempat wisata. 

Menurut Rheinald Kasali, pakar ekonomi dan UKM, jika memilih lokasi usaha kuliner di mal atau plaza, Anda harus mengetahui traffic atau lalu lintas orangnya. Apakah berada di traffic yang setiap saat dilewati orang? Tempat yang sering menjadi lalu lintas orang ini memang biasanya di pintu masuk mal atau di foodcourt. Tapi, harganya  sudah  pasti mahal. Nah, cobalah Anda teliti kembali  apakah masih ada posisi lain yang banyak orang lalu-lalang, meskipun bukan di pintu masuk.

Jika lokasi usaha kuliner Anda di pusat jajan (outdoor), yang jenis makanannya  kurang lebih sama, seperti di kawasan makan seafood di Jimbaran Bali, akan lebih aman Anda memilih tempat agak ke tengah. Biasanya orang yang datang ke tempat makan di kawasan rekreasi tidak punya preferensi tertentu. Pengunjung yang sedang melihat-lihat  hingga ke ujung biasanya sering berakhir di tengah. Pastikan lokasi ini punya potensi akan ramai dikunjungi orang.

Temukan Daya Tarik

Kalau modal Anda minim sekali, cobalah membuka warung di rumah. Memang di kampong/ perumahan pasti pelanggannya akan terbatas. Tapi kalau masakan Anda enak dan bisa menyajian berbagai menu masakan secara bergantian, maka ini akan menjadi alat promosi yang efektif sekali. Para tetangga anda yang puas akan menyebarkan informasi dari mulut ke mulut hingga jauh di luar batas-batas perumahan Anda.

Jangan biarkan warung Anda tampak sepi. Sebab orang akan berpikir makanan Anda tidak enak sehingga makin lama makin kehilangan pembeli. Daya tarik itu bisa berupa masakan yang enak dan menggugah selera, sehat, dan juga tempat yang nyaman, bersih, dan sirkulasi udaranya baik. Lebih bagus kalau ada pendingin udara agar pembeli tidak gerah karena udaranya panas. Untuk menggugah selera, pajanglah masakan Anda dengan cara yang menarik.

Bila usaha kuliner rumahan terletak di jalan yang cukup lebar dan punya lahan parkir yang cukup, jangan pelit-pelit untuk memberikan diskon. Pembuatan paket spesial diskon untuk rombongan akan sangat bermanfaat untuk mendatangkan pembeli. Dengan pembeli rombongan, paling tidak 30% kursi sudah terisi. Tawarkan  paket spesial karyawan untuk makan siang.

Minggu, 15 Januari 2017

10 Kebiasaan Pribadi yang Sukses (part 2)

10 Kebiasaan Pribadi yang Sukses (part 2)
bookcyrcle.com - Diantara komentar-komentar tersebut adalah:
  • Saya mulai memikirkan tujuan-tujuan hidup Saya.
  • Saya menentukan tujuan-tujuan terpenting dalam hidup ini.
  • Saya berusaha mempraktekkan kebiasaan membuat urutan prioritas dalam pekerjaan Saya.   
  • Ternyata kondisi-kondisi yang berada di sekitar Saya lebih sulit dari yang Saya duga.
  • Pelatihan ini telah menggerakkan “air tenang” yang ada dalam diri Saya.
  • Saya telah berdiskusi dengan istri Saya tentang sebagian konsep yang berkaitan dengan pelatihan ini.
  • Selama 24 jam yang lalu, Saya tidak melakukan apa-apa selain berfikir.
  • Saya membaca semua materi pelatihan.
  • Mengenal 10 kebiasaan ini merupakan hal yang mudah, tetapi untuk mempraktekkannya dibutuhkan keseriusan dan waktu.
  • Saya berusaha mengamalkan kebiasaan “merencanakan”.
  • Mengapa Saya tidak mengikuti pelatihan dari dulu? Serta masih banyak lagi komentar-komentar menarik lainnya yang menunjukkan adanya keterpengaruhan mereka oleh konsep-konsep yang disampaikan pada pelatihan, dan hal ini mengisyaratkan adanya perubahan positif yang menjadi tujuan dari pelatihan tersebut.
Buku ini memang sengaja dirancang untuk membantu Anda dalam menemukan dan mengenal diri Anda sendiri melalui berbagai sarana dan mekanisme yang dapat
menunjang kesuksesan. Buku ini juga melatih Anda untuk merealisasikan perubahan-perubahan internal dengan caracara
sebagai berikut: 

  1. Mengenalkan Anda dengan konsep-konsep, azas-azas, prinsip-prinsip, dan dasar-dasar yang menjadi landasan pijakan bagi kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan
    manusia.
  2. Mengenalkan Anda dengan 10 kebiasaan yang dapat membantu Anda dalam merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan.
  3. Menyuguhkan mekanisme-mekanisme dan cara-cara untuk membangun dan memperkokoh 10 kebiasaan tersebut.
  4. Mengenalkan Anda dengan diri Anda sendiri dan mengungkap titik-titik kekuatan dan kelemahan yang Anda miliki.
Bagaimana Dapat Memanfaatkan Buku Ini?
 Upaya memanfaatkan buku ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, dimana masing-masing cara dapat
disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Cara-cara tersebut adalah:


Cara Pertama: Mengkaji secara individual (perorangan), di sini Saya tidak mengistilahkannya dengan
“membaca” tetapi dengan istilah “mengkaji”, maksudnya adalah mengkhususkan sebagian waktu tertentu untuk membaca buku ini, memahami konsep-konsepnya, menyelesaikan latihan-latihan yang terdapat didalamnya, serta mengomentari pemikiran-pemikirannya, kemudian berusaha untuk mengaplikasikan setiap kebiasaan dengan benar atau mengaplikasikan keahlian-keahlian tertentu yang terdapat dalam satu macam kebiasaan.


Cara Kedua: Mengkaji secara kolektif (bersama-sama), hal ini dapat dilakukan oleh seseorang bersama rekanrekan kerjanya atau anggota-anggota keluarganya yaitu dengan cara mengkhususkan waktu tertentu untuk mendiskusikan satu bagian dari buku ini atau satu kebiasaan dari 10 kebiasaan tersebut. Sebagai persiapan, setiap orang hendaknya membaca satu tema tertentu untuk kemudian didiskusikan, dikomentari, dan latihanlatihannya diisi secara bersama-sama.


Cara Ketiga: Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tertentu yang berkaitan dengan tema buku ini. Untuk
melakukan ini sebaiknya dikoordinasikan dengan pihak Dâr al-Ma’rifah li al-Tanmiyyah al-Basyariyyah, sebab ada sejumlah materi yang perlu ditambahkan serta beberapa hal





Back to 10 kebiasaan Pribadi yang Sukses (part1)
Next to 10 Kebiasaan Pribadi yang Sukses (part3)

Rabu, 02 November 2016

Dilaharikan Miskin Bukan Berarti Harus Miskin.

Dilaharikan Miskin Bukan Berarti Harus Miskin.


bookcyrcle.com - Andrew Carnegie dilahirkan pada tahun 1835 di Skotlandia dalam sebuah keluarga miskin. William Carnegie, ayahnya, memutuskan untuk pindah ke AS ketika negara menghadapi bencana kelaparan skala besar pada tahun 1848. AS menjadi harapan bagi sang ayah untuk mendapatkan hidup yang lebih baik bagi keluarganya.Andrew Carnegie memulai pekerjaan pertama pada usia muda 13 tahun yaitu memintal kapas menjadi gulungan benang. Dua tahun kemudian, dia pergi ke Ohio Telegraph Company dan bekerja sebagai petugas telegraf.             

Dia adalah seorang pekerja yang sangat keras, dan memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya. Akibatnya, karirnya melejit dengan cepat. Pada usia 18 tahun, ia mendapatkan promosi menjadi pengawas divisi Pittsburgh di perusahaan telegraf. Sambil bekerja, ia melakukan investasi yang bagus pada beberapa perusahaan kereta api yang berhubungan dengan industri. Ini menciptakan dasar untuk kekayaannya di kemudian hari.

Dari uang hasil investasi inilah ia membangun pabrik baja dan sukses. Dia mulai bekerja di Perusahaan Carnegie Steel, yang kemudian berkembang menjadi Perusahaan Baja US Steel. Pada usia 33 tahun, Andrew Carnegie sudah memperoleh penghasilan USD $ 50.000 per tahun.
Sekarang ia mengontrol perusahaan baja terbesar di Amerika Serikat. dia mendapatkan gelar sebagai bapak industri baja modern dan pernah menjadi salah satu orang Amerika terkaya.  Dia pensiun dari industri baja pada usia 66, dengan kekayaan sebesar US $ 225 juta.

Dia kemudian mendedikasikan diri sebagai filantropis dan memberikan perhatian terhadap isu-isu seperti perdamaian dunia dan pendidikan. Dia mendirikan beberapa yayasan dan perpustakaan di sisa masa hidupnya. Carnegie meninggal pada usia 83. Pada saat kematiannya, ia telah menghasilkan kekayaan lebih dari $ 350 juta, jumlah terbesar dari seorang individu pada masa itu.

Andrew Carnegie membuktikan kepada semua orang tentang nilai kerja keras. Kerja keras yang terus-menerus terbukti menghasilkan perhatian dan promosi di usia muda dari atasan.

Di dunia ini segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instan. Kita harus kerja keras terus-menerus untuk mendapatkan hasil yang besar.  Kemenangan dalam hidup sering datang setelah bertahun-tahun seseorang bekerja keras. Sebagai seorang pemimpin, kita perlu membimbing bawahan agar mau bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sebuah organisasi.

Andrew Carnegie memahami pentingnya prinsip ini dan dia sengaja pergi keluar untuk mengenal orang yang menonjol di masyarakat setiap kali ia punya kesempatan. Pada akhirnya, keberhasilan Anda sebagai pemimpin akan hadir karena tim Anda. Anda tidak dapat melakukannya sendirian. Apa pun yang Anda harap untuk mencapainya dalam hidup, Anda membutuhkan orang di sekitar Anda. Ini bukan hanya tentang mengetahui sebanyak yang Anda bisa. Ini juga tentang mengetahui seberapa banyak orang yang bisa anda kendalikan.

Andrew Carnegie ketika mulai sukses pernah menemukan kekosongan dalam hidupnya. Saat itulah ia menyadari bahwa kehidupan yang hanya untuk diri sendiri adalah kehidupan yang sangat kosong.

Sebagai seorang pemimpin, ia mulai memahami bahwa kita hidup untuk menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Ini termasuk orang yang ia manfaatkan melalui organisasi dan timnya. Jika ia berusaha untuk sukses dengan mengorbankan orang lain, atau berusaha untuk mengambil dan menimbun kekayaan, ia menemukan diri menjalani hidup yang sangat kosong.

Oleh karena itu ia merasa perlu menjalani hidup dengan memberikan bantuan kepada orang lain. Dengan sikap itu, ia merasa menjadi seseorang yang penting dalam kehidupan.
Dengan uang yang diperoleh dari bisnisnya, ia memulai kegiatan filantropisnya. Banyak yayasan dan organisasi yang bergerak dalam urusan perdamaian dunia dan pendidikan yang didirikan olehnya.Untuk mengenang kebesarannya beberapa lembaga, penghargaan, jalan-jalan diberi nama Andrew Carnegie setelah dia tiada. Di antaranya nama jalan di Oklahoma dan Pennsylvania,  Medali Carnegie untuk Penghargaan Sastra, dan gedung Carnegie Hall di New York. Selain itu, ia telah menerima banyak penghargaan lainnya dan tanda kehormatan.


Kutipan Terbaik dari Andrew Carnegie Tentang Kepemimpinan:


Orang-orang yang telah berhasil adalah orang yang telah memilih tujuan dan fokus dengan tujuannya itu.

Andrew Carnegie

Konsentrasi pada energi, pikiran dan modal Anda. Orang bijak menempatkan semua telur dalam satu keranjang dan mengawasi keranjang itu
Andrew Carnegie

Motto saya: pertama kejujuran, lalu industri, kemudian konsentrasilah.
Andrew Carnegie

"Inilah syarat utama dan rahasia besar kesuksesan: konsentrasikan energi, pemikiran, dan modal Anda hanya pada bisnis yang Anda geluti. Setelah mulai dalam satu bidang, bulatkan tekad untuk berusaha keras di bidang itu, dan untuk menjadi yang terdepan. Terima setiap perbaikan, gunakan perlengkapan terbaik, dan kuasai dengan sebaik-baiknya."
Andrew Carnegie

Orang yang tidak bisa memakai akal sehat adalah orang tolol. Yang tidak mau melakukannya adalah kepala batu. Yang tidak berani melakukannya adalah budak.
Andrew Carnegie

"Bidang apapun yang saya geluti, harus saya tekuni dengan sebaik-baiknya."
Andrew Carnegie

Orang pertama mendapatkan tiram, orang kedua mendapatkan cangkangnya.
Andrew Carnegie

Teamwork adalah kemampuan untuk bekerja bersama-sama menuju suatu visi bersama. Kemampuan untuk mengarahkan tindakan individual pada sasaran-sasaran organisasional. Itu adalah bahan bakar yang memungkinkan orang-orang biasa mendapatkan hasil yang tidak biasa.
Andrew Carnegie

Semua manusia bisa mengubah kehidupan mereka dengan mengubah sikap mereka
Andrew Carnegie

Sukses adalah mendapatkan apa yang Anda inginkan. Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang Anda dapatkan.
Andrew Carnegie

Perpustakaan adalah waduk kekuatan, kasih karunia dan kecerdasan, pengingat akan perlunya ketertiban, ketenangan dan kontinuitas, danau energi mental, hangat maupun dingin, terang atau gelap .... Dalam setiap perpustakaan di dunia, saya di rumah, tidak nampak bangga, tetap tinggal dan menyatu.
Andrew Carnegie

Tetapkan tujuan untuk yang tertinggi. Tidak ada orang yang bisa membawa Anda pada kesuksesan yang besar kecuali dirimu sendiri.
Andrew Carnegie

Sabtu, 22 Oktober 2016

10 Kebiasaan Pribadi yang Sukses

bookcyrcle.com - Seperti kaum muda pada umumnya yang sedang mencari kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup ini, saya pun membaca kedua buku tersebut dan berusaha memahami maknamakna yang terkandung didalamnya, hingga pada akhirnya saya pun kagum dengan kedua buku tersebut. Akan tetapi, saya tidak yakin kedua buku itu dapat mengantarkan saya ke gerbang kebahagiaan dan kesuksesan. Untungnya, pada saat itu juga saya menemukan sebuah buku kecil karya Syeikh Abdurrahman bin Sa’di –rahimahullahu-, beliau adalah salah seorang ulama Najed yang berasal dari kota ‘Anizah (w. 1377 H). Buku tersebut berjudul “Saranasarana Penting Untuk Menggapai Hidup Bahagia”. Meskipun kecil, akan tetapi buku tersebut termasuk buku terbaik dalam bidangnya yang ditulis dalam bahasa Arab. Saya membaca buku tersebut berulang-ulang, dan saya pun sangat tertarik dengannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, konsep-konsep Carneigi dan prinsip-prinsip Ibnu Sa’di mulai menyelimuti benakku, dan saya pun mulai mencoba untuk mencari perbedaan antara keduanya. Keseriusan yang ada dalam diriku telah mendorongku untuk memperhatikan dan memahami metode yang digunakan oleh kedua penulis tersebut dalam mengatasi masalah kebahagiaan dan kesuksesan. Perhatian Carneigi lebih terfokus pada mekanisme, metode atau cara yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan dan menjadikan hidup serta interaksinya dengan sesama manusia lebih efektif. Sedangkan perhatian Syeikh Ibnu Sa’di lebih terfokus pada tujuan-tujuan besar dalam hidup ini, lalu beliau mengaitkan hal itu dengan masalah keimanan kepada Allah SWT dan ‘ubudiyyah (penghambaan diri kepada- Nya) yang sejati. Beliau menjelaskan bahwa tujuan utama dari kehidupan manusia di muka bumi ini adalah untuk merealisasikan dua macam kebahagiaan, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Dengan bertambahnya pemahaman saya tentang peradaban Barat yang diperoleh ketika saya melanjutkan program pasca sarjana di Amerika Serikat –saya tinggal di Amerika selama 6 tahun-, saya semakin mengetahui bahwa perbedaan antara konsep-konsep Carneigi dan prinsip-prinsip Ibnu Sa’di itu bukan hanya sekedar perbedaan antara kedua penulis saja, tetapi juga merupakan perbedaan antara dua konsep, dua peradaban, dan dua teori dalam memahami alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Dalam hal ini, Syeikh Ibnu Sa’di mewakili peradaban Islam, beliau menghubungkan antara usaha manusia di dunia dengan kehidupan di akhirat, lalu beliau juga mengaitkannya dengan tujuan dari kehidupan manusia itu sendiri. Sedangkan Carneigi mewakili peradaban Barat yang materialis, ia hanya mengaitkan antara usaha manusia di dunia dengan sejumlah hal, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang dapat mewujudkan tujuan-tujuannya.

Sebagai contoh, perhatikanlah penjelasan Syeikh Ibnu Sa’di mengenai kebahagiaan dan kesuksesan yang tercantum dalam buku “Sarana-sarana Penting Untuk Menggapai Hidup Bahagia”, terbitan Dâr Ibn al-Jauzi, dimana dalam buku tersebut beliau berkata, “Sesungguhnya kebahagiaan manusia dalam kehidupan ini bersandar pada prinsipprinsip sebagai berikut:

  1. Faktor terpenting dan paling utama bagi kebahagiaan dan kesuksesan manusia adalah iman kepada Allah SWT dan amal shaleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik lakilaki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).
  2. Berbuat baik kepada sesama makhluk, baik dengan perkataan maupun perbuatan serta dengan berbagai macam kebaikan.
  3. Menekuni satu pekerjaan tertentu atau ilmu tertentu yang bermanfaat, membiasakan diri untuk melakukan halhal yang bermanfaat dan berusaha untuk mewujudkan kebahagiaan atau kesuksesan yang diinginkan.
  4. Memusatkan konsentrasi pada pekerjaan yang dilakukan hari ini dan memalingkannya dari pekerjaan yang akan dilakukan di hari-hari mendatang, serta membersihkan pikiran dari kesedihan atas perbuatan yang dilakukan pada masa lalu.
  5. Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.
  6. Mengingat-ingat seluruh nikmat yang telah dikaruniakan Allah baik yang nampak maupun tidak.
  7. Berusaha menghilangkan faktor-faktor yang dapat mendatangkan kesedihan dan berusaha mendapatkan faktor-faktor yang dapat mendatangkan kebahagiaan.
  8. Berusaha meningkatkan kekuatan hati dan menjauhkannya dari hayalan atau angan-angan yang disebabkan oleh pikiran yang kotor.
  9. Memprioritaskan pekerjaan yang terpenting dan bermanfaat. (Lihat al-Wasâ’il al-Mufîdah Fi al-Hayât al-Sa’îdah karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di). 

Tidak diragukan lagi bahwa inti dari pembicaraan Syeikh Ibn Sa’di tersebut adalah nilai-nilai utama, tujuan-tujuan besar dan mulia, serta petunjuk-petunjuk yang dapat mengarahkan kehidupan manusia. Sedangkan dalam rangka berinteraksi dengan sesama manusia, Carneigi memaparkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Janganlah Anda mengkritik, mengingkari, ataupun meragukan kemampuan orang lain.
2. Berilah tanggapan yang baik dan meyakinkan.
3. Berilah dorongan atau dukungan kepada orang lain.

Kemudian Carneigi juga memperkenalkan sejumlah metode atau cara yang dapat mempererat hubungan Anda dengan orang banyak dan dapat menarik simpatik mereka sehingga mereka mau mendengarkan pendapat-pendapat Anda. Ia berkata, “Perhatikanlah perkataan orang lain, tersenyumlah, jadilah pendengar yang baik, hindarilah perdebatan, hormatilah orang lain, akuilah kesalahan Anda, berusahalah untuk menyayangi orang lain,
lontarkanlah ide-ide Anda dengan jelas, lontarkanlah sejumlah pertanyaan, dan lain sebagainya.”

Tidak diragukan lagi bahwa pembicaraan Carneigi tersebut sangat kering dari nilai-nilai dan hanya terfokus pada sejumlah sarana atau mekanisme yang dapat membantu Anda dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan. Sebenarnya pembicaraan yang terfokus pada sejumlah sarana atau mekanisme tersebut tidak hanya terdapat dalam buku Carneigi yang sangat terkenal itu, tetapi pembicaraan semacam itu juga terdapat dalam berbagai buku yang diterbitkan di Barat yang menjanjikan kebahagiaan dan kesuksesan kepada manusia. 

Beberapa penulis dan filosof Barat sendiri telah mengakui akan kelemahan teori-teori Barat dalam merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan. Dalam pendahuluan dari bukunya yang sangat terkenal dan berjudul “7 Kebiasaan Pribadi Yang Lebih Dinamis”, cetakan tahun 1989, Stephan Koufi menjelaskan, “Analisaku terhadap tulisan-tulisan yang ada di dunia Barat sejak 50 tahun yang lalu mengindikasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan tersebut masih pada tahap ketidakmatangan karena hanya memberikan solusi-solusi yang bersifat sederhana dan instan dalam menghadapi permasalahanpermasalahan yang besar. Padahal solusi-solusi semacam itu hanya dapat memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut untuk sementara waktu saja, sehingga permasalahan-permasalahan itu pun akan muncul lagi ke permukaan”.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I, sebagaimana dikatakan oleh Koufi, tulisan-tulisan yang ada telah berubah haluan, yang pada mulanya memfokuskan pada aspekaspek yang berkaitan dengan akhlak (moral) seperti kepatuhan, keberanian, keteguhan hati, kesabaran, keadilan, dan tawadhu, kini hanya memfokuskan pada aspekaspek yang berkaitan dengan perasaan dan jauh dari aspekaspek akhlak. Pada saat itu muncul berbagai buku, pusatpusat kajian, pusat-pusat pelatihan dan sekolah-sekolah pemikiran yang berusaha memperkenalkan pemikiran yang baru itu dan mencari cara atau strategi yang efektif seperti dengan memperkenalkan slogan-slogan “Memfokuskan pada hubungan antar sesama manusia”, “Dengan senyum, Anda dapat memperoleh teman lebih banyak”, dan “Segala sesuatu yang dapat dibayangkan, dapat diwujudkan”. Kemudian tulisan-tulisan tersebut lebih diarahkan untuk mengerahkan kepandaian dan cara-cara yang bersifat kamuflase seperti “Gunakan cara tertentu yang dapat menyebabkan orang lain tertarik kepada Anda yaitu dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat menarik kekaguman orang lain kepada Anda, memperhatikan pakaian dan penampilan Anda sehingga orang lain akan tertarik kepada Anda, dan lain sebagainya.” (hal. 18-19, terbitan
Inggris).

Kemudian Koufi menjelaskan lebih lanjut, “Meskipun sebagian buku yang ada di Barat telah mengakui akan pentingnya aspek akhlak (moral) dalam menentukan kesuksesan seseorang, akan tetapi buku-buku tersebut hanya menganggapnya sebagai suatu bagian saja, bukan sebagai landasan dasar dari sebuah bangunan. Dengan demikian, pembicaraan mengenai aspek akhlak ini hanya sebagai bumbu saja, sedangkan fokus pembicaraan justru terletak pada cara-cara instan yang bertujuan untuk meningkatkan kepribadian, menarik simpatik orang lain, kepandaian berkomunikasi, cara-cara berfikir positif, dan lain sebagainya” (hal. 19). 

Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa kedua konsep tersebut (konsep Islam dan Barat) memiliki konteks dan fokus yang berbeda dalam kaitannya dengan upaya untuk menggapai kebahagiaan dan kesuksesan. Konsep Islam lebih menekankan aspek akhlak dan nilai-nilai yang dapat mengarahkan kehidupan manusia, sedangkan konsep Barat hanya menekankan aspek mekanisme dalam menjalin hubungan antar sesama manusia dan kepandaian untuk melaksanakannya. Meskipun demikian, konsep Islam masih tetap memperhatikan aspek mekanisme dan kepandaian dalam melaksanakannya, hanya saja kedua aspek tersebut tidak menjadi titik sentral dari buku-buku kontemporer ketika sedang membicarakan masalah kebahagiaan dan kesuksesan.

Berdasarkan studi dan pengalaman, saya menemukan satu kemungkinan untuk menggabungkan kedua konsep tersebut dalam satu kerangka filosofi yang sempurna, yaitu bahwa mekanisme yang diperkenalkan secara baik oleh peradaban Barat dapat difungsikan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan bagi seorang muslim yang mendasarkan kehidupan dan pandangannya terhadap alam semesta, manusia dan kehidupan itu sendiri pada sebuah tujuan yaitu untuk mewujudkan kebahagiaan di dua alam (dunia dan akhirat) di bawah naungan manhaj (sistem) Allah SWT. Tentunya, hal ini tidak berarti peradaban Islam tidak memiliki mekanisme khusus dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan. Sebab, sebenarnya banyak di antara mekanisme-mekanisme tersebut telah ada, bahkan nampak jelas, dalam petunjuk-petunjuk Tuhan (al-Qur’an), hadits-hadits Nabi SAW, dan kajian-kajian sebagian ulama Salaf semisal Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Al-Jauzi, Abu Hamid Al-Ghazali serta ulama-ulama masa kini seperti Muhammad Quthub, Muhammad Al-Ghazali, dan lain sebagainya. Hanya saja mekanisme-mekanisme tersebut masih berupa simpanansimpanan mahal yang harus digali, diolah, dan disajikan dengan metode penyampaian modern yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Berpijak dari kerangka filosofi yang berusaha memadukan antara konsep Timur, dalam hal ini diwakili oleh konsep Islam, dengan mekanisme Barat yang diwakili oleh sejumlah buku yang membahas tema tersebut, serta berpijak dari keyakinan Saya akan pentingnya upaya penggabungan ini guna merealisasikan manfaat yang besar, maka sejak beberapa tahun yang lalu Saya mencoba menyampaikan ceramah, melakukan berbagai kajian, dan menerbitkan buku-buku yang berkaitan dengan bidang ini. Dalam hal ini, buku saya yang berjudul “Buku Pedoman Pribadi Dalam Mewujudkan Kebahagiaan Dan Kesuksesan” yang diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1415 H. sangat terkait erat dengan konteks tersebut. Allah SWT telah menggariskan buku tersebut bisa diterima oleh masyarakat dan tersebar luas, bahkan telah dicetak ulang hingga 4 kali hanya dalam waktu 5 tahun dan telah diterjemahkan ke dalam dua bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan Urdu. Buku tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang mudah, serta konsep-konsep yang ada didalamnya disampaikan dalam bentuk dialog sehingga mudah difahami oleh sejumlah kalangan yang memang menjadi sasaran utama, yaitu kalangan pemuda dan para pembaca dari kalangan masyarakat awam. Setelah itu, saya meluncurkan buku kedua yang berjudul “Tujuan-tujuan Pribadi Anda Dalam Kehidupan: Antara Mimpi Dan Kenyataan” yang dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1419 H.

Buku tersebut disajikan dengan maksud agar dapat menjadi landasan ilmiah yang mendalam bagi konsep-konsep yang terdapat dalam tulisan-tulisan Saya dan menjadi pijakan bagi filsafat atau pandanganku dalam merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan. Sedangkan dalam buku yang berjudul “10 Kebiasaan Pribadi Sukses” ini, Saya memperkenalkan sejumlah konsep, trik-trik, dan hal-hal yang diperlukan dalam upaya merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan. Buku ini lebih terperinci, lebih matang, lebih jelas, lebih sistematis, dan terkesan lebih profesional daripada buku-buku sebelumnya. Mungkin sebagian orang akan bertanya, “Apa yang membedakan antara buku yang diterbitkan pada tahun 1419 H. dengan buku yang diterbitkan pada tahun 1422 H? Apakah waktu yang singkat itu cukup untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran baru? Dan apa yang dimaksud dengan ungkapan lebih terperinci, lebih matang, dan lebih profesional? Pada hakekatnya, terdapat perbedaan yang sangat menonjol antara dua buku pertama dengan buku ini, karena dua buku yang pertama itu ditulis ketika saya masih menjadi guru besar di Universitas King Sa’ud, sehingga kedua buku tersebut sangat bernuansa akademis dan dipenuhi dengan konsep-konsep yang bersifat teoritis, sedangkan buku yang ketiga ini ditulis setelah Saya menekuni pekerjaan sebagai seorang profesional. 

Perlu diketahui, Saya telah non-aktif dari universitas sejak beberapa tahun silam, setelah itu Saya menekuni pekerjaan sebagai seorang profesional dalam bidang yang sangat menarik, yaitu bidang konseling dan pelatihan. Lalu Saya mendirikan “Dâr al-Ma’rifah Li al-Tanmiyyah al-Basyariyyah” yaitu sebuah lembaga yang memberikan bimbingan kepada masyarakat mengenai manajemen dan pendidikan, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan khusus, dan menerbitkan buku-buku yang terkait dengan bidang tersebut. Dalam menjalankan pekerjaan baru ini, saya harus memiliki persiapan baru karena saya harus merubah peran dari seorang guru besar universitas ke sebuah peran baru yang lebih saya sukai yaitu menjadi seorang konselor yang terlatih dan profesional. Pada mulanya, saya memang menemukan kesulitan dalam menjalankan peran baru itu, akan tetapi –dengan karunia Allah- saya berusaha keras untuk menggeluti bidang tersebut guna meraih kesuksesan yang Saya harapkan. Selama 5 tahun, Saya selalu menelaah, mengkaji dan menghadiri berbagai seminar, lokakarya, dan pelatihan baik di Amerika Serikat maupun wilayah-wilayah lainnya. Selama itu, Saya selalu bergelut dengan eksperimen-eksperimen yang menarik. Sebagai hasil dari eksperimen-eksperimen tersebut, Saya mewajibkan kepada diri saya sendiri untuk menyelenggarakan berbagai pelatihan, bahkan tugas tersebut telah menjadi prioritas utama Saya.

Dengan peran yang baru ini, Saya berharap filsafat (pandangan) Saya mengenai upaya merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan dapat berpengaruh. Maka, Sayapun mulai berfikir untuk membawa konsep-konsep yang bersifat teoritis dan telah Saya tulis sejak beberapa tahun silam itu ke wilayah aplikasi praktis. Karena itu, Saya pun mencoba menyelenggarakan sebuah kegiatan pelatihan dengan tema “10 Kebiasaan Pribadi Sukses”.
Pelatihan tersebut dilakukan secara intensif dalam waktu 12 jam dan diselenggarakan atas kerja sama antara Dâr al-Ma’rifah dengan sejumlah lembaga dan perusahaan. Pada tahun pertama saja (1420 H.), program pelatihan ini telah dilakukan sebanyak 5 kali, itu pun belum termasuk ceramah-ceramah dengan tema yang sama. Selama melaksanakan pelatihan tersebut, saya selalu berusaha untuk mengembangkan konsep-konsep yang ada. Lalu saya menjadikan bentuk dan materi dari pelatihan tersebut bisa dirubah, didiskusikan ataupun ditambah sesuai dengan hasil-hasil diskusi, pendapat-pendapat yang dilontarkan serta masukan-masukan dari para peserta pelatihan. Dan saya selalu berusaha mencari hal-hal baru yang berfungsi untuk mengembangkan dan menyajikan pelatihan tersebut dengan metode terbaik yang bisa dilakukan.

Lalu, bukankah perkembangan-perkembangan ini bisa menggambarkan adanya perubahan dari segi metode dan cara penyampaian? Dan bukankah perkembangan-perkembangan tersebut bisa membuktikan adanya perbedaan antara kedua buku pertama dengan buku ini? Memang, waktu yang sangat singkat itu memiliki pengaruh cukup besar terhadap perkembangan metode yang Saya gunakan dalam penulisan. Dua buku pertama ditulis ketika Saya masih berperan sebagai guru besar di Universitas King Sa’ud, sehingga buku-buku tersebut pun bernuansa akademis dan konsepkonsepnya masih bersifat teoritis. Sedangkan buku ketiga ini merupakan bentuk aplikasi praktis dari filsafat Saya mengenai upaya mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Dalam pengulasannya, buku ketiga ini lebih terperinci daripada dua buku sebelumnya, lebih matang dan lebih sistematis dalam cara penyampaiannya, sebagaimana ia juga terlihat lebih profesional dalam merangkai tema-tema yang ada serta mengaitkan antara tema yang satu dengan tema lainnya. Sejak beberapa tahun yang lalu yaitu ketika Saya mulai menulis bagian-bagian dari buku ini, Saya selalu mengaplikasikan konsep-konsep yang ada dalam buku tersebut dan berusaha untuk memperhatikan dampak dari kebiasaan-kebiasaan itu terhadap diri dan kehidupan Saya, kemudian Saya juga menerapkannya pada diri orang-orang terdekat dan orang-orang yang ikut serta dalam program pelatihan yang Saya adakan. Setelah itu, Saya mulai melakukan aktifitas penulisan, pencarian referensi, dan menemukan bentuk-bentuk pelatihan yang sesuai, sehingga setiap kebiasaan dari 10 kebiasaan tersebut dapat dirumuskan dengan baik dan benar.

Mungkin sebagian orang akan heran ketika ia mengetahui bahwa sejumlah blangko (formulir) dan berbagai latihan yang terdapat dalam buku ini telah dipersiapkan selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Dengan demikian, blangko-blangko dan latihan-latihan tersebut telah beberapa kali mengalami proses penelitian ulang, perbaikan, atau bahkan perubahan. Demikian pula dengan konsep-konsep dan pemikiran-pemikiran yang termuat dalam buku ini. Mungkin, sangatlah mudah untuk mengemukakan konsep-konsep dan pemikiran-pemikiran tersebut secara teoritis, akan tetapi ketika kita hendak merubahnya ke dalam bentuk mekanisme-mekanisme aplikatif dan kegiatankegiatan praktis, kita pasti akan menemukan kesulitan. Karena itu, untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan adanya pengalaman yang hebat, daya khayal tinggi dan jiwa yang inovatif. Hal-hal inilah yang selalu Saya cari.

Saya selalu memperhatikan masalah kesuksesan dalam kehidupan manusia dan Saya telah mengumpulkan berbagai data yang berkaitan dengan tema ini. Pada saat itu, Saya menemukan indikasi bahwa kesuksesan bukanlah sekedar konsep, prinsip, ataupun pendapat-pendapat yang kita pelajari atau kita dengar dari orang lain, tetapi kesuksesan adalah sebuah proses perjalanan dari pengalaman dan keahlian seorang manusia yang berlangsung terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama. Jadi, yang dimaksud dengan kesuksesan adalah perjuangan seorang manusia dalam melakukan interaksi aktif dengan data-data yang ada pada berbagai zaman dan tempat sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Kesuksesan adalah membiasakan diri untuk hidup dengan cara tertentu, menghadapi berbagai persoalan dengan langkah yang efektif, membiasakan berinteraksi dengan sesama manusia dengan metode tertentu, membiasakan diri berinteraksi dengan waktu, dan membiasakan diri untuk menjalankan sebuah profesi, pekerjaan atau tugas secara profesional dan tepat, atau dengan kata lain, kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan dimana tingkat intensitas pelaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menentukan keberhasilan seseorang baik dalam kaitannya dengan status sosial, kedudukan, maupun keahliannya dalam melakukan tugas. Apakah hal ini bisa dibenarkan? Apakah yang dimaksud dengan kesuksesan hanyalah terbatas pada kebiasaan-kebiasaan saja? Ya, kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang agung dan mulia yang dalam pelaksanaannya dibutuhkan adanya usaha dan alokasi waktu yang besar serta dibutuhkan adanya kesabaran, tekad dan pengorbanan. Sedangkan hasil-hasilnya –sebagaimana dapat kita lihat dalam buku ini- merupakan hasil-hasil yang bersifat pasti dan dapat merubah kehidupan manusia serta menjadikan masa depannya menjadi masa depan yang menjanjikan, istimewa dan berbeda.

Untuk melakukan pembatasan terhadap kebiasaankebiasaan yang berkaitan dengan kesuksesan ini, Saya telah melakukan pengkajian, pengamatan dan penelaahan ulang dalam waktu yang cukup lama. Sejak beberapa tahun lalu, Saya telah berusaha mengumpulkan setiap kebiasaan yang Saya yakini akan dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan, atau paling tidak dapat membantunya dalam menggapai kesuksesan tersebut. Dalam hal ini, Saya telah menemukan kebiasaan-kebiasaan yang cukup banyak, lalu Saya mulai mengkaji dan menelaahnya, lalu Saya melakukan pembatasan dengan memilih sejumlah kebiasaan saja. Setelah itu, kebiasaan-kebiasaan yang telah Saya pilih ini Saya kaji dan telaah ulang, lalu Saya membuat prioritas dan urutan. Setelah itu Saya mencoba mensinergikan antara sebagian kebiasaan dengan sebagian lainnya, hingga pada akhirnya Saya pun berhasil memilih 10 kebiasaan yang Saya yakini sebagai kebiasaan-kebiasaan manusia yang paling utama dan paling penting. Kebiasaankebiasaan tersebut sangat menentukan keistimewaan dan efektifitas kegiatan seseorang, serta dapat menjadikan kehidupannya lebih menjanjikan, lebih produktif, lebih sukses, dan lebih bahagia.

10 kebiasaan ini merupakan kebiasaan-kebiasaan yang agung dan mulia serta merupakan gabungan antara aspekaspek keimanan, etika dalam bekerja atau menjalankan profesi, serta aspek manajemen, psikologis, dan sosial. Konsep-konsep, latihan-latihan dan contoh-contoh yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiaasan tersebut diilhami oleh filsafat Saya mengenai kebahagiaan dan kesuksesan. Lalu aspek-aspek teoritis dari kebiasaan-kebiasaan itu digabungkan dengan aspek-aspek praktis dan pengalaman lapangan. Sebagian besar pertanyaan yang sering dilontarkan kepada Saya ketika Saya memberikan ceramah-ceramah dan pelatihan-pelatihan adalah tentang hubungan antara buku “7 Kebiasaan” yang ditulis oleh seorang penulis Amerika bernama Stephan Koufi dengan buku “10 Kebiasaan Pribadi Sukses” ini. Maka Saya pun menjelaskan bahwa Saya memang mengambil metode yang digunakan oleh Koufi dalam meraih kesuksesan dan Saya pun banyak terpengaruh oleh mekanisme-mekanisme yang disebutkan di dalam bukunya. Akan tetapi, filsafat sosiologis yang Saya jadikan pijakan sangat berbeda dengan filsafat Koufi, sebagaimana 10 kebiasaan yang Saya lontarkan dalam buku ini bukanlah 7 kebiasaan yang diperkenalkan oleh Koufi, meskipun ada sedikit persamaan atau keserupaan pada 3 kebiasaan. Tidak diragukan lagi bahwa selama beberapa tahun silam, pola pikir Saya telah terpengaruh oleh berbagai tulisan dan pemikiran, sehingga ketika menulis buku ini sangatlah mungkin Saya terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orang lain. Sebab kita adalah manusia, sebagian dari kita belajar dari sebagian yang lain, dan kita pun banyak mengambil pelajaran dari segudang pengalaman yang kita peroleh, lalu kita juga melakukan berbagai eksperimen yang terkadang memiliki hasil yang sama. Jika upaya pencapaian ilmu dan pengetahuan tidak dilakukan dengan metode semacam ini, niscaya kita tidak dapat membangun peradaban manusia dan tidak dapat memindahkannya dari satu generasi ke generasi lainnya.

Karena itu, buku ini datang untuk mengungkapkan sebuah filsafat yang orisinil dan bertujuan untuk membangun dan mengembangkan kepribadian manusia, yaitu filsafat yang didasarkan pada nilai-nilai Islami serta pada sejumlah mekanisme dan keahlian yang dapat membantu dalam menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Hal ini merupakan satu tuntutan yang prinsipil, sebab kita tidak dapat membayangkan kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan ini tanpa adanya nilai-nilai yang agung dan prinsip-prinsip yang permanen. Sebab, Allah SWT telah menciptakan manusia untuk tujuan tertentu sebgaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku” (al- Dzâriyât: 56), kemudian Allah memberikan kebebasan yang sempurna tetapi dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh syari’at dengan tujuan untuk memakmurkan bumi ini dan merealisasikan hasil-hasil yang dapat dicapai sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi ini seorang khalifah.”(al-Baqarah: 30).

Jadi kebahagiaan dan kesuksesan akan datang dalam konteks pengabdian yang sebenarnya kepada Allah SWT dan pemakmuran bumi yang dilakukan dengan cara membangun peradaban manusia yang benar. Dan inilah prinsip utama yang menjadi landasan bagi isi buku ini secara keseluruhan. Prinsip ini menjadi pijakan bagi kesepuluh kebiasaan yang disebutkan dalam buku ini, dimana kebiasaan-kebiasaan tersebut harus dilakukan oleh manusia jika mereka ingin mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan. Buku ini tidak hanya memberikan kepada Anda sejumlah mekanisme saja dan membiarkan Anda dalam kebingungan ketika menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kandungan kesuksesan itu sendiri serta nilai-nilai yang mengarahkan Anda kepada kesuksesan, tetapi buku ini juga memberikan landasan untuk berpijak dan menggambarkan kerangka dari kebahagiaan dan kesuksesan itu kepada Anda, setelah itu buku ini membekali Anda dengan mekanisme-mekanisme yang sesuai sehingga Anda dapat mewujudkan tujuan-tujuan besar Anda dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, tidaklah aneh jika dua kebiasaan pertama dari 10 kebiasaan tersebut mengambil porsi yang cukup besar dari buku ini. Hal ini disebabkan karena kedua kebiasaan tersebut sangat penting dan terkait erat dengan tujuan-tujuan besar. Agar kita dapat mengambil manfaat secara optimal dari buku ini, perlu ditekankan lagi bahwa kesepuluh kebiasaan pribadi sukses tersebut tidak memiliki level yang sama dalam hal urgensi dan prioritasnya. Kebiasaan yang pertama merupakan kebiasaan yang paling penting dan utama, demikian pula dengan kebiasaan kedua, ketiga dan keempat, masing-masing disusun berdasarkan urutan urgensinya. Kemudian dilanjutkan dengan enam kebiasaan lainnya. Keenam kebiasaan ini memiliki tingkat urgensi yang sama, tidak ada maksud tertentu dalam penempatan urutannya melainkan hanya untuk tujuan pengkajian saja. Meskipun Saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk membicarakan kesepuluh kebiasaan tersebut secara seimbang, dimana Saya telah memberikan uraian dan latihan-latihan sesuai kebutuhan, akan tetapi ada sebagian kebiasaan yang memiliki sekala besar, bercabangcabang, dan banyak keahlian yang tercakup didalamnya, sehingga Saya pun terpaksa harus memberikan porsi yang lebih besar daripada kebiasaan-kebiasaan lainnya. Sebagai contoh, kecakapan berkomunikasi merupakan kebiasaan besar yang mencakup berbagai keahlian khusus di dalamnya seperti kepandaian berbicara, mendengar, menulis, membaca, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam mengulas masalah kecakapan berkomunikasi itu, Saya harus memberikan porsi yang lebih besar daripada kebiasaan lainnya seperti kebiasaan berkonsentrasi (fokus). Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa kecakapan berkomunikasi itu lebih penting dan lebih utama daripada fokus, karena pada hakekatnya kedua point tersebut memiliki tingkat urgensi yang sama.

Buku berjudul “10 Kebiasaan Pribadi Sukses” ini berusaha menjelaskan masalah kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan manusia secara komprehensif. Oleh karena itu, buku ini mencakup semua aspek kehidupan manusia baik ketika ia sedang menjalin hubungan dengan sang Khaliq, bekerja atau menekuni profesinya, maupun ketika sedang berinteraksi dengan keluarga dan masyarakatnya. Buku ini bertujuan untuk merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan manusia dalam semua aspek kehidupannya secara seimbang sehingga tidak ada satu aspek pun yang lebih diunggulkan dari aspek-aspek lainnya atau tidak ada satu aspek pun yang ditinggalkan hanya karena ingin mendahulukan aspek yang lain. Dasar Pijakan Buku ini Buku ini ditulis berdasarkan pada sejumlah pijakan, yaitu: Dasar Pertama: Allah SWT telah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan sejumlah kemampuan yang menakjubkan, sumber daya yang terkandung didalamnya,serta potensi yang sangat luas. Sehingga jika manusia berusaha untuk menaklukkan hal-hal tersebut maka ia akan mampu untuk menggali seluruh sumber daya yang dimilikinya dan ia akan sampai pada tingkatan tertinggi dari keimanan, akhlak, sosial, politik, ekonomi dan inovasi. Tetapi jika ia melupakan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya itu, maka ia akan hidup dalam kelumpuhan, tidak produktif dan stagnan.

Dasar Kedua: Manusia adalah makhluk yang diarahkan oleh nilai-nilai, akan tetapi dalam kehidupan sehariharinya, ia lebih sering digerakkan oleh kebiasaankebiasaan tertentu. Kebiasaan-kebiasaan ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu: kebiasaan yang bermanfaat, kebiasaan yang membahayakan, serta kebiasaan yang tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan. Dalam rangka melakukan perubahan yang positif dan mencapai suatu perkembangan dalam hidupnya, baik yang berkaitan dengan urusan pekerjaan maupun kehidupan bermasyarakat, maka manusia harus melakukan kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan, dan tidak berlarut-larut (membuang-buang waktu) dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan, tetapi hendaknya ia berusaha keras untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat. Dasar Ketiga: Ada 10 kebiasaan utama dalam kehidupan manusia dimana apabila ia mau mengenal, membangun, memperkokoh, dan membiasakan diri untuk melakukannya maka kehidupannya akan berubah ke arah yang lebih baik, lalu ia dapat menggali potensi-potensi atau sumber daya-sumber daya yang tertanam dalam dirinya serta –dengan izin Allah- dapat menggapai kebahagiaan dan kesuksesan yang diharapkannya baik dalam berhubungan dengan Tuhannya, dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat, dalam pekerjaan, serta dalam seluruh aspek kehidupannya. Dasar Keempat: Kesuksesan dalam kehidupan manusia hanya dapat dicapai jika ada proses perubahan internal, maksudnya kesuksesan itu dapat Anda peroleh jika Anda mau merubah sikap, mulai melakukan langkah-langkah perubahan sendiri, dan melakukan perubahan tersebut secepatnya.

Buku ini tidak akan memberikan kesuksesan kepada Anda, melainkan hanya menjelaskan metode untuk mencapai kesuksesan tersebut. Oleh karena itu, 10 kebiasaan yang dimaksud dalam buku ini merupakan sebuah evaluasi terhadap kemampuan Anda dalam melakukan perubahan serta kesiapan Anda untuk menggali sumber daya-sumber daya yang
tersimpan dalam diri Anda. Ia merupakan kunci yang berada di hadapan Anda. Anda dapat mengenalnya lalu meninggalkannya begitu saja, dan Anda pun dapat mengenalnya lalu menjadikannya sebagai bagian dari harta Anda yang sangat mahal yang akan selalu Anda pergunakan untuk membuka “pintu-pintu” kehidupan sehingga Anda dapat berjalan menuju kesuksesan. Ketahuilah bahwa pemain utama dan orang yang paling berperan dalam kehidupan Anda adalah diri Anda sendiri.

Perkenankanlah Saya membantu Anda untuk menemukan diri Anda sehingga Anda dapat mengenalinya: Apakah Anda memiliki kemampuan untuk memegang tekad, menundukkan diri Anda sendiri serta menggerakkan kedua kaki Anda untuk melakukan langkah-langkah pertama dari proses perubahan yang positif? Sebagian orang mungkin memiliki tingkat kecerdasan yang rendah, kemudian ia memilih untuk bersikap malas, suka menyepelekan, dan menyerah begitu saja dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan.

Tetapi ada pula sebagian orang yang berjiwa rajin dan aktif, percaya pada Tuhannya dan selalu berusaha untuk memanfaatkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Lalu, termasuk tipe manusia yang manakah diri Anda? Pada awalnya, mungkin Anda akan mengalami kesulitan, akan tetapi Anda pasti akan mengetahui dan mengenali diri Anda sendiri jika Anda telah membaca buku ini. Jika Anda termasuk tipe yang pertama, kemudian Anda mau berinteraksi dengan buku ini secara serius, maka 10 kebiasaan tersebut akan merubah kehidupan Anda secara sempurna sehingga Anda akan mulai memasuki tahap kehidupan baru dimana didalamnya terjadi perubahan internal dan perkembangan kepribadian. Lalu Anda akan mengetahui titik-titik kekuatan dan kelemahan dalam diri Anda, sehingga Anda dapat memanfaatkan aspek-aspek kekuatan tersebut dalam rangka merealisasikan tujuantujuan Anda, kemudian Anda akan membersihkan diri dari titik-titik kelemahan yang ada, atau paling tidak Anda dapat mengetahuinya sehingga titik-titik kelemahan tersebut tidak akan menjadi “batu” yang menghalangi jalan Anda. Tetapi jika Anda termasuk tipe yang kedua, maka Anda akan mengetahui bahwa sebagian kesuksesan dan prestasi yang Anda peroleh, selain atas izin Allah SWT, juga memiliki kaitan erat dengan salah satu kebiasaan (atau bahkan lebih) dari 10 kebiasaan tersebut. Buku ini juga akan membantu Anda untuk mengenal lebih banyak tentang diri Anda sendiri dan membantu mewujudkan kesuksesan-kesuksesan baru selain kesuksesan yang telah Anda peroleh. Apakah Anda mampu menjawab tantangan yang diberikan oleh buku “10 Kebiasaan” ini? Jika Anda seorang yang percaya kepada Tuhan, percaya diri, mengharapkan masa depan yang baik dan menginginkan perubahan yang positif, maka peganglah erat 10 kebiasaan ini, kenalilah dengan baik dan praktekkanlah secara perlahan-lahan dalam kehidupan Anda. Tetapi jika rasa percaya diri Anda lemah dan Anda sendiri tidak yakin dengan kemungkinan terjadinya perubahan dalam diri Anda, maka terkadang membaca buku “10 Kebiasaan” ini tidak akan bermanfaat bagi Anda, karena Anda hanya akan berputar-putar pada sebuah lingkaran kosong.

Di antara hal yang membuat Saya senang selama beberapa tahun silam –tepatnya sejak Saya mulai memperkenalkan pelatihan mengenai 10 kebiasaan pribadi sukses ini— adalah ketika Saya mendengar respon dari para peserta pelatihan beberapa jam setelah mereka mengikuti pelatihan tersebut. Sebab, ternyata pikiran-pikiran mereka mulai terpengaruh dengan konsep-konsep yang disampaikan pada pelatihan, lalu mereka melakukan aktifitas evaluasi personal dan mulai bercakap-cakap dengan diri mereka sendiri. Pada saat itu, Saya mendengar jawaban-jawaban dari pertanyaan yang biasa Saya lontarkan kepada mereka pada hari kedua dari pelatihan tersebut, pertanyaan itu adalah, “Apa langkah yang telah Anda lakukan dalam jangka waktu 24 jam yang lalu yang berkaitan dengan program pelatihan ini?” Sebagian besar komentar yang sampai kepada Saya mengisyaratkan bahwa mereka sudah mulai melakukan perubahan internal, dan inilah yang menjadi tujuan dari pelatihan tersebut. 


next to 10 Kebiasaan Pribadi yang Sukses (part 2)
A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter