Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Senin, 03 Juli 2017

Kota Luar Angkasa (Bagian Tujuh)

http://www.bookcyrcle.com
Layar di tembok berbunyi.
Tom meletakkan alat pembaca videotape yang mempertunjukkan suatu halaman dari: Stress Analysis Factors in Metallic Substances  Formed in Gravitationless Environments (= Faktor-faktor Analisis Tegangan pada Unsur-unsur Logam Yang Terbentuk dalam Lingkungan Tanpa Gravitasi). Ia lalu memungut remote control video-radionya. Layar yang besar segera berkedip-kedip, menampakkan gambar wajah Benyamin Franklin Walking Eagle yang sangat besar. "Halo, Ben!" sambut Tom. 

Pemuda berambut hitam itu tertawa. "Haa! Suaramu terdengar bergairah!"
Tom tersenyum kecut dan mengangguk. 

"Aku kira, engkau telah terlalu mengurung diri di sana karena menjadi
detektif ilmu!" 

"Aku hanya hendak mengetahui apanya yang salah," jawab Tom. 

"Gremlins

" kata Ben berwibawa, "mereka bermigrasi ke ruang angkasa kira-kira bersamaan dengan kami." Senyumannya memudar. 

"He, dengar! Kau harus keluar. Paling tidak untuk sejenak. Pernah kau main bola tangan dalam gravitasi nol?"

Layar di tembok berbunyi.
Tom meletakkan alat pembaca videotape yang mempertunjukkan suatu halaman dari: Stress Analysis Factors in Metallic Substances Formed in Gravitationless Environments (= Faktor-faktor Analisis Tegangan pada Unsur-unsur Logam Yang Terbentuk dalam Lingkungan Tanpa Gravitasi). Ia lalu memungut remote control video-radionya. Layar yang besar segera berkedip-kedip, menampakkan gambar wajah Benyamin Franklin Walking Eagle yang sangat besar. 

"Halo, Ben!" sambut Tom. 

Pemuda berambut hitam itu tertawa. "Haa! Suaramu terdengar bergairah!"
Tom tersenyum kecut dan mengangguk. 

"Aku kira, engkau telah terlalu mengurung diri di sana karena menjadi
detektif ilmu!" 

"Aku hanya hendak mengetahui apanya yang salah," jawab Tom.
"Gremlins

" kata Ben berwibawa, "mereka bermigrasi ke ruang angkasa kira-kira bersamaan dengan kami." Senyumannya memudar. 

"He, dengar! Kau harus keluar. Paling tidak untuk sejenak. Pernah kau
main bola tangan dalam gravitasi nol?"
                                                          

 Sosok monster pengacau dalam sebuah film horror amerika berjudul: Gremlins
"Belum!" 

Tiba-tiba saja timbul gagasan untuk melakukan sedikit olahraga.
Meskipun ia bukan seorang olahragawan yang fanatik, tetapi ia
menggemarinya. 

"Engkau mengajakku?" tanya Tom. 

"Ya, tentu. Kita bertemu di terminal sepeda udara. Itu di ujung
selatan!" 

"Duapuluh menit lagi?"
"Oke!" 

Ben melambaikan tangannya. Layar memudar menjadi coklat kehijauan. Tom melintas kamar tamu sambil membuka baju. Ia masuk ke dalam kamar mandi elektronik dan menekan tombol. Enambelas buah kerucut-kerucut kecil membersihkan tubuhnya yang atletis itu dengan gelombang-gelombang yang tidak terdengar. Semua unsur-unsur asing yang menempel pada tubuhnya diberi muatan negatif, dan seketika itu pula berlompatan ditarik oleh jalur-jalur bermuatan positif yang terdapat pada dinding-dinding kamar mandi. Segera iamerasakan badannya bersih dan segar. 

"Memang bukan seperti mandi air panas," pikir Tom, "tetapi yang
jelas sangat menghemat air dan tenaga." 

Ia mematikan alat tersebut. Lalu ia keluar dan masuk ke kamar ganti pakaian mengenakan jumpsuit warna putih. Ia memakai sepatu yang telah usang, tetapi enak dipakainya. Segera ia meninggalkan kamar tidurnya. 

Gedung-gedung yang seperti barak terletak tidak jauh dari tempat trem, yang dengan teratur berjalan mengelilingi bagian sisi dalam koloni. Ini segera melompat naik. Tangannya berpegangan ketika kendaraan itu mendengung di sepanjang "jalan besar" dari ujung yang satu ke ujung yang lain koloni tersebut. 

Seseorang yang duduk di dekatnya sedang membaca koran. Tom dapat melihat beberapa gambar foto Queen Victoria, yaitu sebuah istana terapung, pabrik dan penangkap ikan di Samodra Indonesia. Dengan ukuran keliling yang dua per tiga kilometer, bangunan itu
mengangguk-angguk anggun di lautan hampir kebal terhadap ombak. 

Layar memperlihatkan di bawah kapal itu ada kapal-kapal yang berbentuk seperti kapal ruang angkasa yang menggiring ikan-ikan dengan alat-alat sonik. Dan lebih dalam lagi terdapat robot-robot yang menambang bijih logam dari dasar laut. Sementara robot-robot lain sedang membangun sebuah "kepompong plastik" di sekeliling sebuah kapal dari abad tujuhbelas, yang kemudian akan diangkat ke atas. 

Kemudian pembaca berita itu berpindah ke sebuah laporan tentang munculnya kembali balapan mobil berkecepatan tinggi, dan juga tentang efisiensi mesin-mesin turbin. Perhatian Tom jadi buyar. Ia memandangi pemandangan koloni yang sedang dilewati.
"Di sinilah terletak hari kemudian," pikir Tom. "Di sini dan di Sunflower dan di atas kapal Daniel Boone." 

Ruang angkasa merupakan daerah perbatasan akhir, dan ia ingin menjadi bagian dari perbatasan tersebut. Tetapi awalannya. ternyata buruk. Itu akan menjadi semakin buruk apabila ia tidak mampu memecahkan masalah-masalah yang telah terjadi, untuk kemudian memperbaikinya. 

Tom melompat turun dari trem. Ia lalu menaiki tangga dengan cepat,keadaan gravitasi makin turun setiap naik satu anak tangga. Sangat menggembirakan untuk dia karena belum terbiasa  dengan hal itu. 

Ketikaa kakinya sudah tidak menginjak lantai dengan sebenarnya, ia mendorong tubuhnya meluncur dengan menggunakan tiang-tiang tangga sebagai awalan. 

Ia berhenti sejenak, mengambil napas dan memandangi lagi bagian New America yang ada di atasnya. Di sini bukan Bumi, dan sangat mengharukan, bahwa mereka dengan nyata-nyata menirunya. Bukit-bukit kasar di setiap ujung, sungai-sungai, danau-danau, taman-taman dan jalan-jalan raya. Sebuah Bumi tiruan, diberi pola dan dirawat. 

Tidak ada ular yang harus dilempar keluar dari taman firdaus, dan tak seekor pun dibiarkan masuk. Demikian juga serangga yang mengganggu atau merugikan. Lebah? Ya, demi untuk penyerbukan bunga-bunga. Cacing tanah dan beberapa jenis bakteri yang membuat batuan Bulan yang steril itu menjadi subur. Burung-burung dan musuhnya, kucing. Kucing memang banyak, tetapi anjing hanya satu-dua ekor. Beberapa kura-kura peliharaan, beberapa jenis keong dan seekor kera berlengan panjang, dan kacoa! 

Tom menyeringai. Kacoa di ruang angkasa. Gagasan itu sebenarnya tidak dapat diterima. Tetapi kenyataannya ada kacoa di New America. 

Serangga itu memang selalu bersama manusia sejak zaman purba. 

Serangga itu ditemukan di Kutub Selatan, di Gurun Gobi, di hutan belantara dan di gunung-gunung yang tertinggi. Bahkan ke ruang angkasa yang beku dan di kehampaan yang mematikan, kacoa telah pula mengikuti manusia. Ke mana pun perginya….. 

Tidak ada satu pun cara pembasmian yang mampu menghilangkan hewan pengganggu itu. Bahkan untuk menangkap hewan itu dilombakan dengan disediakan "hadiah". (Serangga itu ditangkap untuk memberi makan laba-laba di dalam laboratorium percobaan, atau diawetkan ke dalam gumpalan plastik dan dijual sebagai souvenir). 

Tom mengangkat bahu. Ia mulai lagi mendaki dan mendorong tubuhnya maju. Hal itu kini dirasakannya sebagai pekerjaan yang biasa. Ia telah tiba di geladak tempat sepeda udara, dan saat itu pula melihat Ben Eagle berdiri dan bercakap-cakap dengan dua orang.
Tetapi ketika Tom sudah lebih dekat lagi, ia mengetahui bahwa Ben sedang berdebat. Lawan berdebatnya itu ternyata si rambut merah Anita Thorwald yang tak tetap pendiriannya. Mereka berhenti ketika Tom mendekat dengan lompatan-lompatannya yang lebar. Tom salah memperhitungkan kecepatannya, dan Ben harus menangkapnya sebelum Tom menabrak tempat sandaran sepeda udara. 

"Waduh!" seru Ben tertawa, dan Tom meminta maaf. 

"Maaf. 'Berenang' dalam gravitasi nol ini belum juga terbiasa bagiku."
Anita mendengus, berpegangan sedikit pada sebatang tiang. "Ha,
engkau menyelonong seperti kebiasaanmu, ya? Menabrak-nabrak
seenaknya ya Swift?" 

Tom menahan diri, tidak mempedulikan. "Aku Tom Swift," ia memperkenalkan diri kepada teman Anita. 

"Mark Scott," balas pemuda itu. Tubuhnya sedikit kegemukan dengan dada yang bulat. Tetapi ia tersenyum ramah. 

"Kukira engkau telah kenal Anita Thorwald," kata Ben tersenyum tipis. "Salah seorang penganjur yang banyak membicarakan ruang angkasa bagi para Ruang-angkasawan." 

Si rambut merah menatap Ben dengan matanya yang lebar. Pemuda Indian itu membawa Tom ke tiang yang akan membawa mereka dari geladak ke sebuah kubah geodesik pada titik tengah sumbu membujur, di mana gravitasi adalah paling rendah. 

"Aku sudah pesan tempat bagi kita untuk satu jam," kata Ben. "Tetapi kita harus menunggu beberapa menit dulu. Sambil memberi kesempatan bagimu untuk melihat bagaimana harus melakukannya." 

"Ha, maksudmu Swift tidak langsung masuk dan mulai pertandingan bola tangan?" Anita menggerutu. 

Ben membawa Tom pada sebuah jendela dari jembatan tangga yang mengelilingi ruangan yang bulat itu. Jembatan-jembatan tangga itu terbuat dari batang-batang logam yang ringan, yang dipasang silang menyilang di seluruh permukaan luar ruangan berbentuk bola itu. Jendela-jendela berbentuk segitiga terpasang ke dalam pola, dengan cara saling menutup batang-batang penguat. 

Di dalam, Tom melihat sebuah regu empat orang yang sedang bermain dengan giat. Seluruh permukaan bagian dalam bulatan itu licin rata, hanya diseling-seling oleh jendela-jendela segitiga tersebut. 

Seluruhnya dibagi menjadi blok-blok yang dicat dengan warna hijau, biru, kuning dan hitam. Sebuah garis tebal membagi dua ruangan bulat  itu menjadi dua buah setengah bulatan. Para pemain yang mengenakan jumper ketat melompat-lompat dan berlari-lari melintasi garis tersebut. 

Olahraga itu sangat menarik, memungkinkan para pemainnya melakukan gerak-gerak yang rumit-rumit, yang tak tertandingi oleh para pemain yang paling top profesional yang masih terikat oleh gravitasi Bumi. 

"Ben menunjuk: "Blok yang hitam itu adalah batas luar. Di bagian bawah setiap blok itu terdapat permadani sensor elektronik, hingga tak ada masalah lagi untuk menyebutkan setiap tembakan. Blok kuning memberikan hukuman dua angka. Hijau dan biru tergantung dari regu mana kita berada. Satu angka hukuman bila mengenai warna lawan.
Bola harus memantul dinding lengkung yang berlawanan dari mana dimulai."
"Bolanya juga ada sensornya?" 

Ben mengangguk. "Bola dapat mengenai daerah blok hitam, dan di tengah-tengah merah terdapat garis halus sensor. Jadi tak memerlukan wasit yang rnenyebutkannya." Ia tersenyum kepada Tom. "Tidak seperti permainan squash atau bola tangan di Bumi, ya?" 

Tom berkata: "Tidak sama persis." Ia tersenyum. "Apa yang engkau perdebatkan dengan si rambut merah tadi?" 

"Engkau," kata Ben biasa-biasa saja. "Kukira ia menganggap kepalamu ada di ujung jarum. Ia tak dapat dimasukkan ke dalam kelompok pencintamu."
"Aku bahkan tidak ada di antara pencintaku sendiri," jawab Tom.
"Setidak-tidaknya hari-hari belakangan ini." 

"Ah, Tom, mengapa kamu tidak….." 

"He, teman-teman," seru Mark. Regu yang bermain telah selesai, dan orang yang terakhir sedang meloncat memantul dari dinding, melayang indah ke arah pintu katup yang berbentuk segitiga. Ia lalu membukanya. 

"Mari! Ini tentu akan menyenangkan," kata Ben. 

Mereka melayang masuk ke dalam ruangan berkubah bulat itu, dan Tom melihat teman-temannya melakukan jungkir-balik di udara, dan jatuh pada kedua kaki di dinding yang berlawanan. Kemudian memantul ke tengah-tengah dengan gerakan yang terkontrol baik.
Mereka melayang-layang, menunggu Tom. 

Tom mengambil awalan dan mencoba berjung-kir-balik seperti   mereka. Tetapi ia telah mengambil awalan yang terlalu kuat, dan mendekati tembok yang ada di depannya dengan lebih cepat daripada yang diperkirakan. Ia membentur dinding dengan keras, menimbulkan rasa sakit kembali pada pahanya yang terkena pukulan. Ia memantul
buruk di dalam ruangan. Anita tertawa dan tidak berusaha untuk menyembunyikan rasa senangnya. 

"Tutup pintu," kata Ben, dan alat-alat otomatisnya segera mematuhinya. "Siap, Tom?" tanya Ben. "Engkau dan aku adalah alpha, Anita dan Mark Omega. Jangan menyentuh blok biru. Siap?" "Ya, aku akan berusaha sebaik mungkin," kata Tom, dan Anita
tertawa terkekeh-kekeh. 

"Bola mulai," kata Ben. 

Sebuah tingkap bulat kecil terbuka, tepat pada garis merah, dan sebuah bola hitam memantul ke luar. Sebuah tape dengan nomor serampangan mengatur suatu ketidakseimbangan, yang melemparkan bola itu ke kiri atau ke kanan garis merah. 

"Bola kita," kata Mark. Bola memantul kembali dan Anita berjungkir-balik di udara dan tepat pada waktunya memukul bola, hingga dengan sempurna melintas setengah bulatan ruangan. Tenaga balik yang sama besarnya terhadap gerak dan pukulannya mendorong dia kembali. 

Dengan salto ke belakang ia mendarat, kedua kakinya mengangkang menginjak dua titik sudut sebuah segitiga hitam, kemudian mundur dengan gerakan yang halus. 

Bola itu melaju mengarah Tom demikian tiba-tiba. Untunglah ia telah biasa bermain bola tangan yang cepat di Bumi. Sedang yang belum biasa ialah tidak adanya gravitasi untuk pijakan awal. Ia melambung dan mengayunkan tangan ke arah bola tersebut, tubuhnya mental tidak berdaya. Dengan kalang kabut ia memutar-mutarkan tubuhnya untuk
memperoleh kembali keseimbangan. Ia hanya berhasil menemukan perasaan salah arah dan jatuh bergulingan. Ia memantul dari segitiga hijau serta menyelonong ke sisi, meluncur tak terkendali hingga bahunya mengenai segitiga biru. Ia mendengar suara halus bunyi bel, dan melihat wajah Anita menyeringai. 

Malu, bingung, dan kecewa Tom kembali berdiri tegak dan menggeser di lantai, tepat ketika bola hitam itu mendesing mendatangi dari arah Mark. Ia memukulnya, mengembalikan bola itu dengan mendesing. Tetapi ketika ia terdorong ke belakang karena kekuatan bola itu dan pukulannya sendiri, ia mendengar Ben mengeluh: "Bola itu tak
memantul pada dinding sebelah sana, Tom." 

"Memukul ketika bola masih panas, ya Tom?" Anita mengejek. 

Tom melayang berputar sejenak, kemudian membentur dinding dan kakinya menginjak sebuah segitiga biru lagi. Mereka telah ketinggalan enam angka ketika Ben berhasil mendapat angkanya yang pertama. 

Kemudian Tom membuat yang lain-lain terkejut, termasuk ia sendiri. 

Dengan keahlian yang sangat tinggi ia mengarahkan bola di antara Mark dan Anita, dan memantul ke arah yang tak dapat mereka capai. Tetapi itulah angkanya yang terakhir. Game pertama menunjukkan angka 12 lawan 4, sedangkan game kedua tidak lebih baik pula Mereka beristirahat dan Ben memesan minuman. Sebuah pintu kecil terbuka, dan sebuah alat mengeluarkan bola-bola plastik berisi air dingin beserta sedotannya. Tom berpikir, air di dalam gelas mungkin akan tumpah melayang, karena terikat oleh tekanan pada permukaannya. Maka dari itu cara terbaik untuk minum ialahmenyedotnya. 

"Mereka telah menggilas kita, Tom," kata Ben ramah.
“Semua itu salahku," kata Tom. Ia menggeleng lesu. Semua serba salah! Bahkan berhubungan dengan ayahnya saja ia tak dapat. "Ah, baru pertamakali!" kata Ben. "kalau engkau melihat ketika aku baru mulai belajar main! Aku mengepak-ngepakkan kedua lenganku seperti seekor itik. Hampir saja bahuku keseleo untuk menghindari segitiga hitam. Dengar, engkau lebih cepat bisa daripada aku setelah main beberapa game. Jelas, engkau mempunyai bakat. Setelah main beberapa puluh kali lagi, engkau akan menjadi pemain terbaik di sekitar ini." 

"Jangan mencoba menghiburku, Ben. Aku hanya bagaikan sebongkah semen yang berterima-kasih. Kaulihat bagaimana Anita menjaga keseimbangan tubuhnya? Itu tarian balet yang murni! Ini merupakan permainan yang paling indah dan paling cepat di seluruh tatasurya." "Memang,'' Ben membenarkan. "Tetapi jangan merendahkan dirimu sendiri. Engkau sudah makin meningkat daripada game yang pertama. Apakah engkau telah berani memikirkan membuat salto ke belakang ketika engkau baru masuk kemari tadi?" 

Tom menggeleng. "Kurasa aku tidak menjadi semakin baik. Mark dan Anita telah mempermainkan aku. Lebih baik engkau mencari pasangan lain." 

"Tidak bisa, Tom. Kita akan memesan tempat lagi besok dan berlatih. Akan kutunjukkan kepadamu, bagaimana cara mengatur pantulanmu ke arah yang ingin kaumasuki. Oke?" Ia tersenyum. "Dengar, setelah bermain seratus kali seperti aku, engkau akan dikirim ke gelanggang Olimpiade!" 

Tom menatap temannya. "Aku tak tahu bahwa bola tangan gravitasi nol telah menjadi acara Olimpiade." 

"Memang belum. Tetapi seharusnya dimasukkan. Dan kukira tentu akan dimasukkan pada suatu ketika. Aku punya teman di bagian telekomunikasi, yang berusaha untuk melakukan pertandingan pada World Network pada Pekan Olah-raga yang akan datang. Sekali orang
melihatnya kita bermain tentu segera akan menjadi populer." 

"Hanya di ruang angkasa, Ben. Ini hanya suatu permainan tontonan bagi 99% penduduk." 

"Demikian juga hockey, catur atau Tunggu dan lihatlah. Nah, sudah siap untuk bermain lagi?" 

Tom mengangkat bahu lalu melayang jauh dari otomat minuman. 

"Tentu. Mengapa tidak? Tak ada yang lebih menyenangkan daripada
menghantamkan wajahku ke tembok!" 

Tom dan Ben hanya kalah empat angka pada permainan ketiga, dan pada permainan keempat tiga angka. Mungkin tidak semuanya buruk, pikir Tom ketika keluar dari tempat rekreasi itu. "Mungkin aku harus mental dulu dan memulai lagi dari bawah," pikirnya.

selanjutnya
sebelumnya

Comments
0 Comments
Tidak ada komentar:
Write komentar

A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter