Budayakan Membaca Ilmu Pengetahuan

Rabu, 12 Juli 2017

Benteng Astral bagian satu

Benteng Astral bagian satu
"Sadarkah kalian bahwa belum ada manusia lain yang pernah melakukan apa yang akan kita laksanakan ini?" Tom Swift, berpaling dari papan pengontrol ruang angkasanya, Exedra, kepada teman-temannya. 

  Para awak memandangi dia dengan tegang. Masing-masing tahu, bahwa mereka akan menghadapi suatu bahaya yang belum mereka ketahui, walau mereka menaruh kepercayaan besar kepada
ahli penemu muda itu. 


  "Aku tahu, kita telah berhasil menggunakan alat stardrive untuk meloncat dari tatasurya Bumi ke susunan Alpha Centauri melalui ruang angkasa luar," Tom menjelaskan. "Tetapi untuk kembali ke bumi, mungkin akan berbeda!" 


  "Aku tak melihat perbedaannya," kata Kate Reiko One Star. Gadis Indian cantik jangkung, dengan mata agak sipit sebagai warisan ibunya yang berbangsa Jepang, membetulkan letak duduknya. "Memang, aku bukan ilmuwan seperti kalian. Tetapi bukankah meloncat menembus batas ruang itu, hanyalah menembus batas ruang?" 


  "Tidak persis begitu," kata sepupunya, Benyamin Franklin Walking Eagle. "Harap kauketahui, kita telah menguji alat stardrive dengan awalan kondisi tatasurya kita sendiri. Tetapi kondisi tatasurya di Skree berbeda. Sesuatu yang berhasil di tempat tertentu, belum tentu akan berhasil di tempat lain." 


  "Tetapi di lain pihak, kita memperoleh saran-saran ahli dari bangsa yang pertama kali menemukan alat stardrive itu, yaitu bangsa Skree sendiri," sambung Tom. 


  Semua menoleh ke makhluk asing, yang akan merupakan makhluk luar Bumi pertama yang mendarat di Bumi. Itu semua, kalau loncatan menembus batas ruang angkasa luar itu berhasil!   Mok N'Ghai, seorang perwira ketentaraan Skree, yang juga teman pribadi keluarga Kerajaan, bentuk tubuhnya seperti serangga raksasa setinggi dua meter lebih. Tetapi semua yang ada di pesawat itu mengagumi kecerdasan dan keanggunannya. Bertempur bersama pasukan Skree melawan musuh bangsa Chutan, telah meyakinkan mereka bahwa bentuk tubuh tidaklah terlalu penting. Makhluk asing yang sedang membetulkan letak duduknya itu hanya mengangguk. 


  "Tom! Perhitungan terakhir telah diperiksa tiga kali. Semua sistem beres." Aristotle, robot buatan dan kesayangan Tom memutar kepalanya seratus delapanpuluh derajat. Mata kameranya berkilat di wajah Tom. "Biarpun aku secara teknis tak punya suara dalam hal ini, aku harus mengatakan: setuju atas pendapat umum. Aku ingin sekali kembali ke tempat aku dilahirkan….eh…dibuat!" 


  Semuanya tertawa, dan Ben meletakkan tangannya pada terminal komputer. "Kita telah melaksanakan persiapan awal," katanya. "Belum pernah kita melakukan persiapan seperti sekarang ini!" 


  Tom berpaling kepada salah seorang awak yang sampai kini belum ikut berbicara. "Anita! Apakah engkau setuju?" ia bertanya. 


  Mata indah dari si rambut merah bersinar penuh gairah. "Sudah tentu! Tunggu apa lagi?" 


  "Oke, Ben," kata Tom kepada co-pilotnya. "Mulailah hitungan untuk pelaksanaan star drive!” 


  Ahli teknik komputer muda itu melepaskan sebuah handel hitam kecil. Semua orang bersandar pada kursi berlapis masing-masing sambil menahan napas. 


  "Tigapuluh detik menjelang loncatan menembus batas angkasa luar," terdengar dari sistem peringatan otomatis. 


"Duapuluhsembilan… duapuluhdelapan…duapuluhtujuh…" 


  Tom tersenyum kepada Ben sambil mengacungkan ibu jarinya ke atas. 


  Ben membalas senyuman itu, tetapi tak kuasa menahan timbulnya keringat di atas bibir atasnya. 


  "Limabelas detik ... empatbelas tigabelas….duabelas…" Suara itu mendengung terus dengan nada datar. 


  Seribu satu pikiran muncul di benak Tom. Sebagai kapten dari Exedra, ia bukan saja harus bertanggungjawab atas kapal ruang angkasa itu, tetapi juga atas mati-hidup para awaknya! Bagaimana kalau perhitungan mereka salah? Kesalahan yang terkecil pun dapat berarti, bahwa mereka tak akan sampai di tatasurya Bumi! Bisa saja itu berarti, bahwa mereka akan tiba di salah satu bagian ruang angkasa luar yang sedemikian jauhnya dari bumi, hingga tak mungkin lagi menentukan arah pulang ke Bumi. Mereka akan hilang untuk selama-lamanya; tak dapat berhubungan dengan saudara dan teman-teman. 


"Sudahlah!" ia berpikir tegas. "Berkonsentrasi! Siaplah menghadapi gaya gravitasi yang akan menghimpit dan memeras segala napas dari tubuh!" 


  "Lima detik..empat…tiga..dua…satu. Masuk stardrive! " 


  Tiba-tiba Tom merasakan tekanan yang makin tak tertahankan di belakang matanya yang tertutup rapat. Bagaikan hendak gila rasanya! Ia memaksakan diri untuk membuka matanya, dan mengamati angka-angka di layar papan pengontrol. Tak ada gunanya mempelajari indikator-indikator yang berubah demikian cepatnya! Demikian memasuki ruang angkasa bergravitasi nol, Instrumen-instrumen kapal ruang angkasa itu seperti sudah menjadi gila! Tom menghitung detik-detik yang berlalu itu dengan diam-diam, dan berusaha keras untuk tetap sadar. Meloncat menembus batas ruang angkasa luar adalah seperti gambaran pada film negatif. Semuanya serba terbalik. Hitam menjadi putih, atas menjadi bawah, dan segala-galanya bergerak, meloncat sedemikian cepatnya, hingga tak mungkin melakukan pengukuran-pengukuran. Semuanya seperti diputarbalikkan. 


  Tubuh Tom terasa sakit-sakit, telinganya mendenging. Ia berjuang keras untuk tidak menjadi mabok. 


Tepat pada saat ia hendak jatuh pingsan tiba-tiba segalanya telah berlalu! Rasa sakit dan mual lenyap seketika. Apa-apa yang ada di sekelilingnya mulai dikenalinya kembali. 


  "Sudah sampai!" seru Ben. Ia segera mulai mengerjakan kunci-kunci komputernya. "Aku hendak memeriksa, untuk mengetahui di mana kita sekarang." 


  "Wow! Kukira aku tak mungkin dapat membiasakan diri pada pengalaman ini!" kata Kate. 


  "Aku juga tidak," Anita mengiakan. Ia mengibaskan rambutnya yang merah panjang. Tetapi tentu saja aku gembira telah berhasil!" 


  Tom memeriksa apa yang nampak pada layar di depannya. 

"Kita masih ada di luar gugusan asteroid." Ia tertawa. "Kubilang, kita belum sampai tujuan!" 

  "Tetapi alat-alat navigasi telah terpadu pada Matahari," kata Ben. "Kalau semuanya normal, kita akan sampai di rumah sebelum kita menyadarinya." 


  "Engkau mengatakan Matahari?" tanya Anita. "Apakah engkau tak dapat membiasakan diri untuk mengatakan Matahari Kita atau Sol? Kata Matahari seolah-olah menunjukkan hanya ada satu Matahari di ruang angkasa. Kita kan baru saja kembali dari rasi bintang lain yang juga mempunyai Matahari-matahari sendiri? Di mana ada makhluk-makhluk cerdas lain yang juga mengitari Matahari-matahari tersebut? Kita harus mulai menyebut segalanya secara lebih terperinci menurut sebutannya yang tepat!" 


Si rambut merah melepaskan topi pilotnya, lalu menggeliat meregangkan tubuhnya. Pesawat Exedra terlalu kecil untuk dilengkapi alat gravitasi buatan. Karena itu, gerakan-gerakan tersebut menyebabkan si rambut merah mental melayang ke luar dari kursi berlapisnya. Karena Anita memang ahli terjun bebas, ia tak suka memakai scpatu pemberat atau sepatu magnetik di dalam pesawat. Sebaliknya, kini ia melingkarkan tubuhnya meringkuk seperti bola untuk dapat mengendalikan dirinya. Kemudian ia meluruskan tubuhnya sambil meraih batang pegangan pada dinding pesawat. 


  Ben mengamati sambil tersenyum. "Engkau memang tidak sederhana dan rumit seperti kemauanmu! Aku hanya seorang anak kota kecil. Hampir tak sabar lagi untuk bertemu keluarga, duduk di meja makan menikmati masakan ibu!" Ia memandang ke arah Mok N'Ghai dan wajahnya menjadi merah. "Itu bukan berarti, bahwa makanan di planetmu Kosanth tidak enak masakannya, lho!" ia cepat-cepat menyambung. 


  Tom melirik ke prajurit bangsa Skree itu. Makhluk Skree yang cerdas itu bentuk tubuhnya seperti seekor belalang sembah setinggi dua meter lebih, adalah sesuatu yang pada akhirnya harus mereka biasakan. Setidak-tidaknya, hampir terbiasa! Mungkin tak ada manusia yang benar-benar terbiasa pada makhluk setengah serangga yang jangkung dan cerdas serta menarik. Rasa xenophobia yang mula-mula menghinggapi diri sewaktu Tom bertemu makhluk Skree tersebut, semakin berkurang setelah mengalami petualangan-petualangan bersama Mok N'Ghai. 


  "Aku dapat memaklumi perasaanmu, Ben," kata prajurit Skree itu. Ia menggerak-gerakkan rahangnya yang menandakan rasa senang. "Aku pernah terdampar beberapa jam pada sebuah planet kecil tak terkenal, sewaktu pesawat shuttleku mengalami kerusakan. Makanan yang tersedia pada waktu itu ternyata makanan kegemaran di planet tersebut. Penduduk asli menyebutnya "lapchis" kukira. Sayang sekali, bagiku rasanya seperti tanah liat dicampur minyak pelumas! Betul,
makanan itu memang tak berbahaya, dan aku juga makan sedikit demi kesopanan. Tetapi bagaimana pun aku senang sekali ketika tiba kembali di pesawat induk!" 


  Semua tertawa, dan Mok N'Ghai meneruskan eeritanya. "Aku segera memesan seporsi sayur-sayuran kegemaranku, dan makan seperti orang yang kelaparan setelah beberapa hari tidak makan!"


Makhluk asing itu menggunakan alat TTU (eTcacher-Translator Unit)

yang langsung menterjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Skree. Yang menemukan alat tersebut adalah Tom, dan telah memecahkan masalah bahasa yang mereka hadapi dalam penjelajahan mereka di ruang angkasa luar. Mcreka menggunakan alat tersebut untuk berkomunikasi dengan makhluk Skree itu, dan hasilnya sangat memuaskan. 


  Keistimewaan dari alat itu ialah kegunaannya yang ganda. Dalam proses penterjemahan sekaligus menafsirkan apa saja yang dikatakan ke dalam alat tersebut ke bahasa si pemakai. Tetapi alat itu
juga memberi cara belajar, untuk mengajar pemakainya tentang lafal yang belum dikenalnya dengan cara yang cepat. Mok N'Ghai memang mengerti bahasa Inggris meskipun lafal aslinya sangat jelas.


  Makhluk asing itu berkata perlahan-lahan agar dapat mengucapkannya dengan benar. Tom memuji kemajuannya yang pesat. Struktur dari wajah dan rahang bangsa Skree memang dimaksudkan untuk mengucapkan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa-bahasa yang ada di Bumi. 


  Tom sendiri harus berusaha keras untuk dapat berbahasa Skree. Ia dapat berbicara dengan kalimat-kalimat sederhana, dan berusaha keras untuk menambah perbendaharaan kata-katanya. Hal itu tidak
sesulit belajar bahasa Inggris. Tetapi Tom juga menghadapi kesulitan seperti yang juga dihadapi oleh Mok N'Ghai. Ia pernah mengatakan kepada Ben: "Seperti harus berbicara sambil minum, atau menirukan tekur burung dara!" 


Perhatian Tom terarah pada Mok N'Ghai, yang sedang sibuk dengan kaitan tali helmnya. Helm itu memang dibuat untuk tangan manusia yang lebih cekatan daripada jari-jari makhluk Skree yang besar-besar. 

  Kate One Star menjangkaunya, dan dengan trampil membantunya. Melihat semuanya itu,membuat Tom berpikir: "Kalau tamu-tamu luar Bumi mulai berdatangan, banyak barang-barang sehari-hari di Bumi harus dirubah atau disesuaikan lagi!" "Maksudmu, seperti yang dilakukan oleh Amerika pada abad keduapuluh dulu? Ketika mereka mulai membangun jalur landai dan memasang telepon yang lebih rendah bagi para penderita cacad yang berkursi roda?" tanya Anita. 


  "Rupa-rupanya Swift Enterprises sudah mulai merencanakan segala perubahan-perubahan teknis ilu!" sambung Ben menggoda.   "Kita juga harus lebih toleran dan menyesuaikan diri, bila ingin mengunjungi mereka!" Tom menangkis. 


  "Kukira istilah yang paling tepat ialah pan-gallactic," kata Aristotle. 


  Sementara Tom mengamati alat-alat pengendali di depannya, ia juga memikirkan hari-hari mendatang. Manusia adalah salah satu bentuk dari makhluk cerdas yang selalu ada di semua tatasurya. Mungkin ada beberapa yang lebih cerdas, tetapi ada pula beberapa yang kurang. Namun mereka itu adalah bentuk "masyarakat", biar bagaimana pun bentuknya aneh bila dibanding dengan bentuk tubuh manusia Bumi. Kecerdasan adalah suatu ikatan umum antara bangsa-bangsa dan ruang. Buktinya adalah Mok N'Ghai dan makhluk-makhluk lain yang menjadi teman selama mereka menjelajahi ruang angkasa. 


  Tiba-tiba Aristotle memutar tubuhnya dan berkata kepada Tom. "Maaf, aku telah menerima isyarat-isyarat yang sangat mengganggu di layar navigasi. Lebih baik engkau melihatnya sendiri." 


  "Asteroid-asteroid?" 


  "Bukan. Mereka terlalu cepat bergerak dan terlalu…" Robot itu berhenti sejenak untuk menemukan kata-kata yang lebih tepat. "Dan terlalu sengaja menuju ke arah kita." 


  "Sengaja?" tanya Ben. 


  "Ya," jawab Aristotle tegas. "Tetapi komputer utama Exedra tak pernah membuat kesalahan, tidak seperti aku." 


  Tom menaikkan alisnya, tetapi tak berkata apa-apa. Rasa rendah diri Aristotle berakar entah di mana di dalam sirkuit-sirkuitnya yang rumit. Ahli penemu muda itu telah berusaha keras untuk menemukan kekurangan-kekurangan di dalam tubuh robot kesayangannya, tetapi tanpa hasil. 


  "Tangkap pada layar utama! Filter matahari maksimum!" Tom memerintah. 


  Pembicaraan-pembicaraan di anjungan terhenti, sementara semua pandangan mau pun alat-alat sensor terpaku pada sepuluh buah noktah-noktah berpijar yang nampak bergerak pada layar utama.   "Itu adalah kapal-kapal angkasa dalam formasi tempur!" seru Kate One Star. 


  "Dan mereka menuju tepat ke arah kita! Bergerak dengan kecepatan luar biasa!" kata Ben dengan geram.

Comments
0 Comments
Tidak ada komentar:
Write komentar

A single conversation with a wise man is better than ten years of study
Join Our Newsletter